Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 30


__ADS_3

“Tapi, Honey ....”


“Menurutlah, Beb.” Erka membujuk.


Tak bisa menolak saat tatapan Erka menusuk tajam padanya, Cindy hanya bisa menurut semua ucapan suaminya. Tepat saat Veronica menghabiskan makanannya, ia dan mertuanya pun terpaksa pulang. Erka sudah memerintah, dan tak ada yang bisa membantah.


“Leen, ayo pulang. Ada kedua kakakmu berjaga di sini.” Sebelum melangkah keluar kamar, Veronica masih sempat mengingat putrinya.


“Ayleen di sini saja dulu, Mom.” Ersa melirik jam di pergelangan tangannya. “Nanti aku akan mengantarnya pulang.”


Veronica menatap ketiga anaknya dan mengangguk. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, ia tak mau terlalu banyak berpikir. Sedangkan Ayleen tak punya pilihan, menatap Mommy dan kakak iparnya lenyap di balik pintu kamar. 


Sepeninggalan keduanya, ruang perawatan hening kembali. Hanya sesekali terdengar obrolan antara Ersa dan Ayleen, bertukar kabar dan menanyakan banyak hal.


“Kuliahmu bagaimana?” 


“Baik.” Ayleen canggung. Duduk bersisian dengan Ersa di sofa, Erka tetap di samping brankar.


“Dokter tidak mengatakan apa pun?”

__ADS_1


“Kondisi Daddy mulai stabil, tinggal menunggu siuman saja.” Ayleen melirik sekilas ke arah kakak tertuanya yang tak berpindah sedikit pun. Sikap Erka dingin, bahkan tak menganggap keberadaannya. Komunikasi yang dilakukan pria itu hanya pada Cindy dan mommy-nya.


Apa salahku sampai Kak Erka berubah. Bahkan, ia tak memandang sama sekali.


Ayleen jadi canggung dan bingung. Berusaha mengingat kesalahannya sebelum pindah ke Bandung.


Apa karena aku tidak mau menemuinya malam itu? 


Ayleen membelalak. Konsentrasinya pecah. Ia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Ersa dengan fokus. Sejak awal tak menyangka penolakannya akan berbuntut luka. Ia membuat hubungannya dan Erka berantakan. Tertunduk, Ayleen tak bisa berpikir lagi. Kedua tangannya bertautan di atas pangkuan.


Maafkan aku, Kak.


...☆☆☆...


Ayleen masih tertahan di rumah sakit, hampir tertidur. Kepalanya terjatuh ke depan dan matanya terpejam. 


Ia harus menunggu Ersa yang sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Kakak keduanya itu mnerima email dari asistennya dan terpaksa memusatkan perhatiannya sejenak.


“Leen, tunggu sebentar ya.” Ersa berjalan mendekati kakaknya dan berbicara serius. Terlalu fokus dengan permasalahannya, ia tak menyadari adik kecil yang diajak bicara sudah berkelana ke alam mimpi.

__ADS_1


“Kak, bagaimana ini?” Ersa menunjukkan email di ponselnya.


“Ya sudah. Kamu urus saja.” Erka masih duduk di samping brankar dengan kedua tangan terlipat.


Tak lama, Ersa mendekat. “Leen, aku ke bawah dulu, ya. Harus mengambil beberapa berkas di mobil. Ada sedikit masalah dengan di kantor.” 


“Hmm.” Ayleen bergumam tanpa sadar. Membuka matanya sebentar dan terlelap kembali. Tubuhnya sudah tak bisa diajak kompromi. Seharian di kampus ditambah sakitnya Daddy.


Suara pintu tertutup, Ersa melesat turun ke area parkir untuk mengambil dokumen. Erka yang sejak tadi diam, mendadak menoleh ke sofa. Pria berusia kepala tiga itu mengulum senyuman, menikmati pemandangan yang menggelitik hati. 


Ayleen sedang duduk, tertidur dengan kepala berayun ke depan. Tak lama, tubuh gadis itu oleng dan kesadarannya hadir sesaat. Bibir mengecap, kemudian lelap kembali dengan kepala bertekuk ke segala arah, tergantung ke mana tubuhnya tumbang


Dia manis sekali. 


Senyum di bibir pria itu tertahan. Beranjak dari kursinya, ia berjalan mendekat. Sejak tadi menahan diri, ia akhirnya berkesempatan melihat dari dekat.


Berjongkok di depan Ayleen, Erka memperhatikan wajah cantik yang menghilang dari kehidupannya, tetapi selalu hadir di dalam mimpi malamnya.


Maafkan aku. Kita tidak mungkin.

__ADS_1


Erka buru-buru berpindah, duduk di sisi kiri Ayleen saat melihat tubuh gadis itu hampir tumbang. Secercah kebahagiaan muncul menyelimuti hatinya saat merasakan tubuh feminin itu bertumpu padanya. Kepala sang adik bungsu tumbang di pundaknya.


__ADS_2