Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 51


__ADS_3

“Aku tidak siap bercerai.” 


Suara Cindy terdengar lirih. Pandangan jatuh ke lantai, selaput bening tipis melapisi bola matanya yang indah. Tak ada satu pun pilihan berpihak padanya saat ini. 


Harga diri dan nama baik dipertaruhkan. Bukan hanya Cindy, tetapi juga keluarga serta perusahaan keluarganya. Andai ia bisa mengulang semua, satu hal yang ingin diperbaikinya, yaitu kebahagiaan semu bersama pria yang bukan suaminya hingga berujung kehamilan.


Frustrasi dengan pernikahan memancing Cindy mengais kesenangan di luar rumah. Erka mungkin bertanggung jawab untuk nafkah lahir, tetapi tidak untuk batin. Memilih melampiaskannya dengan bertemu teman-teman lama, ia terjerat bersama pria asing yang ditemuinya di kelab. Naas, dosa yang dilakukannya secara sadar berujung dengan kehamilan yang tak diinginkan.


Beberapa bulan berlalu dan ia dinyatakan positif hamil. Erka yang mengetahui kondisi ini, langsung mengumandangkan kata cerai dengan lantang. Bahkan, pria itu tak segan-segan mengirim ancaman yang ditujukan untuknya dan keluarga, termasuk perusahaan.


Yang membuat Cindy menggila adalah Erka memiliki bukti perselingkuhannya. Entah bagaimana pria itu bisa memiliki banyak akses hingga bisa mendapatkan semuanya dengan mudah.


“Bersiap saja. Aku sudah muak.” Erka berdiri dengan angkuhnya.


“Ka, aku mohon. Aku tidak masalah ... kamu dan Ayleen. Tapi ....” 

__ADS_1


Erka mengangkat tangan dan meminta Cindy berhenti bicara. Pria itu tak mau bernegosiasi sama sekali. 


“Berpisah baik-baik atau semua dunia membicarakanmu? Aku tidak akan mau mengalah lagi.” Erka menegaskan.


“Aku tidak mau keduanya, Ka.”


Tak ada lagi sapaan sayang seperti perkenalan mereka di awal. Sesekali masih bisa mendengarnya saat mereka di depan umum. Pencitraan yang sempurna, tetapi tak bisa selamanya.


“Aku tidak mau anakmu membawa nama keluargaku. Aku juga tak mau ada namaku di data kelahiran anakmu. Hanya itu alasanku untuk segera berpisah denganmu.” Erka menjelaskan maksudnya. “Setelah kita berpisah, kamu bebas. Cari ayah dari putrimu.” Erka meraih bantal dan berjalan menuju ke sofa. 


Memilih menghabiskan waktu dengan pekerjaan, Erka membawa Aryyacement menjadi perusahaan yang patut diperhitungkan. Melesat jauh hanya dalam waktu beberapa bulan.


“Ka, tidakkah kamu kasihan padaku dan putriku?” Cindy memandang putrinya yang ditidurkan di atas ranjang.


“Tidak!” Erka sudah berbaring di sofa dengan kedua tangan melipat di dada.

__ADS_1


“Ka?”


Tak ada jawaban, Erka memejamkan mata dan mengabaikan ucapan Cindy. 


“Tutup mulut dan berhenti bicara. Aku mau istirahat.” 


Cindy menciut. Sikap dingin Erka terkadang membuatnya tak bisa berbuat banyak. Pria itu membentengi diri dan tak tersentuh.


“Jangan sampai putrimu berisik. Aku tidak mau terganggu. Sekiranya tidak bisa, kamu bisa membawanya ke kamar lain. Orang tuaku juga paham kalau kondisinya seperti itu.”


Wanita yang baru beberapa hari menjadi ibu menitikkan air mata. Sedikit pun tak menyangka akan terseret dalam situasi seperti ini. Memilih membawa bayi mungil yang belum diberi nama itu keluar dari kamar, hatinya teriris. 


Sejak hamil, ia tertekan. Sikap dingin dan kasar Erka membuatnya tak punya pilihan. Andai ia bisa,  tentu ingin pergi sejauh mungkin. Jika bisa mengabaikan keluarganya, sudah dipastikan memilih bercerai.


Namun, tidak semudah itu. Di belakangnya ada nama baik keluarga yang dipertaruhkan. Bercerai atau pun skandalnya terbongkar akan sama-sama memalukan. Ia yakin Erka akan menggunakan bukti perselingkuhannya untuk memuluskan perceraian. Apalagi saat hasil tes DNA keluar, sudah pasti ia akan disudutkan.

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2