Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 43


__ADS_3

“Kak, ini lebih dari sekadar cinta. Putrimu bagaimana?” 


Ayleen menarik tangannya dari genggaman Erka. Tak bisa dibayangkan andai perceraian itu benar terjadi. Bayi merah tak bersalah akan jadi korban.


“Aku tidak mau.” Ayleen menolak.


“Leen, aku mohon.” Wajah Erka tampak memelas. 


“Maaf, Kak. Aku tidak bisa.”


“Leen.”


Ayleen menggeleng, membuang pandangan keluar jendela. Gadis itu bersikeras menolak. Tak mungkin mengikuti permintaan sang kakak yang tak masuk akal.


“Leen.” 


Perjuangan terakhir Erka sebelum akhirnya memilih melajukan mobil menuju ke rumah. Diamnya sang adik cukup menjawab semua. Itu artinya Ayleen menolak berdiri di pihaknya. Tak punya pilihan, sepertinya ia harus berjuang sendiri untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.


Memasuki kediaman mewah Hutomo Putra, Ayleen bergegas turun saat mobil berhenti. Tak lagi menunggu Erka, setengah berlari menerobos gerimis. Ia harus secepatnya ke kamar dan mengabaikan kakaknya. 


“Leen, tunggu!” Erka dengan singlet basah berlari menyusul. “Kita harus bicara, Leen.” Erka berlari menyusul, menyusuri anak tangga untuk bisa menyejajarkan langkahnya dengan sang adik.

__ADS_1


“Mau apa lagi?” Ayleen bermonolog sembari menggenggam handle pintu.


“Leen.” Erka mencekal pergelangan tangan adiknya tepat saat gadis itu hendak meraih gagang pintu kamar.


“Ada apa?” 


“Kita harus bicara.” Genggaman tangan di pergelangan tangan itu kian erat, Erka tak akan melepas sebelum mereka selesai bicara.


“Lepaskan aku, Kak. Kita tidak ada urusan.”


“Ada. Kita perlu bicara dari hati ke hati.” Erka mendorong pintu kamar dan menyeret Ayleen masuk.


Alarm bahaya berbunyi kencang di otak Ayleen. Kilat di mata Erka sudah bisa terbaca. Ini bukan pertama, dulu pria itu pun sering mencuri kesempatan di saat lengah.


“Aku tidak mau, Kak. Kita bicara di sini saja.” Ayleen  berontak. Kakaknya sudah menikah, ia tak mau kejadian lalu terulang lagi.


“Leen, aku mohon.” Erka setengah memaksa.


“Aku ... tidak mau.” Dengan satu tangan yang bebas, ia menggenggam kusen pintu. Perjuangan terakhir sebelum menyerah, Ayleen tak mau kesalahan mereka dulu terulang lagi. Ia sudah cukup dewasa untuk paham situasi ini.


“Aahh, Kak Erka.” Ayleen berteriak saat tubuhnya terdorong masuk. Gadis itu hanya bisa menatap pasrah saat pintu kamarnya tertutup dan dikunci.

__ADS_1


“Ka-kak Erka mau apa?” Ayleen panik saat kakaknya berjalan mendekat. Di rumah tidak ada siapa-siapa, tak bisa meminta bantuan pada siapa pun.


“Jangan takut, aku hanya ingin bicara.” Erka bersuara saat melihat Ayleen berjalan menghindarinya.


“A-aku tidak percaya pada Kak Erka lagi.” Ayleen terbata-bata. Jantung gadis itu berdebar kencang, dadanya bergemuruh hebat.


“Aku janji, Leen. Kita hanya bicara. Duduk!” titah Erka. Ia tak bisa melihat Ayleen ketakutan padanya. Rasanya sakit kala kilat panik itu memenuhi bola mata gadis dicintainya.


Memilih berdiri mematung dengan kedua tangan menyelip di saku celana, Erka memandang sedih adik bungsunya. Ayleen berdiri di sisi ranjang yang berbeda.


“Aku tidak percaya Kak Erka lagi. Dulu Kak Erka sering mencurangiku.” Ayleen cemberut. Ketakutannya berangsur hilang kala Erka tak bergerak mendekatinya.


“Aku janji. Hanya bicara. Tidak akan menyentuh. Ada yang ingin aku sampaikan.”


“Tentang apa?”


“Hubunganku dan Cindy.”


“Aku tidak peduli. Itu urusan Kak Erka, bukan urusanku. Keluar dari kamarku, Kak. Aku mohon. Jangan menakutiku.”


Erka tersenyum. “Leen, aku Erka. Aryya Perkasa Hutomo Putra. Tidak akan pernah menyakitimu.”

__ADS_1


__ADS_2