
“Perusahaan dan nama baik keluarga kita ada di tanganmu dan Erka. Kalian yang akan mewarisi aset penting dan perusahaan. Dan yang tak kalah penting adalah tugas mendidik anak-anak kalian yang lahir istimewa. Kalian harus bisa mengajarkan mereka, jangan sampai gagal. Mereka yang akan meneruskan apa yang sudah kita capai hari ini.”
“Ya, Mom.”
“Terlahir di keluarga biasa dan keluarga bergelimang harta sama berat bebannya, Leen. Memiliki kesulitan masing-masing.”
Ayleen mengangguk.
“Aku tahu perjuanganmu lebih berat dariku. Saat kamu dan Erka gagal, seluruh dunia akan mencemooh kalian karena telah berhasil menghancurkan apa yang sudah ada. Saat berhasil pun akan ada selentingan di luar sana yang meragukan kemampuan kalian. Berjuang, Sayang. Tunjukkan pada kami, pada anak-anak kalian nanti, pada dunia ... kalian juga bisa.” Veronica mengecup kening Ayleen dan tersenyum.
Wanita berusia senja itu bisa bernapas lega saat isi hatinya tercurahkan. Satu dari sekian alasan kenapa memilih Ayleen menjadi menantu utama keluarga. Artinya nanti Ayleen harus bisa menjadi panutan istri Erka.
“Bersiaplah. Kenali Erka lebih dalam lagi. Kalau tadi Mommy katakan Ersa terluka, Erka juga sama terlukanya. Kehilangan Cindy juga guncangan berat untuknya.”
“Ya, Mom.”
“Mommy harap kamu bisa menyembuhkan lukanya. Dia berubah dingin dan yang terpenting ... cintai dan sayangi Erka. Mommy titip Erka padamu, Nak.”
Ayleen mengangguk dan memeluk Veronica dengan erat. Ia tak tahu jalan apa yang ada di depan mata. Saat ini fokusnya hanya pada Dayana. Bayi itu membutuhkannya dan gadis itu berharap bisa seperti Mommy yang bisa tulus menyayangi walau bukan terlahir dari rahim sendiri.
__ADS_1
...●●●...
Hari sudah menunjukkan pukul 12.15 siang sewaktu Ayleen turun dari Alphard hitam di depan lobi kantor. Diantar sopir keluarga mereka, gadis itu menenteng dua tas bekal. Satu untuk Erka dan yang lain untuk Ersa.
Dadanya bergemuruh kala berdiri di depan ruang kerja Ersa. Ia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan setelah melukai hati pria baik itu. Membulatkan tekad, Ayleen mengetuk pintu kayu bercat putih di depannya.
“Kak, ini aku Ayleen. Mommy memintaku membawakan makan siang untukmu.”
“Apa Kak Ersa sedang keluar, ya?”
Hening, tak ada jawaban. Ayleen baru akan berbalik pergi saat pintu terbuka dan sebuah tangan menariknya masuk dengan paksa. Gadis itu baru akan menjerit tetapi mulutnya dibungkam dengan paksa.
Ayleen bersandar di pintu yang kini tertutup rapat dengan Ersa mengunci dengan kedua tangan, mengurung di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu.
“Mommy memintaku mengantarkan makan siang untukmu.” Suara Ayleen datar. Ketakutan masih jelas terlihat, Ersa mengejutkannya.
Ersa menurunkan pandangan, ditelitinya kedua tangan Ayleen yang penuh dengan muatan. Ada dua tas bekal berbeda warna.
“Satu untukku dan yang lain untuk Erka?” tebak Ersa.
__ADS_1
“Ya.” Ayleen mengangguk.
“Antar untuk Erka saja dulu, setelah itu baru ke sini lagi,” titah Ersa.
“Tapi, Kak ....”
“Antar ke tempat Erka dulu. Nanti kembali ke sini lagi.” Ersa kembali ke kursi kebesarannya yang empuk.
Ayleen melotot. Kesal dan bingung dipermainkan Ersa. Ia sengaja mengantar ke tempat Ersa lebih dulu supaya ada waktu menemani Erka seperti pesan Veronica.
“Kak, aku letakkan di meja saja. Selamat menikmati.” Ayleen berbalik dan bergegas menuju ke pintu.
“Leen, jangan begitu.” Ersa buru-buru menyusul. Dicekalnya pergelangan tangan Ayleen dengan erat. “Leen, nanti kembali lagi, ya. Temani aku makan siang.” Ersa memeluk adiknya dari belakang.
Ayleen tak peduli, tetap berusaha keluar. Namun, baru saja menggenggam pegangan pintu, tiba-tiba daun pintu itu terdorong dari luar. Gadis yang sedang berada di dalam dekapan Ersa itu harus mundur beberapa langkah agar tidak menghantam tubuhnya.
“Sa ....”
...●●●...
__ADS_1
...Siapa yang masuk, ya?...