
“Leen, aku mau makan sekarang,” pinta Erka dengan suara mendayu. Kemanjaan yang tak pernah ditunjukkannya belakangan ini.
Ayleen tak banyak bertanya, diam-diam ia sudah menyiapkan permintaan Erka. Sedangkan Ersa memilih pergi sembari menikmati luka yang kini menganga lagi.
Menyantap makan siang tanpa banyak bicara, Ayleen memilih duduk menjauh sembari memainkan ponsel. Sesekali gadis itu melirik ke arah pemilik ruangan yang juga sama bungkam dengan dirinya.
Entahlah, setelah persetujuan yang keluar dari bibirnya, Erka tak lagi banyak bicara. Pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi seperti main-main saja. Tak ada pembahasan lagi setelah hari itu.
“Leen, aku masih ada rapat, tunggu aku di sini. Nanti, pulang ke rumah bersamaku.” Erka tiba-tiba bersuara. Makan siang yang disajikan sudah habis hingga tak bersisa. Tampak pria itu berjalan keluar meninggalkan ruangan tanpa berkata-kata lagi.
Ayleen mendengus begitu pintu ruangan tertutup rapat. “Dia aneh. Dulu selalu bersikap manis kalau bertemu, bahkan saat Kak Cindy melahirkan dia masih sempat ke Bandung menemuiku walau katanya urusan pekerjaan. Tapi, kini mendadak dingin ....” Gadis itu mengoceh.
Di saat tertinggal ia sendiri di ruangan, keberanian Ayleen mendadak muncul. Ia tentu hafal dengan ruangan ini. Dulu, Daddy yang menempatinya sebelum memutuskan pensiun dan menyerahkan tampuk pimpinan pada Erka.
Diusapnya meja kerja peninggalan Daddy yang kokoh.
__ADS_1
“Semua masih sama.” Ayleen berkata pelan sembari mengempaskan bokong di kursi yang tadi diduduki Erka. Kedua tangan menjalin di atas meja, ia mulai berdrama.
“Erick, tolong disiapkan berkasnya!” Ayleen bicara sendiri, berlagak menjadi pimpinan perusahaan. Suaranya sengaja dibuat rendah, meniru gaya Erka saat memerintah.
Tak lama gadis itu tergelak dan menutup mulutnya saat sadar akan keusilannya. “Bukannya Mommy berkata aku harus belajar. Ini adalah bagian dari pelajaran.” Ayleen terkikik sendiri.
Puas berdrama, ia mulai tertarik dengan semua isi meja Erka. Rapi, dengan setumpuk berkas di tepi meja. Sebuah laptop dan tablet tergelak di sisi kiri dan telepon di bagian lainnya.
“Dia pria yang rapi ternyata.” Tanpa sengaja menarik laci di meja kerja Erka. Entah kenapa, dari sekian banyak barang, gadis cantik itu tertarik dengan sebuah amplop.
“Surat penting, kah? Tapi, kalau penting pasti tidak diletakkan di dalam laci. Ini pasti surat ....” Sebuah kertas putih terlipat rapi mendadak keluar dari amplop.
“Surat siapa ini?”
Sempat ragu-ragu, tetapi jiwa ingin tahunya bergejolak mengalahkan etika. Jemari tangan Ayleen dengan lincah membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca rangkaian kata yang ditorehkan dengan tinta hitam.
__ADS_1
Butuh beberapa menit untuknya memahami isi surat sampai akhirnya menitikkan air mata.
“Kak Cindy ....”
Tangis Ayleen tak terbendung, air mata itu keluar terus-menerus ketika mengulang kata demi kata menyedihkan yang ditulis mendiang kakak iparnya di hari terakhir sebelum kematian menjemput.
“Kak Cindy.” Ayleen terisak. “Kak Erka berbohong pada semua orang, Kak Cindy bukan meninggal karena ....”
Brak!
Kalimat Ayllen tak terselesaikan, gadis itu terkejut saat pintu dibuka kasar dari luar ruangan. Erka muncul dengan wajah penuh amarah. Entah apa yang terjadi pada pria itu. Terlihat di belakang, Erick meneriaki atasannya dengan nada panik.
“Ka, jangan begitu!”
“Ka, jangan sampai lepas kontrol!” Pria itu panik, berusaha menarik Erka keluar.
__ADS_1