Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 64


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, 24 jam terasa singkat untuk Erka yang mulai berkutat dengan data dan angka. Sejak salah menafsirkan perasaan dan menjebak diri ke dalam pernikahan, hidup pria itu berubah drastis. Hobi bersenang-senang dengan wanita tiap malam ditinggalkannya. Kelab malam, tempat karaoke hingga tongkrongan sejenis mulai dienyahkan dari hidupnya.


Fokus Erka banyak ke pekerjaan, menikmati pencapaiannya yang luar biasa hanya dalam beberapa bulan. Beberapa tender senilai miliaran hingga triliunan, kerja sama dengan perusahaan raksasa dan terkemuka, penambahan pabrik baru di beberapa daerah, pria yang kini menyandang status duda itu melesat tak terkejar pesaingnya.


Suara ketukan di pintu ruang kerja menyeret Erka ke alam nyata, meninggalkan berderet angka yang tadinya memenuhi otak.


“Masuk!” titahnya tegas.


Tampak Erick mendorong pintu dan menyunggingkan senyuman. Berdiri tegak, asisten itu siap menyampaikan isi pikirannya.


“Ada apa?”


“Ini sudah malam, Pak. Nyonya Vero beberapa kali menghubungiku ... karena ponsel Pak Erka disenyapkan.” Erick menjelaskan maksud kedatangannya.


“Jam berapa?”


“Setengah delapan malam. Pak Erka sudah diminta pulang,” lanjut Erick.

__ADS_1


“Ok. Setengah jam lagi.” Erka memutuskan. Dipandangi asisten kesayangannya dan tersenyum.


“Aku malas pulang ke rumah. Aku akan teringat dengan Cindy lagi.” Erka memijat pangkal hidungnya dan membuka laci teratas di meja kerja. Sebuah amplop putih diraihnya dan dilempar ke atas meja.


“Keluarlah. Aku ingin sendiri,” titah Erka lagi. Diambilnya amplop putih peninggalan Cindy yang dititip di atas nakas kamar tidurnya. Sampai detik ini ia tak berani membuka walau di bagian terdepan tertoreh namanya menggunakan tinta hitam.


“Teruntuk suamiku, Aryya Perkasa Hutomo Putra.”


Erka membaca ukiran tangan Cindy itu sudah berulang kali, tetapi tak ada keberanian untuk membuka sampai saat ini. Ia dihantam rasa bersalah setiap mengingat pertengkaran terakhir mereka di malam sebelum kematian mendiang istrinya.


Penyesalan itu belum mau pergi. Bahkan, Erka kian terpuruk setiap mengingat semua.


Memejamkan mata untuk menyembunyikan cairan bening yang mengumpul di pelupuk mata, Erka menghela napas panjang untuk mengempas lelah yang bergelayut di pundak.


“Sepertinya memang harus pulang ke rumah sekarang. Ada sesuatu yang tidak bisa dihindar dan harus dihadapi. Kenyataan kepergian Cindy dan perasaannya pada Ayleen.


Erka bangkit dari duduknya setelah menyimpan kembali amplop dari Cindy. Ia masih belum kuat untuk membacanya. Terlalu banyak penyesalan dan akan membuatnya kian dihinggapi rasa bersalah.

__ADS_1


●●●


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.40 malam saat mobil Erka masuk pekarangan rumah. Ketika kaki melangkah masuk ke dalam rumah, terdengar tangis Dayana.


“Ada apa?” Erka tersentuh melihat bayi yang menangis kencang walau sudah ditimang pengasuhnya.


“Sepertinya panas, Kak.” Ayleen muncul dari dapur dengan sebotol susu. “Seharian menangis. Tidak mau minum susu.”


Semburat resah muncul di wajah tampan Erka, direngkuhnya tubuh bayi mungil itu setelah menghempas tas kerjanya ke sofa. Ditimang seperti biasa, tetapi kali ini tangis Dayana tak mau reda.


“Dia lapar, Kak.” Ayleen berjalan mendekat dan memasukkan dot ke dalam mulut Dayana, tetapi bayi itu menggeleng. Tangisnya kian kencang dan menyedihkan.


“Tuh, kan? Sejak sore seperti ini. Aku takut suara tangisnya membangunkan Daddy dan Mommy, makanya dibawa turun ke sini. Tadinya mau meminta Kak Ersa membawa ke dokter. Tapi, Kak Ersa suruh menghubungi Kak Erka saja.” Suara Ayleen terdengar panik, tak sengaja mendekap pinggang Erka.


Tatapan keduanya bertemu sesaat diiringi tangisan bayi mungil di dalam dekapan. Erka sempat terseret sejenak, meneliti paras cantik Ayleen hingga tak berkedip. Ia tersentak kala adiknya itu mengambil alih Dayana dari gendongan.


“Ayo, sekarang saja. Aku khawatir kalau Dayana tak mau minum susu. Ada sesuatu yang dirasakannya, tapi tidak bisa menyampaikannya. Sebaiknya ke rumah sakit sekarang.” Ayleen menjelaskan lagi.

__ADS_1


Erka mengangguk. Pandangannya belum berpindah dari Ayleen. Rasa cinta yang dikuburnya beberapa hari ini perlahan muncul. Namun, ia berjuang untuk tidak hanyut di dalamnya.


__ADS_2