Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 53


__ADS_3

“Apa yang terjadi?”


“Kita harus ke Jakarta, Mom. Erka baru saja menghubungiku, ada sedikit masalah di Jakarta.”


“Hah! Apa-apaan ini? Kami baru saja tiba, penat saja belum hilang. Bagaimana bisa meminta kami ke Jakarta lagi. Pinggangku masih ngilu karena perjalanan jauh.” Ada nada penolakan di dalam nada bicara Hutomo.


“Dad, aku mohon. Kalau Kak Erka meminta kita ke Jakarta, artinya ada hal penting yang tak bisa diabaikan.” Ersa menjelaskan dengan sabar.


“Tapi, apa ....”


Hutomo berhenti bicara saat Veronica merengkuh lengannya. Wanita itu terlihat menggeleng dan meminta suaminya berhenti berdebat. 


“Selama ini Erka tak pernah seperti ini. Sampai dia meminta kita ke Jakarta, berarti memang ada sesuatu.” 


“Tapi, harusnya anak itu menjelaskan agar kita para manula ini tidak bingung. Memangnya kita peramal, bisa membaca setiap kejadian.” Hutomo menggerutu. 


“Sudahlah, sebaiknya berdoa saja. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Entah kenapa ... perasaanku tidak enak.” Veronica menumpahkan isi hatinya.


“Mom, bersiap. Aku harus memberitahu Ayleen. Sepertinya dia juga harus ikut ke Jakarta.”

__ADS_1


“Hah!” Kali ini Veronica ganti terkejut. “Apa ada masalah serius?” 


Tak ada jawaban, Ersa hanya mengangguk dan memaksa bibirnya tersenyum. Tak mungkin berterus terang sekarang, tetapi tak bisa menyembunyikan terlalu lama. Kehadiran Ayleen akan membantu menenangkan kedua orang tuanya dan untuk itu ia memutuskan memboyong serta gadis itu turut serta selain untuk kepentingannya sendiri.


“Sa, jawab Mommy.” Veronica menatap putra keduanya berlari masuk ke dalam rumah.


...♡♡♡...


Hari masih pagi, matahari belum menampakkan wujudnya di sudut timur cakrawala. Ersa berdiri di depan pintu kamar Ayleen, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Kalau sebelumnya ia panik karena berita yang disampaikan Erka, kini ia gugup karena harus masuk tanpa permisi ke dalam kamar adiknya sendiri.


Dulu, saat rasa ini belum dikenali, Ersa bisa melenggang santai saat berduaan dengan Ayleen. Tak jarang keduanya mengobrol sampai larut dan tidur satu ranjang tanpa sadar. 


“Leen, aku masuk, ya.”  


Mendorong pelan pintu kamar yang tak terkunci, Ersa disambut keremangan. Ayleem masih bergelung di balik selimut tebal, menikmati semburan hawa dingin dari pendingin ruangan. Ditambah lampu tidur menguning membuat suasana nyaman dan lelap empunya kian dalam.


“Leen, bangun.” Ersa berdiri kaku di sisi tempat tidur. Dipandanginya gadis cantik yang bergulung di dalam kain tebal, hanya menyisakan ujung rambut.


“Leen, ayo bangun. Kita harus ke Jakarta.” Ersa memberanikan diri mengguncang tubuh Ayleen. Tidak terlalu kencang, tetapi sanggup membuat lelap adiknya terusik.

__ADS_1


“Kak Ersa, ada apa?” Suara Ayleen terdengar serak. Matanya mengerjap untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya bukan mimpi.


“Leen, kita perlu bicara.”


“Ada apa, Kak?” Ayleen menutup mulut dan menguap beberapa kali sebelum menarik tubuhnya, bersandar di atas tempat tidur.


“Bersiaplah, kita harus ke Jakarta.” Ersa memulai pembicaraan. 


“Ada apa?” Ayleen mengernyit. Tampak ia menarik selimut dan mendekapnya untuk menutupi gaun tidur tipisnya.


“Nanti aku ceritakan. Bersiaplah, Daddy dan Mommy juga ikut.”


Bola mata Ayleen membulat. “Ada apa, Kak? Apa terjadi sesuatu di Jakarta?”


“Nanti aku ceritakan di jalan. Bersiaplah, Leen.” Ersa tiba-tiba duduk di sisi ranjang, mengulurkan tangan dan menyusup di leher Ayleen yang tertutup rambut panjang.


“Nanti semobil denganku. Biarkan Daddy dan Mommy bersama sopir. Aku akan ceritakan semuanya padamu.” 


“Ya, Kak.” 

__ADS_1


__ADS_2