
“Dad.” Erka bersuara, berbeda dengan Ersa yang memilih bungkam dan Ayleen menunduk tak bisa berkata-kata.
Andai Veronica, tentu saja Erka bisa protes seperti biasa. Akan tetapi ini daddy-nya, titah itu pun disertai alasan panjang lebar. Bahkan, Hutomo sudah memberi solusi untuk masalah kuliah si bungsu.
Pria tua itu menyeruput sereal dan susunya kemudian mengangkat tangan agar sang putra berhenti protes. Ia merasa perintahnya sudah cukup jelas dan tak butuh sanggahan. Mempertimbangkan masalah ini semalaman, ia masih sempat melihat Ayleen dan Erka berjalan masuk ke rumah dengan menggendong si kecil Dayana.
Pemandangan yang akhirnya membuat Hutomo tak lagi bisa tutup mata dengan semua rengek dan permohonan istrinya. Memang Dayana butuh ibu. Kondisi ini tak bisa menunggu suasana berduka berlalu karena bayi mungil itu tak mengerti apa-apa.
“Ayleen kuliah, Dad.”
Erka mencoba melempar satu alasan yang paling masuk akal. Ia tahu saat ini hanya dirinya yang bisa diandalkan untuk menolak. Ersa tak akan diizinkan terlibat, sedangkan Ayleen sudah bisa dipastikan akan menerima semua walau tak ikhlas.
Status sebagai anak angkat di keluarga Hutomo membuat gadis itu cukup tahu diri di mana posisinya. Tentu tak mau mengecewakan pasangan tua yang selama ini sudah baik dan tulus menyayanginya. Apalagi, ia diangkat dan diberi nama keluarga yang jelas.
“Kuliah dan menikah ... memang tidak boleh?”
__ADS_1
Semua yang di meja makan diam. Pertanyaan umum yang bisa dijawab dengan mudah.
“Aku bahkan melihat banyak yang hamil dan kuliah.” Hutomo menambahi.
Keheningan menyelimuti suasana di meja makan hingga tangisan Dayana tiba-tiba terdengar dari arah ruang tengah. Ayleen tersentak, beberapa hari ini bersama pengasuh mengurus bayi itu, kontak batin mulai terbentuk dengan sendirinya.
Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat, suara tangis pun semakin mendominasi. Gadis yang mengasuh Dayana tampak mendekat dan menghampiri Ayleen.
“Menangis lagi, Bu. Sudah ditetes obat yang di mulut. Badannya juga tidak panas lagi. Tapi, masih belum mau minum susu. Apa ....”
“Coba disuap saja susunya, Mbak,” titah Ayleen. Gadis 19 tahun itu buru-buru berdiri dan mengambil alih Dayana. Ia juga tidak begitu paham mengurus bayi, hanya bisa membantu sebisanya.
Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing. Hanya Hutomo yang tetap tersenyum manis, menatap satu persatu penghuni rumah.
“Ini contoh kecil.” Hutomo bersuara saat suara tangis lenyap bersama Ayleen ikut menghilang di balik ruang makan. “Bayangkan kalau Daddy, Mommy, dan Ayleen kembali ke Bandung. Apa yang terjadi pada Dayana?” Pria tua itu memberi gambaran.
__ADS_1
“Bayangkan sampai pengasuhnya mendadak pulang atau berhenti kerja. Lalu, bagaimana nasib Dayana?”
Erka dan Ersa tertunduk.
“Mau kalian bawa ke kantor? Ikut masuk ke ruang rapat? Mengasuh bergantian?” Hutomo terkekeh pelan.
Suasana masih tetap hening. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir anggota keluarga lain.
“Kalian pikir pengasuh itu akan tetap ada? Sewaktu-waktu bisa sakit dan tumbang. Kalau saat itu terjadi, mau meminta Mommy terbang dari Bandung ke sini hanya untuk mengurus putrimu?” cerocos Hutomo.
“Kenapa Ayleen?” Ersa yang sejak tadi diam, mulai bersuara.
“Katakan padaku ... apa ada calon yang lain, yang memenuhi syarat. Menikah dengan Erka artinya harus menerima Dayana. Apa mencari istri dan ibu untuk Dayana bisa secepat kilat?”
Veronica tampak menegakkan duduknya. Kedua tangan saling menjalin di atas meja, ia ikut bersuara.
__ADS_1
“Apa ada yang mau menerima Erka dan putrinya dengan ikhlas? Andaikan ada, pasti sulit menemukannya. Kenapa Ayleen?” Jeda sejenak, Veronica menatap kedua putranya bergantian.
“Ayleen putriku. Aku sudah mengenalnya luar dalam. Andai dia berani macam-macam pada Dayana, aku akan mengomelinya. Lalu, bagaimana kalau Erka menikah dengan wanita lain? Andai rasa sayangnya hanya sebatas bibir dan menyakiti cucuku.” Veronica menggeleng.