
Erka tercengang. Pria itu kehabisan kata-kata mendengar informasi yang dibagi mommy-nya. Rasanya ingin menolak percaya, tetapi kalimat demi kalimat terangkai jelas dan itu benar-benar nyata keluar dari bibir Veronica yang.
Alunan kata yang mungkin bagi sebagian orang jadi penghantar kebahagiaan, tetapi seperti genderang perang kedua untuknya setelah sebelumnya sempat ketar-ketir dengan kehadiran Rarendra.
“Kurang ajar!” Erka membatin, menyimpan kemarahan di dalam hati. Menutup rapat perasaan kesal dan kecewa.
Tadinya ia berharap Ersa ikut membantu menjegal rencana Hutomo. Fakta yang sebenarnya malah terjadi tak seperti harapan. Adik laki-lakinya malah membuat kekacauan lebih besar dengan lamaran terang-terangan.
“Apa tidak terlalu dini memutuskan pernikahan Ayleen, Mom. Dia perempuan satu-satunya. Kuliah pun baru beberapa bulan belakangan ini ....”
“Mommy tahu.” Veronica memotong.
Kecemburuan Erka terbaca olehnya. Tentu saja Veronica bisa melihat semua, baik Erka maupun Ersa sama-sama terlahir dari rahimnya, berbagi napas dan kehidupan selama sembilan bulan di kandungan.
Berasal dari benih dan rahim yang sama, wanita berusia melewati setengah abad sampai belum bisa percaya kalau dua putranya pun memiliki minat dan kecintaan pada orang yang sama, yaitu Ayleen Hutomo Putri. Gadis kecil yang diadopsi sejak masih bayi merah karena ditakdirkan jadi yatim piatu tepat saat hadir di dunia.
“Aku menolak karena memikirkan masa depan Ayleen. Aku tahu ... bersamaku hanya akan membuatnya kehilangan masa depan dan impian.”
“Bukan karena tak mencintainya?” tebak Veronica. Keyakinannya tentang perasaan si sulung kian bertambah.
Erka menggeleng tanpa sadar.
__ADS_1
“Ka, kamu mencintai Ayleen?”
Veronica melayangkan pertanyaan lebih terarah. Ia ingin memastikan sendiri apa yang menjadi dugaannya selama ini tak meleset sama sekali.
“Mom?” Erka nyaris tidak percaya.
“Mommy butuh jawaban, Ka. Ini penting untuk Mommy menentukan sikap ke depannya.” Veronica menunggu jawaban. Duduk di seberang putranya, ia bisa menatap setiap pergerakan Erka.
“Tidak perlu menjawab, bahasa tubuh dan matamu sudah memberiku jawaban, Ka.” Veronica membatin. Dipandanginya sang putra lekat-lekat.
“Kalau mencintainya, kenapa menolak, Ka?” Kalimat menyudutkan tanpa memberi kesempatan mengelak.
Erka tertunduk. Tak sanggup merangkai kata sekadar menyanggah ucapan sang mommy.
“Aku ... aku ....” Erka bungkam. Tak sanggup berkata-kata saat perasaannya terbaca orang lain.
“Kamu sudah menikah. Enyahkan Ayleen dari hatimu. Keluarkan putriku dari hidupmu. Kamu sudah memutuskan untuk menikahi Cindy. Bertanggung jawablah, Erka. Pernikahan bukan main-main, tapi itu selamanya. Kalian terikat janji di depan Tuhan. Kamu tahu apa artinya itu?” Veronica menekankan.
Erka mengangguk. Kepalanya kian tertunduk, menyembunyikan kecewanya.
“Apa yang telah disatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan. Kecuali oleh kematian. Bertanggung jawablah untuk apa yang telah kamu ucapkan. Itu bukan main-main, Ka.”
__ADS_1
“Ya, Mom.” Suara Erka melemah.
“Jangan khawatir. Mommy dan Daddy pasti membuat keputusan terbaik untuk Ayleen. Yang tidak akan menyakiti semua orang dan tentunya terbaik untuk putriku.”
“Ya, Mom.”
“Fokus pada rumah tanggamu, fokus pada Cindy. Dia istrimu sekarang. Berhenti diam-diam mendatangi kamar putriku. Kamu sudah menikah, Ayleen pun bukan anak kecil. Ada batasannya, Ka.” Veronica menegaskan.
Tak ada jawaban lagi, kedua tangan Erka saling meremas di atas meja. Ia tahu, kesempatannya memperjuangkan Ayleen sudah tidak ada. Petuah Veronica adalah jawaban.
“Mom, aku mencintai Ayleen.” Erka memberanikan diri berterus terang. “Aku baru menyadarinya belakangan ini. Di saat Ayleen menjauh dariku setelah aku membawa pulang Cindy.”
Veronica tersenyum. “Sudah terlambat. Kamu sudah menikah. Mommy sudah mencoret namamu dari daftar menantuku.” Pernyataan berbalut canda itu membuat Erka semakin dilanda penyesalan.
“Lupakan Ayleen, Ka. Cindy istrimu.” Veronica bangkit dari duduknya. “Mommy harus menemui Daddy sebelum pulang.”
Erka hanya bisa menatap punggung mommy-nya menghilang dari balik pintu. Kalau ada sesal yang dirasakannya, saat ini adalah jawaban. Keputusan membuang Ayleen dari kehidupannya, menyisakan penyesalan mendalam. Pria itu tertunduk lagi, berpasrah pada jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
***
Kemungkinan aku akan slow update di sini, karena salah satu karyaku di lapak ijo dipinang. Doakan semuanya lancar, bagi yang berminat memeluk salah satu karya casanova bisa menabung sisa uang belanja mulai dari sekarang dan follow ig-ku. casanova_wety.s.hartanto untuk informasi selanjutnya.
__ADS_1
Yang nanya judul : Diadra ( Kesalahan Satu Malam ). Pasti ingat Diadra dong, gadis kecil keponakannya Om Pram yang menikah dengan Wiraguna ( musuhnya Om Pram dan Kailla )