Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 27


__ADS_3

Kota Bandung membawa banyak perubahan untuk Ayleen. Di kota Kembang ini menata kembali kehidupannya, lepas dari bayang-bayang Erka yang selalu menghantui ketika mereka masih serumah.


Perlahan, ia mulai menemukan irama hidupnya lagi setelah sempat terombang-ambing di antara dua kakak laki-lakinya. Menjalani rutinitas kuliah dan bertemu dengan orang-orang baru.


Enam purnama terlewati tanpa terasa. Selama itu juga Erka tak mengunjungi orang tuanya. Hanya Ersa yang rutin menyambangi kediaman mewah Hutomo Putra setiap akhir pekan. Anak muda itu akan memacu mobil sport hitamnya di Jumat malam dan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.


Siang itu, Ayleen yang kini diizinkan mengendarai mobil sendiri baru saja tiba di kediamannya saat terdengar teriakan panik sang mommy dari dalam rumah.


“Tolong, siapa pun, tolong.”


“Mommy.”


Berlari masuk ke dalam rumah, ia panik saat mendapati mommy-nya tengah menangis di samping Daddy yang terjatuh tak sadarkan diri di lantai.

__ADS_1


“Mom, ada apa?” Ayleen bingung. Pikirannya buntu seketika, butuh beberapa detik untuknya mengambil tindakan.


Veronica tak bisa berkata-kata, wanita tua itu hanya menangis sembari mengguncang tubuh suaminya yang tak sadarkan diri.


Mom, kita ke rumah sakit sekarang.” Ayleen membantu mommy-nya berdiri dan berlari keluar memanggil pekerja laki-laki untuk membantu mengangkat Daddy ke mobil.


Tak lama, dua pria bertubuh kekar sudah masuk dan mengangkat tubuh renta Hutomo Putra ke dalam mobil Ayleen yang terparkir di halaman rumah.


“Mom, ayo ke rumah sakit.” Ayleen menggenggam erat tangan Veronica. Mereka berlomba dengan waktu. Secepat mungkin harus tiba di rumah sakit untuk diambil tindakan.


Berdiri di ruangan IGD, pikiran Ayleen kacau. Ia hanya berjalan mondar-mandir depan mommy-nya yang duduk tenang sembari menggigit kuku.


“Leen, apa Daddy akan baik-baik saja?” Veronica tak sanggup berpikir lagi. Ia hanya bisa meratap dan bertarung dengan pikiran buruk. Suami yang berbagi banyak hal dengannya selama puluhan tahun ini sedang bertarung nyawa di balik pintu kaca.

__ADS_1


“Mom, Daddy pasti baik-baik saja.” Ayleen memeluk Veronica untung menenangkan wanita tua yang keadaannya tak kalah memprihatinkan. Ia bisa melihat wajah wanita yang sudah dianggap ibunya itu pucat pasi seperti kapas.


“Erka ... cepat hubungi Erka. Ersa juga, Leen.” Veronic menitah di sela pikiran waras yang timbul tenggelam.


“Ya, Mom.” Ayleen tersadar. Terlalu panik, ia lupa mengabari kedua kakaknya di Jakarta.


Tangan bergetar merogoh ponsel dari dalam tas yang bergantung di pundaknya, Ayleen mencoba menghubungi Erka dan Ersa.


Nada sambung memacu detak jantung gadis 19 tahun itu, membuat ketakutannya kian bertambah. Ia sendirian, mommy hanya bisa menangis dan tak lagi bisa membuat keputusan.


“Kak Ersa ke mana? Kenapa tak menjawab panggilan.” Nada sambung berakhir dan Ersa tak kunjung menyambut teleponnya. “A-apa aku harus telepon Kak Erka?” Ayleen bermonolog. Ia bingung. Enam bulan tak bertegur sapa, tak juga bertemu. Tentu saja membuat ia tak memiliki keberanian lebih.


Suara tangis Veronica menyadarkannya, ia tertarik ke alam nyata dan berhenti bertarung dengan batinnya. Diusapnya layar ponsel kembali, dan dicarinya nomor kontak yang selama enam bulan ini mati suri. Tak pernah ada komunikasi lagi baik panggilan, pesan, atau apa pun.

__ADS_1


Menempelkan benda pipih itu kembali, entah kenapa jantungnya berderap layaknya langkah kaki kuda di arena pacuan. Tak seperti panggilan sebelumnya, Erka menjawab cepat.


“Ya.” Suara itu datar, dingin, dan tak lagi semanis biasanya. Bahkan, Ayleen nyaris tak mengenali.


__ADS_2