Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 58


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Erka. Kediaman yang ramai dengan keluarga dan kerabat dekat itu terasa hampa. Kesedihan masih hinggap pada semua orang, apalagi saat bayi Dayana menjerit kencang dan rewel di saat kelaparan.


Ayleen sedang memainkan ponsel di sofa ruang keluarga senja itu. Beberapa hari ini sibuk bolak-balik mengikuti berbagai prosesi dari  rumah duka sampai pemakaman dan kini baru bisa mengistirahatkan tubuhnya.


Bersandar manja di bahu Ersa, Ayleen meluruskan kakinya di atas sofa. Sang kakak beda lagi, kedua kaki terangkat di meja, putra kedua Hutomo putra itu terlihat sibuk membaca email masuk di laptop yang sedang dipangkunya.


“Leen, aku sedang serius.” Ersa menahan kepala Ayleen yang melorot turun dari pundak dan hampir mengenai laptop di pangkuannya.


“Ooops, maaf Kak Ersa. Aku sedang serius.” Ayleen tersenyum malu-malu dan kembali bersandar manja di bahu kakaknya.


“Kapan pulang ke Bandung?” Jemari dan mata Ersa masih fokus di layar laptop.


“Tergantung Mommy. Kenapa?” Ayleen berbalik dan menegakkan duduk.


“Tidak perlu pulang. Tinggal di sini bersamaku.” Ersa mengedipkan matanya dan menutup laptopnya.


“Masalah kamarmu yang sekarang dipakai Dayana ... jangan khawatir. Aku tidak keberatan berbagi kamar denganmu,” ungkap Ersa, menahan senyuman.


Ayleen terbelalak. Merapikan posisi duduknya, ia meneliti Ersa. Ditatapnya pria muda dengan paras tampan setara aktor Korea itu tak percaya.


“Syaratnya menikah denganku.” Ersa berbisik lagi. “Masalah bayi, nanti-nanti setelah wisuda, aku tak masalah. Bagaimana?” tawar Ersa lagi.

__ADS_1


“Aku belum tahu, Kak.” Ayleen menggeleng.


Di tengah obrolan, terdengar suara tangis bayi perempuan.


“Dayana, Kak.” Ayleen berlari ke kamar untuk memastikan apa yang telah terjadi pada keponakannya. 


Ersa hanya bisa menggeleng. Pria itu mulai membaca gelagat tak beres kedua orang tuanya beberapa hari ini, terutama Veronica. Setiap Ayleen bersama dengan Dayana terlihat ada pengharapan dari kilat mata wanita tua itu.


Tak lama, Ayleen sudah keluar bersama bayi berteriak di dalam dekapan. Tangis Dayana tak berhenti walau sudah ditimang pelan.


“Kenapa lagi?” Ersa menatap Ayleen yang tampak keibuan dengan bayi di tangan. Menyusul di belakang, pengasuh dengan sebotol susu.


“Sudah cocok punya anak sendiri. Kalau mau, nanti aku buatkan satu untukmu.” 


Godaan Ersa yang membuat wajah Ayleen bersemu merah. Tak biasanya pria muda itu mengucapkan kata-kata rayuan yang menggelikan.


...♡♡♡...


“Bagaimana menurutmu?” Veronica sedang berbincang bersama suaminya di atas tempat tidur. Kegiatan rutin yang biasa pasangan lanjut usia itu lakukan sebelum memejamkan mata dan beristirahat malam.


Beberapa hari ini mereka melewatkah hari-hari yang panjang. Lelah itu baru terasa setelah acara pemakaman selesai. Semua beban yang selama ini tak tersampaikan, bisa ditumpahkan.

__ADS_1


“Bagaimana apanya?” Hutomo menarik selimut. “Kecilkan AC-nya. Ini dingin sekali.


Veronica menurut. Meraih remote dan mengontrol suhu ruangan dari benda kecil pipih itu.


“Mengenai Ayleen dan Erka.”


Hutomo menggeleng. Berbalik badan dan tidur membelakangi istrinya. Ia kesal diajak bicara tidak berfaedah seperti ini. Mereka baru saja kehilangan menantu dan kini istrinya mulai membahas menantu baru di saat tanah makam masih basah.


“Sayang, apa sebaiknya kita teruskan saja perjodohan Erka dan Ayleen dulu. Kamu lihat bagaimana Ayleen menimang Dayana. Sorot mata itu keibuan sekali. Aku yakin seyakin yakinnya kalau putri bungsu kita adalah calon ibu sambung yang tepat."


“Jangan gila. Aku sudah cukup gila dengan semua ini. Dan kamu menambahnya lagi. Tidur, jangan berpikir aneh!” titah Hutomo.


“Coba pikirkan. Bagaimana nasib Dayana tanpa ibu. Andai suatu saat Erka menikah lagi, apa istrinya akan menerima Dayana seperti anak sendiri?”


Hutomo berbalik dan mendengus kesal. “Itu masih nanti-nanti. Sebaiknya kamu pikirkan saja ... apa malam ini cucumu serewel malam-malam sebelumnya. Kalau memang tak mau begadang sepanjang malam, sebaiknya tidur sekarang sebelum jam mengamuk Dayana tiba.”


***


Hai-hai, aku mau promo karya temanku. Yang suka Om-Om bisa mampir ya.


__ADS_1


__ADS_2