
Napas Cindy naik turun saat berada di hadapan Erka dan Ayleen. Cucu Adam dan Hawa itu terlelap sampai tak terusik dengan kehadirannya.
“Kurang ajar! Ini rupanya alasan Erka menghindariku.” Kedua tangan Cindy terkepal.
Sebagai istri, ia tak bisa diam dan menganggap apa yang dilihatnya saat ini angin lalu. Menikah dengan cinta atau pun tanpa cinta, tak jadi alasan untuk bisa mengkhianati pernikahan. Karena apa? Pernikahan itu bisa terjadi karena Erka secara sadar melamar dan meminta pada kedua orang tuanya. Ikatan mereka sudah disahkan di mata Tuhan dan hukum negara.
Menarik napas dan mengembuskannya berulang-ulang, Cindy berjuang untuk tidak larut di dalam lautan amarah. Kalau menuruti ego, ia akan melabrak sepasang manusia tidak tahu diri detik itu juga.
Namun, wanita itu tak mau gegabah. Ia terlahir dari keluarga beradab, terpelajar, dan tentunya terpandang. Menggunakan cara bar-bar tidak ada di kamus hidupnya. Sejak kecil terbiasa dengan sorotan, ia pintar menjaga nama baiknya supaya tetap baik di mata semua orang.
Kembali ke kamar dan mengambil ponsel keluaran terbaru dengan logo apel sisa gigitan di bagian belakang, Cindy mulai menjalankan rencana yang dirangkainya.
“Aku pastikan keduanya tak akan lolos. Berani main-main denganku!” Cindy berkata pelan, tetapi nadanya terdengar mengerikan.
Kembali ke kamar adik iparnya, Cindy segera mengambil foto suaminya dan Ayleen dari berbagai sisi. Senyum licik bercampur kemarahan tampak jelas di wajah cantiknya.
“Bangun!” seru Cindy, berdiri di hadapan keduanya dengan sikap menantang.
Erka bergeming, demikian juga Ayleen. Keduanya tak terusik sama sekali. Bukannya terjaga, malah pelukan semakin erat.
“Bangun!” teriak Cindy menepuk kaki Erka dengan kencang. “Atau mau aku siram pakai air sebaskom?”
__ADS_1
Tak ada reaksi. Hanya terlihat pergerakan Erka yang terusik dengan tepukan di kakinya, kemudian memejamkan mata kembali.
Plak!
Plak!
Dua pukulan mengenai pundak Erka dan Ayleen, kesabaran Cindy hampir habis.
Erka terkejut, Ayleen mengusap mata. Keduanya saling berpandangan, dan tersentak saat menyadari sedang dalam posisi berpelukan. Tak sampai di situ, suara Cindy membuat jantung kakak adik itu meloncat, refleks keduanya bangkit dan memaksa bangun di tengah kantuk yang masih mendera.
Bola mata Erka membulat sempurna ketika menyadari keberadaan Cindy.
“Baby, Baby, Baby! Berhenti memanggilku Baby! Jelaskan sekarang atau aku akan membangunkan seisi rumah. Aku yakin Hutomo akan terkena serangan jantung, Veronica stroke ringan kalau melihat putra tertuanya tidur bersama putrinya.” Cindy menatap sinis ke arah keduanya.
“Tenang, Baby. Aku bisa jelaskan.”
Belum selesai Erka bersuara, Cindy sudah menyerang dengan pukulan. Pundak, wajah, dada, dan kepala. Erka belum sepenuhnya sadar, hanya bisa menghindar. Tak puas menyerang Erka, Cindy beralih ke Ayleen yang masih mengantuk.
“Perempuan murahan. Apa tidak ada laki-laki lain diajak tidur. Kenapa harus suami. Ersa menganggur, sopir rumah belakang berbaris, security juga menganggur. Kenapa harus suamiku?”
Tangan Cindy sudah melayang di udara siap didaratkan di wajah mulus Ayleen. Namun, Erka sudah bertindak cepat. Mencekal pergelangan tangan istrinya dan mengancam balik.
__ADS_1
“Jangan pernah menyentuh Ayleen. Kamu akan berurusan denganku!” Erka menghempas tangan Cindy dan menggeram. “Masalah ini tak ada hubungannya dengan Ayleen. Kalau mau marah, lampiaskan padaku.”
“Ayo kembali ke kamar, kita bicarakan baik-baik.” Erka menyeret paksa istrinya agar segera keluar. Ia tak mau Ayleen terlibat dengan Cindy.
***
“Lupakan Ayleen! Aku akan menganggap tidak melihat apa-apa malam ini.” Cindy berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.
Erka tersenyum. “Kamu sedang membuat penawaran denganku?”
“Tidak juga.” Cindy mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto yang baru saja diambilnya.
“Lalu?” Erka tampak santai, berjalan menuju ke ranjang dan merebah dengan kedua tangan menahan kepala. Pria itu telentang dan menatap langit-langit kamar.
“Kamu menantangku, Honey?” Cindy terbelalak.
“Aku tidak takut dengan ancamanmu.” Erka mengulum senyuman. Pandangannya tertuju pada sang istri yang kembali dikuasai amarah.
“Aku akan menyebar foto-foto ini di kampus Ayleen. Gadis polos yang berani tidur dengan suami orang. Aku yakin akan jadi berita menarik. Apalagi kalau sampai terendus media. Pangeran Aryyacement terlibat skandal dengan adiknya sendiri. Ckckckck.” Cindy menggeleng.
Sikap tenang Erka menguap, pria itu duduk dengan wajah menegang. “Apa maumu?” Erka menggeram dengan kedua tangan mengepal.
__ADS_1