Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 49


__ADS_3

Tiga malam empat hari bertahan di rumah sakit, Cindy akhirnya memboyong sang putri pulang ke rumah. Suasana belum membaik, hubungannya dengan Erka memburuk. Satu-satunya yang jadi penengah hanya kehadiran Hutomo dan Veronica.


Kedua lansia itu memutuskan untuk menginap beberapa malam lagi di Jakarta sebelum kembali ke kota Bandung. Kehadiran cucu pertama memantik kebahagiaan. Rasanya ingin terus bersama dengan bayi mungil yang mewariskan garis wajah ibunya.


“Ka, dia cantik sekali. Bagaimana bisa tidak menurunimu sama sekali. Cindy mendominasi. Ini wajah mamanya.” Veronica duduk bersisian dengan menantu. Mata menyipit, mengagumi sang cucu yang belum diberi nama.


“Ya, Mom.” Erka baru saja pulang dari kantor bersama Ersa, langsung mendatangi kedua orang tua. “Daddy kapan balik ke Bandung?”


Pria tampan itu berjalan di depan sembari melonggarkan dasi. Menyusul di belakang, Ersa dengan wajah letih sibuk menatap ponsel. Putra kedua itu sedang sibuk mengobrol dengan Ayleen melalui aplikasi obrolan berlogo hijau.


“Lusa. Kasihan Ayleen kalau ditinggal lama-lama. Tahu sendiri ... anak perawan. Daddy saja sudah pusing saat melihat pemuda bergantian main ke rumah.” Hutomo terlihat santai. Menatap istri dan menantunya sedang menggoda cucu.

__ADS_1


Ketika kisah pemuda lain mendekati Ayleen, Erka dan Ersa membeku seketika. Kakak adik itu tenggelam dalam keresahan yang sama, terseret cemburu.


“Siapa, Dad?” Ersa mengempaskan bokongnya di sofa single tak jauh dari Hutomo. Pria muda dengan kulit putih dan wajah menawan itu tertarik dengan cerita Ayleen selama di Bandung.


“Daddy tidak kenal. Kalau ke rumah biasanya mengenalkan diri pada Mommy.” Hutomo melempar pada istrinya.


“Siapa, Mom?” Ersa masih belum puas.


“Banyak. Mommy sebutkan juga kamu tak akan mengenalnya. Namanya juga gadis perawan. Sudah sewajarnya kalau dikerubungi laki-laki. Ibarat bunga sedang mekar, Ayleen tengah cantik-cantiknya. Jadi jangan heran kalau banyak yang berbondong-bondong mendekatinya.”


Lain Ersa, lain pula reaksi putra tertua. Sejak tadi menyimak, Erka menutupi cemburunya rapat-rapat. Ia tak mau menunjukkan perasaannya pada semua orang, terlebih Cindy. Istrinya akan menggunakan kesempatan ini untuk menekan, menyudutkan, bahkan menghancurkannya.

__ADS_1


“Ya sudah, aku ke atas dulu.” Erka berpamitan. Tak seperti papa-papa lain yang antusias menyambut bayi mereka sepulang kerja, putra sulung Hutomo Putra itu bahkan tak mau mendekat sama sekali.


Melangkah menuju ke kamar tidur diiringi tatapan aneh semua orang, Erka seolah-olah tak peduli dengan tanggapan semua orang. Detik ini ia harus meredam gejolak di dada karena mencemburui Ayleen. Butuh pelampiasan agar tak menyesak di dadanya.


♡♡♡


“Leen, angkat teleponnya.” Erka berjalan mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinga. Sejak setengah jam yang lalu menghubungi Ayleen, tetapi panggilannya diabaikan. Masuk dan berdering, tetapi tak diterima.


Puluhan pesan pun ikut ambil bagian, lagi-lagi tak ada balasan. Bahkan, Ayleen tak membacanya sama sekali.


“Leen, angkat teleponnya. Aku mohon, kita perlu bicara. Aku tidak bisa tenang kalau kamu mengabaikanku seperti ini.” 

__ADS_1


Berjalan dari sisi kiri ke kanan kamarnya, Erka tersentak ketika suara pintu kamar terbuka. Tampak Cindy berjalan masuk dengan langkah pelan sembari menggendong putrinya.


Seringai licik bercampur getir muncul di sudut bibir. Sebagai wanita yang dekat dengan Erka belakangan ini, tentu ia paham apa yang dirasakan oleh pria yang masih berstatus suaminya.


__ADS_2