
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu kamar mengejutkan Ayleen yang baru saja keluar dari kamar mandi. Seharian ini disibukkan dengan tugas kuliah, gadis itu baru bisa membersihkan diri menjelang makan malam.
“Siapa?”
Senyap, tak ada jawaban dari luar. Ayleen memilih merias diri dan bersiap turun untuk menikmati makan malam. Baru saja gadis itu menjatuhkan tubuhnya di kursi meja rias, tiba-tiba ketukan terdengar lagi.
Tok, tok, tok.
“Siapa?”
Setengah berteriak, gadis berbalut bathrobe itu masih belum rela bangkit untuk mencari tahu.
“Aneh,” dengusnya. Ia memilih memoles mengeringkan rambutnya yang basah.
Namun, pengering rambut baru berteriak nyaring, samar-samar ia kembali mendengar ketukan di pintu.
“Siapa yang begini iseng?” Ayleen menggerutu, melangkahkan kakinya ke pintu untuk memastikan siapa yang telah mengusiknya.
Celah pintu baru terbuka beberapa sentimeter saat Ayleen merasakan dorongan kencang dari arah luar. Tampak Erka menyelinap masuk dengan lancang dan mengagetkan pemilik kamar.
“Kak Erka?” Ayleen tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kakak tertua yang belakangan ini dihindarinya kini muncul di depan mata.
Bruk. Erka menutup pintu kamar dan menguncinya segera.
__ADS_1
“Kak, ada apa?” Ayleen heran. Pria dewasa itu tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawa ia duduk di bibir tempat tidur.
Canggung menyapa keduanya, teringat pertemuan rahasia mereka beberapa minggu lalu dan berakhir dengan pertautan bibir. Jujur saja, sampai saat ini Ayleen masih belum bisa melupakan. Itu ci'uman pertamanya, dan Erka mengambil dengan paksa.
“Leen, mungkin di bawah ada Rarendra.” Erka membuka suara. Pria itu tampak gusar, menatap Ayleen yang duduk di hadapannya.
“Memang kenapa?”
“Daddy sengaja mengundangnya untuk ikut makan malam bersama kita.” Erka menjelaskan perlahan.
Ia menelan saliva saat pandangannya tertuju pada bathrobe yang membungkus tubuh Ayleen tersingkap dan memamerkan kaki mulus adiknya.
Ayleen menggeleng.
“Aku ... aku curiga ... em.” Erka terbata-bata. Pria itu menggeleng kencang. Pikiran kotor tiba-tiba menguasai benaknya, terbayang Ayleen yang tak mengenakan apa-apa di balik handuk kimono.
Ia menggeram. Kedua tangan terkepal, berusaha untuk tak menyentuh adiknya. Bayangan bibir manis itu sedang mengolok-oloknya.
“Kenapa dengan Kaka Rendra?”
“Dia itu pemain wanita.” Erka menjawab singkat.
“Maksudnya, Kak?” Ayleen bingung, merapikan ujung bathrobe saat menyadari pandangan Erka terus tertuju pada kedua kakinya.
“Rarendra itu suka gonta-ganti wanita. Dia tidak pernah benar-benar mencintai. Menganggap wanita itu hanya teman tidur.”
__ADS_1
Ayleen bertambah bingung. “Maksud Kak Erka apa?”
“Ya itu. Hati-hati dengan Rarendra. Dia pemain wanita.”
“Kak Erka aneh. Tidak ada hubungannya denganku. Kak Rendra bukan siapa-siapa. Kenapa menceritakan semua padaku.” Ayleen mengulum senyuman.
“Ada, Leen. Daddy sengaja mengundangnya ke sini untuk menjodohkannya denganmu. Percaya padaku, Leen. Kamu harus menolaknya. Kamu tidak akan bahagia bersamanya. Dia hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya, yaitu mantan kekasihnya yang meninggal kecelakaan beberapa tahun silam. Selain itu, tak ada yang dicintainya.” Erka menjelaskan.
Ayleen hanya menyimak. “Kak Erka aneh. Daddy tidak mungkin menjodohkanku dengannya. Itu hanya ....”
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Tak lama terdengar suara asisten rumah memanggil.
“Non, dipanggil Tuan. Ada tamu mencari Non Ayleen.”
“Ya, Mbak. Aku sedang bersiap.” Ayleen menyahut dari dalam kamar.
“Tuh, apa yang aku katakan benar, kan?” Erka berbisik. “Kamu harus menolak tegas, Leen. Jangan mau dijodohkan dengan Rarendra. Ini sudah abad 21, tidak ada jodoh-jodohan.” Erka membujuk.
“Ya sudah. Kak Erka keluar, aku mau bersiap.” Ayleen bangkit dan mendorong Erka keluar dari kamar.
“Leen, jangan lupa pesanku tadi.” Erka berbalik sebelum keluar dari kamar.
“ Ya, keluar sekarang. Aku mau bersiap.” Ayleen membuka pintu kamar dan mendorong kakaknya keluar.
__ADS_1
Erka bisa bernapas lega setelah berhasil menghasut Ayleen. Sekarang, ia tinggal memanasi Ersa. Ia yakin adiknya itu tak akan rela Ayleen jatuh ke tangan Rarendra.
Tersenyum puas, ia melangkah menuju ke kamar Ersa tanpa tahu seseorang sedang memperhatikannya. Ya, sepasang mata memperhatikannya sejak mengetuk pintu dan menyelinap masuk ke kamar putri bungsu Hutomo Putra.