Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 41


__ADS_3

Kota Bandung siang itu terasa lumayan teduh walau matahari tepat berada di pucuk kepala. Sekumpulan awan hitam bergelayut manja, menghiasi cakrawala biru terang. Erka masih memejamkan mata saat ponsel berteriak minta perhatian. 


Jeritan berirama itu mampu menarik kesadaran yang tengah berkelana di alam mimpi. Kelopak mata membuka, pria berbaring di belakang kemudi mobil itu berusaha mengembalikan semua ingatannya begitu terjaga.


Erick, nama itu muncul di layar ponsel menyala. Sesuai dengan titahnya sebelum tidur, asisten itu membangunkannya tepat saat jam makan siang. Memang kinerja yang tak perlu diragukan lagi. Bukan hanya pintar mengurus pekerjaan dan tender, pria lebih tua beberapa tahun darinya itu bahkan sudah terlatih mengurus semua keperluan pribadi.


“Ya.” Jawaban singkat keluar dari bibir Erka dan terdengar serak.


“Sudah jam makan siang, Pak.” Suara maskulin terdengar berat dan berwibawa.


“Ok. Terima kasih. Ada yang mau disampaikan lagi?” Erka memotong.


“Tidak, Pak. Hanya mengabari kalau Ibu Cindy kemungkinan besar hari ini keluar dari rumah sakit. Tapi, belum pasti juga, Pak.”


“Ok.”

__ADS_1


“Titip Daddy dan Mommy.”


“Siap, Pak.”


Erka memutuskan panggilan sembari memijat pangkal hidung. Kantuk belum sepenuhnya hilang, ia masih berjuang untuk memulihkan otaknya dari mimpi yang terlanjur melekat dan turut ke dunia nyata.


“Apa Ayleen sudah selesai?” Menoleh ke arah kampus megah di depan mata, tempat adik kecilnya menuntut ilmu beberapa jam terakhir.


“Masih sejam lagi.” Erka meraih sebotol air mineral sisa dan membuka pintu mobil. Tampak ia menyirami wajah tampannya dengan sisa air untuk mengusir wajah kantuknya.


Selama enam bulan terakhir, itu yang ia lakukan untuk membayar kerinduan dan kesepiannya di Jakarta. Memantau aktivitas adik kecilnya menjadi agenda khusus di kala jenuh dengan rutinitas pekerjaan. Ayleen dengan berbagai pose dan senyuman menjadi pelepas penat.


Empat puluh lima menit berselancar di dunia maya, sesekali mengomentari foto-foto Ayleen dengan sebuah senyuman. Langit gelap mulai berontak, awan hitam tak mampu menahan gelembung di tubuhnya mulai menurunkan titik-titik air ke bumi. Erka menatap rinai yang jatuh bagai garis diagonal kala tertiup angin.


“Hujannya.” Erka bergidik menatap nanar ke luar jendela mobil. Pepohonan melambai-lambai, daun-daun bersalaman satu sama lain saat angin meniupnya kencang.

__ADS_1


Tak lama, sambaran halilintar mengejutkan Erka. Pria itu tercengang menatap cahaya di langit yang mendadak berubah kelabu.


“Ayleen pasti ketakutan.” Erka meraih ponselnya dan coba menghubungi Ayleen. Panggilan pertama lolos tanpa dijawab, Erka beruntung saat panggilan ulang segera mendapat jawaban.


“Leen, kamu sudah selesai?” Erka menyela sebelum adiknya di seberang berbicara.


“Sudah, Kak. Tapi hujannya lebat sekali.”


“Ya sudah. Aku masuk ke area parkir kampus saja. Sebentar, aku bawakan payung. Tetap di dalam gedung. Geledeknya menyeramkan.”


“Ya, Kak.” Ayleen tak banyak protes, mulai mengikuti ritme yang dimainkan Erka.


“Ok.” Kalimat singkat itu terdengar meyakinkan, Erka buru-buru menjalankan mobil kesayangannya masuk ke pelataran kampus.


♡♡♡

__ADS_1


Jangan lupa like, komennya. Masih ada satu bab lagi di bawah ya. Yang tak sabaran, penasaran dengan spoiler? bisa follow instagramku : casanova_wety.s.hartanto


__ADS_2