Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 19


__ADS_3

“Kenapa tidak menolak kalau memang keberatan?” Ersa membuka suara saat menyusul Ayleen di balkon lantai dua kediamannya.


Waktu hampir tengah malam, semua orang sudah bergelung di balik selimut. Hanya tinggal mereka berdua yang terjaga.


“Kak Ersa.” Ayleen tersentak dan berbalik.


“Hmm.” Ersa bergumam pelan, mengatur posisi berdirinya tepat di sebelah Ayleen. Kedua tangan pria muda itu terselip di balik saku celana jogger-nya.


Berdua dengan Ayleen, menatap keindahan rembulan yang berpendar keemasan. Bulat sempurna, sesekali purnama itu bersembunyi di balik awan, tetapi tak lama menyembul dan memancar terang. Ersa bisa melihat cahaya menguning itu menerpa wajah cantik adiknya.


“Aku tidak bisa menolak, Kak Ersa. Mommy memintaku ikut. Lagi pula, aku tidak punya alasan untuk tidak ikut.” Ayleen masih memandang ke langit malam dan mencoba menghitung bintang.


“Aku akan bicara pada Mommy kalau memang kamu keberatan.” Ersa memberi ide.


Perasaan iba muncul tepat saat pandangannya bertabrakan dengan rona kesedihan Ayleen di ruang makan, tepat setelah Hutomo memberi pernyataan. Namun, ia tak bisa mencegah tanpa meminta persetujuan sang adik. Tentu ia harus bicara untuk memastikan perasaan gadis manis pembawa keceriaan di keluarga Hutomo.

__ADS_1


Ayleen menggeleng lemah.


“Kalau memang kamu keberatan, aku serius akan membantumu, Leen. Aku mau melihat senyuman di wajah adikku, bukan kesedihan.” Ersa merengkuh pundak Ayleen agar mendekat padanya.


“Aku tidak apa-apa, Kak. Aku sudah berjanji pada Daddy dan Mommy kalau aku akan menemani keduanya di Bandung. Kalau Kak Erka dan Kak Ersa di Jakarta, lalu aku juga di sini. Siapa yang akan menemani Daddy dan Mommy nanti. Kalau terjadi sesuatu pada mereka, siapa yang akan bertanggung jawab.”


Ayleen menunduk. Ia tak tega membiarkan pasangan lansia itu menua sendirian. Ia berhutang banyak, mungkin ini adalah salah satu membalasnya.


“Jangan sedih, Leen. Kalau kamu keberatan, pindah ke Bandung. Aku akan bicara pada Mommy. Kalau perlu, aku akan menyampaikan pada Daddy secara langsung.”


“Ya, Kak. Aku baik-baik saja. Aku sudah memantapkan hatiku untuk menjaga Daddy dan Mommy.” Ayleen memaksa diri untuk mengulas senyuman di bibirnya. Ia terpaksa, tetapi tak punya jalan lain selain menerima.


“Ya.”


Ayleen baru saja bergerak saat Ersa meraih pergelangan tangannya. Dalam sekejap, ia sudah berada di dalam dekapan sang kakak.

__ADS_1


“Baik-baik di Bandung. Aku akan sering pulang mengunjungi kalian. Jangan nakal.” Ersa menghadiahkan kecupan di pelipis kiri adik perempuannya kemudian mengacak rambut berantakan Ayleen yang tersapu angin malam.


“Ya, Kak.”


“Tidur sekarang. Jangan berani pacaran sebelum kamu mengenalkannya padaku. Ingat itu!” ancam Ersa, sebelum melepaskan. Ia hanya bisa menatap Ayleen bergerak menjauh, meninggalkannya sendirian.


“Aku mencintaimu, Leen. Sejak dulu.” Ersa mengusap wajahnya. Ia berharap, suatu saat Ayleen akan mendengar isi hatinya. Entah kapan itu terjadi, pemuda tampan itu masih menunggu keajaiban. Lamaran dan perasaannya sudah ditolak mentah-mentah oleh Veronica.


***


Langkah kaki Ayleen terasa berat, hati dan otaknya sedang tak sejalan. Menurut hati, tentu saja ia ingin tetap berada di ibu kota. Namun, otaknya memerintah untuk menerima semua permintaan kedua orang tuanya.


Menggenggam knop pintu, Ayleen mengayunkan perlahan sembari mendorong pelan pintu kayu bercat putih tanpa menyadari bahaya tengah mengintai dari dalam kamar.


Kaki Ayleen berhenti melangkah, mulutnya ternganga saat mendapati sosok asing sedang menguasai tempat tidurnya.

__ADS_1


***


Mohon pengertiannya kalau aku tidak bisa up teratur di sini. Selain Erka dan Ayleen, aku juga menulis 3 judul lain yang masih on going dan sedang proses revisi salah satu naskahku. Maaf sekali, kalau up-nya seuprit.


__ADS_2