Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 4


__ADS_3

Rembulan bergelayut di cakrawala malam, membulat sempurna ditemani rasi bintang. Semburat keemasan itu memancar indah, memantul di permukaan air kolam renang yang sudah didekorasi untuk menyambut tamu penting malam ini.


Sebuah acara makan malam yang digelar di outdoor hunian mewah yang terletak di kawasan prestisius, di Selatan ibu kota. Dinner malam ini terbilang spesial. Selain menu yang disajikan adalah hasil olahan chef ternama dari salah satu restoran bintang lima, tamu khusus yang diundang Erka membuat makan malam tak seperti biasanya.


Seorang wanita muda, lulusan universitas ternama di Australia, persis seperti yang digemborkan Erka. Terbilang cantik dengan tampilan mahal dari rambut sampai ke ujung kaki. Ia tersenyum ramah, menyapa, dan memperkenalkan diri pada semua penghuni rumah yang sedang menunggu kehadirannya di ruang tengah.


"Hallo, Om. Apa kabar? Aku Cindy Hariwijaya." Wanita cantik yang digandeng Erka itu menyapa Hutomo.


"Baik." Sang kepala keluarga meraih kacamata di atas meja dan mengenakannya untuk meneliti sang tamu lebih jelas.


"Malam, Tante. Aku Cindy." Selanjutnya menyapa Veronika, memeluk, dan menempelkan kecupan di kedua pipi wanita berusia senja yang masih tampak cantik.


Ayleen tengah bersandar manja di pundak Ersa saat gilirannya disapa.


"Hai, aku Cindy." Tangan dengan kulit seputih ubi kayu terulur, menyodorkannya di depan Ayleen.


"Ini adik kecilku, Ayleen. Dia yang tercantik di rumah ini, tidak boleh ada yang lain." Erka mengedipkan mata kirinya, mengirim signal khusus untuk adik perempuan satu-satunya.


Ia mengerti kalau penolakan bukan hanya darinya, Ayleen pun berpikir serupa. Perjalanan masih panjang, ia tak mau membuat keputusan yang akan disesali bersama. Tak ada cinta, Ayleen bukan tipenya sama sekali. Jauh dari kriteria wanita idamannya.


"Aryya Persada Hutomo Putra." Ersa mendahului, menyambut uluran tangan Cindy.

__ADS_1


"Ini adikku, Ayleen. Kalau ingin menjadi bagian dari keluarga ini ... harus bisa mengambil hati si bungsu. Kak Erka tidak akan menikahimu kalau Ayleen tidak setuju." Ersa berbisik pelan. Anak muda itu tergelak saat wajah Cindy berubah.


"Jangan didengar, Baby. Ersa memang suka bercanda."


Erka mengusap punggung Cindy yang polos. Gaun model backless yang memamerkan punggung putih mulus itu sudah menggoda adrenalin sejak tadi. Andai tidak sedang di rumahnya, dipastikan ia akan menerkam mangsanya saat ini juga.


"Jangan mengusikku, Honey." Cindy berbalik. Protes ketika merasakan jari Erka sedang melukis di kulit punggungnya.


Ayleen yang sejak tadi diam-diam memperhatikan, tiba-tiba menunduk. Menjadi satu-satunya orang yang diperhatikan semua anggota keluarga Hutomo, membuatnya merasa tersaingi. Erka dan Ersa selalu memanjakannya, perasaan dianakemaskan itu mendadak membuatnya tak rela kalau ada gadis lain berhasil merebut sang kakak darinya.


-


-


-


Hutomo menyunggingkan senyuman, tak lama tawanya pecah.


"Cindy bukan wanita sembarang." Erka menjelaskan.


"Daddy tahu." Hutomo mengangkat tangannya, meminta Erka berhenti bicara. "Nama Hariwijaya cukup menjelaskan semuanya. Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Daddy mengenal baik papanya dan gurita bisnis keluarga mereka."

__ADS_1


Cindy menyunggingkan senyuman malu-malu dan tertunduk lagi. Biarlah Erka yang mengurus masalah selanjutnya, ia cukup duduk manis. Menunggu detik-detik menjadi istri dari seorang Aryya Perkassa Hutomo Putra.


Suasana senyap, tak ada yang bicara. Hutomo menoleh ke samping, melirik istrinya. Ia butuh masukan untuk pertimbangan sebelum mengambil keputusan.


Veronika diam, tak mau banyak bicara. Sejak awal sudah memilih Ayleen dengan berbagai pertimbangan dan masa lalu. Cindy tak mampu menggoyahkan keputusannya walau ia akui kalau wanita muda di depannya memang memiliki segala persyaratan untuk menjadi bagian dari Hutomo Putra.


"Vero?" Hutomo menunggu.


Mommy dari Erka, Ersa, Ayleen menggeleng. Tak mau terlibat dengan apapun yang menjadi keputusan suaminya. Ia tahu jelas, isi benak pria yang didampinginya puluhan tahun itu.


"Baiklah, karena Mommy tidak memiliki pendapat ...." Jeda beberapa saat, Hutomo menarik napas dalam-dalam. "Atur waktu agar Daddy bisa menemui orang tuanya Cindy," ucapnya.


Duduk dengan kedua tangan menggengam di atas meja, Hutomo sempat melirik ke arah istrinya. Keputusan yang diambilnya membuat kedua netra Veronika terpejam rapat.


"Daddy tunggu kabar secepatnya."


Erka menyimak, Cindy tersenyum.


"Kalian atur saja, Daddy tidak keberatan. Menikah secepatnya. Daddy akan menyerahkan perusahaan padamu dan Ersa. Daddy dan Mommy akan pulang ke Bandung, menikmati hari-hari tua bersama Ayleen."


Hutomo sudah menyetujui, keputusan pun telah dibuat. Tak ada yang bisa menjegal, semua sudah berjalan di tempat yang seharusnya. Kalau ditanya kecewa, Veronika sosok yang paling tertampar. Sejauh ini, ia masih ingin berjuang menjadikan Ayleen menantu keluarga Hutomo. Dengan begitu, hubungan mereka tak akan terputus selamanya.

__ADS_1


__ADS_2