Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 33


__ADS_3

“Cerai?” Ayleen mengulang kembali kata-kata yang diucapkan Erka dengan lantang. Ia tak bisa melihat jelas, tetapi suara maskulin itu terdengar tegas.


“Bukannya Kak Cindy sedang hamil? Bagaimana mungkin mereka berencana bercerai?” Ayleen bermonolog. 


Masih dalam posisi membungkuk dan mengendap-endap, Ayleen tersentak saat pundaknya ditepuk pelan dari belakang.


“Ssttt, jangan berisik.” Ayleen berbisik, masih fokus dalam pengintainya. Tanpa sadar ia mengibaskan tangan meminta pengganggu itu menjauh. Ia tengah memusatkan pendengarannya untuk menguping lebih banyak lagi. 


Tepukan kembali mendarat di pundaknya. Kali ini sedikit kencang dari sebelumnya.


“Sssttt!” Ayleen masih serius, mengibaskan tangannya tanpa melihat siapa yang telah mengusik.


“Leen.” Tak lagi menepuk, suara maskulin itu menyerukan nama Ayleen tepat di telinga empunya.


Deg.


Ayleen membelalak. Separuh kesadarannya kembali. Ragu-ragu berbalik badan, ia mengulum senyuman saat tertangkap basah.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Ersa mengirim tatapan menyelidik. Dagunya terangkat ke atas, meminta jawaban.


Tatapan usil putra kedua Hutomo Putra itu membuat Ayleen malu hati. Mengalihkan topik, ia buru-buru mendekap lengan Ersa dan menarik pria itu menjauh.

__ADS_1


“Mau ke mana?” tanya Ersa, mengulum senyuman. Dipandanginya sang adik hingga jengah.


Tidak ada.” Ayleen buru-buru melepas cekalan tangannya.


“Aku curiga padamu. Apa ada yang menarik di dalam sana? Apa ...? Ersa kembali usil. Ia menyukai saat kedua pipi Ayleen bersemu merah. 


“Tidak ada.” Ayleen kembali menegaskan. Kali ini kedua pipinya menggembung dengan bibir mengerucut. 


“Yakin? Aku curiga padamu. Mengintip kamar pasangan suami istri di saat semua orang sudah terlelap. Apa kamu yakin tidak ada apa-apa? Kenapa aku jadi curiga padamu, Leen?” Ersa memainkan bola matanya. “Sepertinya aku juga harus memastikan sendiri.” Ersa baru akan berbalik arah dan melangkah menuju ke kamar Erka saat Ayleen mencekalnya kembali.


“Kak Ersa, please. Tidak ada apa-apa.”


“Aku tidak percaya padamu. Aku yakin ada sesuatu di dalam sana. Apa mereka sedang ....” Dua telunjuk Ersa saling bertemu, senyum usil terukir di bibir.


Kecupan dilabuhkan Ersa dibalik telapak tangan yang tengah membungkam mulutnya. Bola mata pria itu kembali menggoda dan membuat Ayleen salah tingkah.


“Kak Ersa, jangan menggodaku lagi. Aku mau tidur sekarang.


“Ayo!” Ersa menautkan jemarinya di sela jari-jari lentik Ayleen, kemudian menyeret pelan adiknya itu menuju ke kamar. 


“Tidak sedang ada perang di dalam, kan?” Ersa memastikan lagi.

__ADS_1


Ayleen mengernyit. Terlihat ia bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan kakaknya. 


“Perang?”


“Hmm.” Ersa mengangguk dengan tampang menggemaskan. Ia sengaja mengimbangi adik perempuannya.


“Tidak ada, Kak?”


“Yakin? Biasanya kalau di dalam kamar. Apalagi pengantin baru enam bulan. Masih dalam fase menggebu-gebu. Perang itu bisa tiap malam.”


Dahi Ayleen berkerut, terlihat ia berpikir serius. Sampai Ersa menyentil keningnya dan menyadarkan gadis polos itu.


“Aku cuma bercanda.” Ersa tergelak. “Jadi apa yang kamu dengar di dalam?”


Ayleen menggeleng dan berkata lirih. “Tidak. Hanya saja Kak Erka membahas perceraian.


“Oh.” Ersa mengangguk. “Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Kata cerai itu sudah makanan sehari keduanya. Anggap tak mendengar apa-apa. Nanti kamu pusing sendiri, Leen. Sebaiknya tidur, ini sudah malam.” 


Ersa menuntun Ayleen sampai ke depan pintu kamar gadis itu. Sebelum mengucapkan salam perpisahan, ia masih sempat mengusili adiknya kembali.


“Selamat malam, Leen. Mimpikan aku.” Kedipan mata kiri menutup obrolan kakak adik itu. Ersa tersenyum simpul sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

__ADS_1


Hubungan tanpa kejelasan antara kakak adik itu terbilang rumit. Dibilang saudara, hubungan mereka bisa dikatakan lebih dari saudara saat salah satu bermain perasaan. Disebut pacaran, tidak juga. Sampai detik ini tak ada komitmen untuk mengikat diri satu sama lain.


__ADS_2