Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 7


__ADS_3

Setelah melewati berbagai macam proses, dari tunangan, lamaran hingga akhirnya hari pernikahan itu pun tiba. Semua anggota keluarga Hutomo sibuk mempersiapkan diri masing-masing.


Para wanita berlomba-lomba merias diri dibantu oleh MUA kenamaan ibu kota agar bisa tampil sempurna. Para pria sibuk mematut diri di depan cermin dalam balutan jas desainer kenamaan yang sudah jadi langganan keluarga.


Demikian juga dengan sang calon pengantin pria, Erka sejak semalam tak kelihatan keluar kamar. Pria itu tengah menikmati detik-detik masa lajangnya yang akan berakhir dalam hitungan jam.


Berbaring memandang langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh. Sedetik lagi, semuanya usai. Ia akan terikat seumur hidup dengan Cindy. Salah satu wanita yang menghangatkan ranjangnya selama ini. Ya, salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah tidur dengannya. Ia hanya memilih acak dan dianggap layak dari semuanya.


Model papan atas, sosialita berkelas, pebisnis muda, hingga putri konglomerat. Erka hanya memejamkan mata, menunjuk salah satu yang dianggapnya tak terlalu banyak protes dengan segala kegilaannya di saat mereka sudah berumah tangga.


"Ayleen Hutomo Putri," desahnya.


Belakangan ini, bayangan Ayleen menghancurkan konsentrasi. Ia sendiri tak bisa menemukan jawaban dari kegelisahannya. Sejak sang mommy mengutarakan ide gila tentang perjodohan, semuanya kegusaran ini berawal.


Siang malam, bayangan Ayleen mengganggunya dengan lancang. Ia tak bisa bekerja di kantor dan menikmati malam-malam panjangnya bersama banyak wanita lagi. Adik kecilnya yang masih polos selalu membayang.


"Dia membuatku gila!"


Erka berjuang mengenyahkannya.


"Dia adik kecilku." Pria itu menggeram, tangan kiri terkepal dan mengetuk dahinya sendiri.


"Semakin dia menghindariku, aku makin penasaran dengan perasaanku sendiri. Ini benar-benar gila!"

__ADS_1


"Aaarrrh!"


Erka meremas rambut yang sudah disisir rapi, menghancurkan penampilan sempurna calon pengantin pria.


Bersamaan dengan suara parau yang keluar dari bibirnya, ia menangkap bunyi ketukan pelan di pintu kamar.


"Kak."


Sayup-sayup suara manja mendayu terdengar dari balik pintu.


"Aku sudah gila. Kalau tidak cepat menikah, Ayleen akan muncul di mana-mana. Ini karena ide gila Mommy."


"Kak." Ketukan kedua kembali menggema. Suara feminin itu terdengar semakin jelas.


Manisnya bibir sang adik mulai terasa. Erka mengusap belahan bibirnya sendiri. Semakin lama, semua makin nyata.


"Kak, ini aku Ayleen."


Seruan yang menyadarkan Erka kalau semua ini bukan lagi ilusi. Ini nyata, bukan fatamorgana. Kehausan akan sosok Ayleen yang belakangan ini hilang dari kehidupannya.


"Benar-benar suara Ayleen." Erka membuka mata, menajamkan pendengarannya lagi.


"Siapa?" seru pria berusia kepala tiga itu, masih dalam posisi berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Kak, ini Ayleen. Daddy mencarimu dan meminta menemuinya di ruang kerja."


Deg--


Seringai tipis menghiasi wajah tampan Erka, ia menegakkan duduk, mengatur napas, dan melompat turun dari tempat tidur. Dadanya bergemuruh kala pintu kamar perlahan terbuka. Makhluk cantik dengan gaun indah muncul di ambang pintu dengan senyum manis yang sanggup mengalihkan dunia Aryya Perkassa Hutomo Putra.


"A-ada apa?" Merapikan tuksedo hitam di tubuhnya, Erka terbata-bata bertanya.


"Daddy meminta Kak Erka menemuinya di ruang kerja."


"Leen ...." Suara Erka berubah parau, pandangannya terkunci pada sosok menawan dengan gaun putih panjang menjuntai ke lantai. Model gaun dengan pundak terbuka itu memamerkan bahu seputih ubi kayu.


Tak ada lagi gadis kecil yang menggemaskan, adik kesayangannya menjelma jadi wanita dewasa dalam sekejap. Gaun mahal dan sentuhan make-up membuat Ayleen menjadi sosok lain.


"Kak Erka sudah ditunggu Daddy."


Ayleen berbalik, menarik gaun panjangnya. Namun, ia tersentak saat pergelangan tangannya ditarik dari belakang. Ia terseret masuk ke kamar Erka tanpa sanggup melawan. Kejadian begitu cepat, ia tak sempat berteriak. Hanya bisa pasrah saat tubuh Erka menguncinya di belakang pintu kamar yang sudah tertutup rapat.


"Leen, aku ...." Embusan napas Erka menerpa kulit wajah Ayleen. Gadis itu tersentak saat kedua tangan sang kakak mengunci di pintu jati bercat putih, di sisi kiri dan kanan kepalanya.


"Ya Tuhan, apa akan terulang lagi ...."Ayleen membatin, merapatkan bibir. Kedua tangan terkepal, menjuntai di kiri dan kanan tubuhnya.


...***...

__ADS_1


Mudah2an aku bisa up 1 bab lagi hari ini, jangan lupa komen, like, vote dan gift-nya ya. Love you all.


__ADS_2