
Erka uring-uringan selepas makan malam. Undangan Vania terbayang-bayang di benaknya bersama dengan belasan pesan masuk berisi pertanyaan demi pertanyaan untuk memastikan kedatangan pria itu ke kamar B11.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.05 malam kala Erka keluar kamar dengan jaket kulit dan celana denim berwarna hitam pekat. Di tengah kebimbangannya, ia menyempatkan diri menemui Dayana yang tengah diasuh Ayleen di kamar yang pintunya tak tertutup rapat.
Mengetuk pelan, Erka mendorong pintu tanpa menunggu pemilik kamar mempersilakan masuk. Pemandangan pertama menyambut adalah wajah mengantuk Ayleen yang sedang menimang Dayana. Bayi itu tak mau tidur. Selalu mengamuk sampai pagi dan baru bisa tidur selepas subuh.
“Ada apa, Kak?” Ayleen berdiri dengan tubuh bergerak ke kiri dan kanan untuk membuat bayi mungil itu diam.
“Kenapa tidak minta pengasuhnya saja yang mengurus Yaya?” Erka melangkah masuk.
“Giliran. Lewat tengah malam kalau masih seperti ini, pengasuh yang akan menanganinya.” Ayleen mengusap pelan punggung Dayana.
“Oh. Aku mau keluar sebentar.” Erka memberitahu tanpa diminta. Entah kenapa, belakangan ini ia merasa harus memberitahu Ayleen semua hal yang dilakukan di luar sana.
“Kak Erka mau ke mana?”
__ADS_1
Pria gagah itu diam. Tak tahu bagaimana menjelaskan duduk permasalahannya. Andai dijelaskan, ia tak yakin Ayleen bisa mengerti keadaannya.
“Aku ... aku.” Erka menatap lekat gadis di hadapannya. Ia tak tahu harus jujur atau menyimpan semua sendiri. Kalau menuruti hati, ia memilih menyimpan semua sendiri. Namun, kehadiran Ayleen yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tak bisa diabaikan begitu saja.
“Kak.” Sapaan lembut itu mengalun pelan, Ayleen mencoba untuk memberi pengertian seluas samudera. Erka berbeda dengan Ersa. Lahir dari ibu yang sama, tetapi sikap dan sifat keduanya bagai air dan api. Sebagai adik, ia tentu sudah hafal akan hal ini.
“Hmm.” Erka hanya bergumam, menurunkan pandangan. Pria itu tak sanggup beradu pandang. Ayleen memang hanya adik kecil yang tak berdaya, tetapi di situasi tertentu bisa jadi pemangsa paling berbahaya.
“Apa ada hubungannya dengan wanita tadi siang?” tebak Ayleen. Gadis itu berjalan menuju pintu kamar dan menutupnya rapat-rapat. Ia maklum kalau Erka tak mau obrolan mereka apalagi menyangkut Cindy di dengar orang luar.
“Jawab aku, Kak. Aku bukan anak kecil lagi,” pinta Ayleen.
Pria muda itu mengangguk.
“Dan Kak Erka mau menemuinya?” tebak Ayleen lagi.
__ADS_1
Tak sanggup memberi jawaban, Erka kembali menunduk. Kedua tangan terkepal disembunyikan di dalam saku celana. Ia bimbang. Menurut hati, ia juga enggan pergi. Namun, penasaran menuntunnya sampai di sini.
“Di mana? Aku janji tidak akan marah.” Ayleen menenangkan. Tak mungkin melawan Erka dengan kekerasan. Pria itu akan berontak dan memilih menjauh.
Erka mengangguk. “Di hotel.”
“Jangan pergi. Kalau memang tujuannya baik, tak mungkin minta bertemu di hotel. Jangan-jangan wanita itu hanya ingin menjebakmu, Kak. Kilat matanya saja berbeda. Seperti ada maksud terselubung.” Ayleen mengungkapkan isi hatinya.
Sembari menimang bayi merah di dalam dekapan, Ayleen duduk di tepi tempat tidur. Dari posisinya sekarang, ia bisa memandang Erka dengan jelas.
Erka tak berkata-kata, hanya diam sesekali memandang Ayleen. Baru kali ini terjebak di situasi canggung. Andai Cindy, tentu saja ia akan berontak.
“Aku tidak mengizinkan Kak Erka pergi,” tegas Ayleen. “Aku tidak peduli dengan ancamannya. Bagiku hanya angin lalu dan tak berpengaruh apa-apa, Kak.”
Lama Erka terdiam hingga akhirnya membuka suara.
__ADS_1
“Ya sudah. Aku tidak pergi.” Pria itu baru akan berbalik saat Ayleen menahannya.