Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 35


__ADS_3

Menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, Hutomo dan Veronica akhirnya tiba ke ibu kota saat rembulan merangkak naik. Langsung menuju rumah sakit bersalin di mana Cindy tengah berjuang melahirkan cucu pertama Hutomo putra, keduanya sudah tak sabar. Detik-detik penting di dalam hidup mereka, menjemput gelar baru setelah kelahiran bayi mungil dari putra tertua.


Veronica tampak berdiri di lobi sembari menempelkan ponsel di telinga sejak tadi. Erka tak bisa dihubungi, entah ke mana pria itu pergi.


“Masih belum?” Hutomo berjalan dengan sebelah tangan bertumpu pada tongkat kayu. Fisiknya menurun belakangan ini, tak bisa segagah dulu lagi.


“Belum. Entah ke mana anak itu. Istrinya mau melahirkan dan dia tak menerima panggilan.” Veronica mengeluh.


“Tapi, dia tahu kita ke sini, kan?” Hutomo memastikan.


“Tahu. Di panggilan terakhirnya sudah aku katakan kalau kita dalam perjalanan.”


Wajah wanita tua itu terlihat resah. Ia bingung, tak tahu harus berbuat apa. Berangkat dari Bandung dengan sopir dan seorang asisten, keduanya seperti ayam kehilangan induk.


“Coba hubungi Ersa. Mungkin anak itu bisa membantu.” Hutomo mengusulkan. Dengan dibantu asisten pribadinya, ia berjalan masuk dengan tertatih-tatih. Kakinya kram karena terlalu lama duduk di dalam mobil.


Veronica menurut. Memilih menghubungi putra keduanya, wanita itu berjalan mengekor di belakang suaminya yang sudah masuk lebih dulu.


Nada sambung terdengar tak terlalu lama, suara Ersa sudah menjawab dari ujung panggilan.

__ADS_1


“Mom, ada apa?”


“Kakakmu di mana? Sejak tadi Mommy menghubunginya.” Veronica mengeluh.


“Kak Erka keluar kota.”


“Hah! Istrinya melahirkan dan dia memilih keluar kota?” Veronica terbelalak. Terkejut membuat kakinya berhenti melangkah.


Hutomo dan asisten yang berjalan di depan ikut berhenti dan menoleh ke sumber suara. Veronica setengah berteriak dan menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya.


“Ada apa?” Hutomo bertanya.


Veronica menggeleng.


“Aku dan asisten Kak Erka, Mom.” Ersa menjawab santai.


“Ya sudah, ini di kamar berapa? Mommy dan Daddy sudah di lobi. Tidak tahu mau ke mana. Minta asisten Erka untuk menjemput kami di sini.” Veronica memerintah dan memutuskan panggilannya.


☆☆☆

__ADS_1


Suasana kamar perawatan itu hening, Cindy tengah beristirahat setelah melahirkan putri pertamanya yang lahir dua jam yang lalu. Wanita itu tampak pucat, berbaring dengan kedua mata terpejam rapat.


Tampak Ersa dan asisten Erka duduk di sofa sembari memainkan ponsel saat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar perawatan.


“Mana Kakakmu?” Veronika bertanya dengan wajah kesal. Wajah bertekuk menyimpan kesal itu tak jauh beda dengan Hutomo. Dipandanginya sang menantu dari kejauhan.


Ersa menggeleng. “Tadi hanya mengantar ke rumah sakit. Katanya ada urusan di luar kota, Mom. Asistennya tadi menghubungiku.”


“Di mana atasanmu? Kenapa bisa lepas tanggung jawab begini?” Veronica berusaha meredam amarahnya. Ia tak mau kemarahannya sampai mengganggu istirahat menantunya.


“Ada pekerjaan di luar kota, Nyonya.” Pria yang diperkirakan berusia kepala tiga itu bersuara. Tak berani menatap, ia menunduk sejak awal kedatangan Hutomo dan Veronica.


“Pekerjaan apa yang lebih penting selain menemani istri melahirkan. Anak itu!” Hutomo menggeram kesal. Terlihat ia mengempaskan tubuh di sofa, merenggangkan otot-otot kakinya.


“Maaf, Tuan. Pak Erka tidak berpesan apa pun. Hanya meminta aku menjaga Bu Cindy di sini.” Asisten itu dilanda ketakutan. Jujur, ia bingung harus menjawab apa. Pria itu takut salah menjawab dan membuat semuanya berantakan.


Veronica hanya bisa mengelus dada, berjalan mendekati Cindy, wanita itu memilih duduk di sisi brankar.


“Lahir normal atau caesar?” Veronica mencari tahu.

__ADS_1


“Normal. Prosesnya cepat, saat aku datang ... bayinya sudah keluar. Dia yang menunggu di depan kamar bersalin.” Ersa menunjuk ke arah asisten yang terus menunduk.


Kembali Veronica mendengus kesal. “Rumah tangga apa-apaan ini?” keluhnya. Kekesalannya pada Erka belum hilang sama sekali. Semakin diingat, makin meradang.


__ADS_2