
Ersa membanting pintu ruang kerja dengan kencang. Untuk pertama kali pria muda itu dikuasai amarah saat berbicara dengan mommy-nya sendiri. Ia tak peduli lagi, semua mengesalkan dan yang paling membuatnya tak bisa berkata-kata adalah saat Veronica menolak tanpa memberi penjelasan yang masuk akal.
“Sepertinya Ayleen hanya diciptakan untuk Kak Erka. Padahal Mommy sudah mendengar sendiri kalau Kak Erka juga sudah menolak. Untuk apa lagi memaksa!” gerutu Ersa.
Langkah lebar-lebar itu menekan lantai lebih kencang dari biasa. Suara entak sepatu ketika membentur lantai marmer impor menciptakan harmoni memecah pagi. Amarah pria muda itu baru mereda kala tanpa sengaja melihat Ayleen yang kini duduk di kursi taman sembari memangku bayi Dayana.
“Leen.” Senyum pertama terbit di tengah hati dikuasai amarah.
“Kak Ersa.” Ayleen bisa merasakan usapan lembut di pucuk kepala menandakan cinta yang luar biasa.
“Kenapa Dayana dijadikan ikan asin?” Ersa tergelak saat mendapati kulit keponakannya memerah. Bayi mungil itu menggeliat sesekali.
Mendekatkan wajahnya di telinga Ayleen, Ersa mengirim kalimat yang membuat gadis itu bersemu merah.
“Nanti aku buatkan satu untukmu. Kamu bebas menjemurnya sampai kering.” Dagu lancipnya bertumpu di ubun-ubun Ayleen selepas membisikkan kalimat-kalimat gombalan yang tak biasa untuk ukuran dirinya sendiri. Sebuah kecupan pun menyempurnakan pagi sebelum akhirnya pria itu berpamitan ke kantor.
“Aku berangkat ke kantor, Leen.”
“Ya, Kak.” Ayleen menggenggam tangan mungil Dayana dan menggerakkannya, seolah melambaikan tangan pada sang paman kecil.
__ADS_1
●●●
Gedung bertingkat tempat di mana bisnis keluarga Hutomo dikendalikan sudah mulai dipenuhi para karyawan dan petinggi perusahaan. Salah satu perusahaan semen terkemuka di nusantara itu menjadi pilihan banyak developer, perusahaan konstruksi hingga pemilik toko bangunan beberapa tahun terakhir.
Banyaknya permintaan akan kebutuhan semen di pasaran membuat kerajaan bisnis itu kian menggurita. Dari pabrik yang hanya terhitung jari, kini perusahaan yang dikelola kakak adik Hutomo itu memiliki puluhan pabrik yang tersebar di seluruh kota besar Indonesia.
Setengah berlari, Ersa yang tiba sedikit terlambat dari biasanya itu bergegas menuju ke ruangan pimpinan. Ia merasa harus bicara empat mata dengan kakaknya untuk membahas Ayleen. Entah kenapa, walau pria yang berusia beberapa tahun darinya itu sudah mengeluarkan pernyataan menolak, ia tetap waswas.
Brak.
Pintu dibuka paksa, Erka tersentak. Pria dengan setelan hitam pekat itu masih tampak berduka. Duduk dengan kedua tangan menjalin di atas meja, bola mata berkaca-kaca.
“Ada apa?”
“Begini, Ka. Ini mengenai ....”
“Kalau yang dibahas Ayleen, bicarakan pada Daddy dan Mommy. Aku sudah menyatakan sikapku. Kamu dengar sendiri, kan?” Erka memotong.
“Ya, tapi aku harus memastikan lagi kalau kamu benar-benar mundur.”
__ADS_1
“Sudah. Aku memang tidak pernah maju sejak menikah dengan Cindy, kan? Bahkan, aku memutuskan tak kembali ke Bandung beberapa bulan terakhir.”
“Tapi, kamu mencintainya. Masih mencintainya, Ka.”
“Itu urusanku. Cinta atau tidak, biar menjadi urusanku.” Erka menegaskan.
Ersa tersenyum simpul. Dua titik di dekat sudut bibirnya tampak memesona. Ketampanan yang dimiliki pun semakin muncul ke permukaan.
“Aku hanya ingin memastikan. Kamu tahu sendiri bagaimana Mommy. Bukan sekarang, sejak sebelum ada Kak Cindy pun ... kamu adalah pilihan utama, bukan aku.” Ersa mengadu.
“Itu bagaimana kamu bisa mencuri hati Mommy dan Ayleen dalam waktu bersamaan. Sudah, aku rasa pembahasan kita ini tak ada gunanya. Keluarlah! Aku masih banyak pekerjaan.” Erka menunjuk setumpuk dokumen di pinggir meja kerjanya.
“Aku hanya memastikan, Ka.”
“Bergerak saja. Jangan sampai disalip orang lain, Ka. Jujur saja, kalau Ayleen menyodorkan diri padaku, sebagai laki-laki ... sulit untukku menolak.” Erka tergelak saat mendapati raut wajah adiknya berubah.
“Jangan macam-macam kalau tidak ingin berhadapan denganku. Berani menyentuh Ayleen, kamu akan berhadapan denganku. Aku pastikan akan membunuhmu sampai itu terjadi.”
Ersa tidak main- main. Cintanya pada Ayleen sudah setahap lebih maju. Ia serius ingin membawa adiknya ke pernikahan. Sejak Veronica mengungkapkan keinginan untuk menjodohkan gadis 19 tahun itu, perasaannya pun menjadi terang benderang.
__ADS_1