
Ayleen membuka mata tepat saat Erick keluar dari ruangan. Sebenarnya, ia sudah terusik saat pertama kali Erka menyentuh wajahnya. Namun, gadis itu memilih diam dan pura-pura terlelap. Ia tak sanggup kalau harus berhadapan langsung di situasi tidak nyaman ini.
“Maaf, aku ketiduran.” Gadis itu menegakkan duduknya dan menutup mulut, pura-pura menguap.
“Kita pulang sekarang?” ajak Erka.
Salah tingkah bukan hanya milik Ayleen, tetapi Erka pun diam-diam merasakan hal yang sama. Andai Erick tak mengacau, sentuhan bibir penuh kerinduan itu akan terjadi setelah sekian purnama berlalu.
“Ya, Kak.” Ayleen mengangguk.
Tak disangka-sangka, Erka menyodorkan tangan untuk membantunya berdiri. Canggung menyapa keduanya kala Erka melangkah tanpa melepas genggaman. Tak menyisakan ruang untuk protes, Ayleen mengulum senyuman diam-diam.
“Sebentar, Leen.” Erka meneliti meja kerjanya untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Tak lama ia menyambar tas bekal yang berisi kotak kosong dan menentengnya di tangan lain.
...•••...
Erka sudah duduk di belakang kemudi dengan Ayleen menemani di sebelahnya. Jalanan ibu kota sore itu ramai lancar walau sempat tersendat di beberapa titik.
Pasangan muda yang sebentar lagi akan mengikat diri di dalam pernikahan itu tak terlihat bicara, Ayleen sibuk menatap pemandangan dari jendela mobil, sedangkan Erka memusatkan perhatian pada jalan raya.
Suasana hening itu terusik kala ponsel Erka berdering. Dengan satu tangan mencengkeram kemudi, tampak pria itu kesulitan mengeluarkan telepon seluler dari saku celana. Membagi konsentrasi, putra tertua Hutomo Putra itu tersentak saat Ayleen tiba-tiba merogoh saku celananya untuk membantu.
__ADS_1
Beberapa detik pandangan keduanya berserobok dan Erka menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibir saat Ayleen berhasil menguasai ponselnya.
“Siapa?” Suara Erka terdengar berat. Bertanya tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya.
“Wi ... ra.” Ayleen menjawab ragu. Ia hanya membaca nama yang muncul di layar.
“Tolong sambungkan.”
Ayleen menurut. Ditempelkan gawai itu di telinga sang kakak.
“Ya, Bro. Ada apa?” Erka menjawab, sesekali melirik ke arah Ayleen.
“Hari ini kamu ke kelab, kan?” tanya suara maskulin dari seberang.
“Melimpirlah kalau begitu. Aku kirim alamatnya.”
“Tung-tunggu, Wir. Aku sedang bersama ....”
“Siapa pun wanita yang kamu bawa, kami tidak masalah, kok. Datanglah walau Cuma semenit. Tidak enak pada yang punya hajatan. Dia jauh-jauh datang dari luar negeri.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Datang dulu dan lihat sendiri siapa?”
“Jangan katakan Ditya Lim sudah kembali dari London?” tanya Erka lagi.
“Bukan. Aku matikan dan tunggu di sini. Banyak mantanmu di sini. Pastikan wanita yang kamu bawa bukan sembarangan. Kasihan dia terbanting oleh teman ranjangmu.”
“Kurang ajar!” Erka mengumpat tanpa sadar, buru-buru melirik Ayleen, ia merasa tak enak hati.
“Ayolah. Ini teman baik kita. Tak mungkin kalau kamu tidak hadir. Menyapa sebentar saja.”
Erka berpikir sejenak. “Baiklah, aku tidak bisa lama-lama. Ayleen bersamaku.”
“Hah? Ayleen adikmu?” Wira tergelak. “Sejak kapan kamu menggunakan jasa bodyguard.”
“Sudah dulu. Ceritanya panjang. Kirim alamatnya padaku,” putus Erka.
Sesaat setelah sambungan telepon itu terputus, Erka melirik penumpang di sebelahnya. Sempat terselip ragu sebelum ia meyakinkan diri untuk membawa Ayleen bersamanya.
Lagi pula dia akan menjadi istriku. Cepat lambat akan tahu pergaulanku seperti apa. Teman-teman dan masa laluku. Bukankah menerima tawaran menjadi Mama untuk Yaya, dia juga harus menerima Papa Yaya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
“Leen, ikut aku sebentar bertemu teman, ya. Aku tidak enak, dia datang jauh-jauh dari luar negeri.”
__ADS_1
Ayleen diam.
“Ya?” pinta Erka dengan nada melembut. Aku janji tidak lama. Kalau mengantarmu lebih dulu takutnya malah kemalaman.”