Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 66


__ADS_3

“Maafkan aku, Kak.” Ayleen menatap bayi merah yang terbungkus mantel bulu itu berkaca-kaca. Beberapa hari menghabiskan banyak waktu bersama, rasa sayangnya pada Dayana mulai terbentuk dengan sendirinya.


“Ya, tidak apa-apa. Kalau memang sudah mau kembali ke Bandung, aku tidak masalah, Leen. Mengenai Dayana, jangan khawatir. Dia akan tumbuh seperti anak-anak lain, tak akan kekurangan apa pun.” Erka meyakinkan.


“Ya, Kak.” Ayleen menunduk. Dikecupnya kening Dayana yang sudah terlelap. Kelelahan menangis, bayi itu tidur sampai tak terusi walau suara berisik di sekitarnya.


Aku tidak tahu Mommy sudah bicara apa padamu. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu ... selesaikan kuliahmu, jangan pikirkan aku dan Dayana di sini. Kami bisa sendiri, Leen.”


“Ya, Kak.”


“Baguslah.” Erka melirik sekilas ke arah penumpang manis di sebelahnya.


Cintanya pada Ayleen hadir di saat ia sudah mengambil sikap dan berjanji untuk menikahi Cindy. Andai tidak, tentu saja Erka akan menyeret adik bungsunya itu ke pernikahan.


Terlambat menyadari dan berbuntut penyesalan. Mungkin tanpa disadar perasaannya pada Ayleen sudah terbentuk dengan sendiri, hanya saja ia belum mau mengakui. Terlalu terlena dengan ikatan persaudaraan, hingga butuh waktu untuknya menyadari isi hati yang sesungguhnya.


“Dia cantik sekali, Kak.”


Setelah lama hening, gadis itu mencoba membuka pembicaraan. Canggung yang menyapa, membuat jarak kian jauh.

__ADS_1


“Dayana mirip Cindy, tidak mirip denganku sama sekali.” Erka berdusta. Memutuskan menutup semua aib Cindy, pria itu mencoba tak lagi mengungkit-ungkit segala kesalahan mendiang istrinya. Anggap saja penembusan dosa karena pada kenyataannya ia adalah orang yang paling bertanggung jawab.


Andai tak menyeret Cindy masuk ke dalam pernikahan sandiwara, mungkin duka ini tak akan terjadi. Hidupnya akan damai sentosa dan tak dibayang-bayangi rasa bersalah. Bisa saja saat ini ia sudah menikah dengan gadis yang dicintai sekaligus pilihan orang tuanya.


•••


Hampir sepuluh hari bertahan di Jakarta, akhirnya Hutomo angkat suara. Tak mungkin berlama-lama di ibu kota, ia dan Veronica memiliki kehidupan sendiri di kota Bandung.


Pagi itu, saat semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan, Hutomo bersuara. Menyelesaikan sarapan serealnya buru-buru, pria berusia senja itu menegakkan duduk.


“Besok, Daddy dan Mommy akan kembali ke Bandung. Sudah cukup lama di sini, Daddy sudah rindu ikan mas di depan rumah.”


“Ayleen tetaplah di sini. Bantu Erka menjaga putrinya. Saat ini Daddy hanya bisa mengharapkanmu, Leen.”


“Tapi, bagaimana kuliahku?” Ayleen melayangkan protes.


“Kuliah di Jakarta dan bantu kakakmu mengawasi Dayana,” terang Hutomo.


Pernyataan kepala keluarga itu menarik perhatian banyak orang. Ersa mengulum senyuman, sedangkan Erka menggaruk kepala.

__ADS_1


“Tapi, Dad ....” Ayleen protes untuk kedua kali.


“Leen, tolong. Selama ini Daddy tidak pernah meminta, tapi kali ini Daddy memohon padamu.” Hutomo merapikan duduknya, tangan pun dibuat santai, menggenggam di atas meja.


Ayleen melirik ke arah mamanya dan Erka, kemudian menatap Ersa yang sibuk dengan ponsel di tangan. Tak ada seorang pun yang menyanggah, semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


“Baiklah, Dad.” Ayleen mengalah dan mengikuti kemauan Hutomo.


Senyum terukir di bibir pria renta itu. Hutomo mencoba membicarakan kesepakatan yang ia dan Veronica bahas semalam sebelum tidur.


“Baguslah, jadi Dayana tak kekurangan kasih sayang.”


“Tinggal di Jakarta dan menikahlah dengan Erka. Urus Dayana seperti kamu mengurus putrimu sendiri. Mungkin belum sekarang, tetapi tolong pertimbangkan. Bukan demi Erka, bukan juga demi kamu. Lalukanlah untuk Dayana.” Hutomo tampak serius, tak ada tanda-tanda canda di dalamnya.


“DAD!”


“Dad.”


“Dad.”

__ADS_1


Erka, Ersa, dan Ayleen terkejut. Refleks ketiganya memanggil daddy-nya bersamaan. Tak ada angin, tak ada badai, bibir pria tua itu mengucapkan dengan lancar. Andai itu Veronica, akan jadi berbeda cerita. Akan tetapi, saat ini Hutomo yang berbicara.


__ADS_2