
“Kak.” Ayleen menyapa saat Erka tak terusik dengan kehadirannya.
“Hmm.” Pria berusia kepala tiga itu mengangkat pandangan.
“Bagaimana yang ini?” tanya Ayleen.
“Cantik.” Erka menatap sekilas kemudian fokus kembali pada layar ponselnya.
Gadis yang siang itu tampak cantik hanya mendengus kesal. Tak bisa mendapat masukan dari Erka, ia bingung sendiri. Ini gaun ke lima yang dicobanya dan semuanya mendapat respons positif.
“Kak!” Ayleen menyapa ketus.
“Ya, Leen.” Erka masih tampak santai.
“Yang mana?”
“Ini okay.”
Mendengar jawaban Erka kekesalan Ayleen memuncak. Setiap diminta pendapat, Erka selalu menunjuk pada gaun yang melekat di tubuh.
__ADS_1
“Huh!” Mendengus kesal, Ayleen mengentakkan kakinya ke lantai dan berbalik.
“Sabar, Mbak. Semua pengantin laki-laki memang rata-rata tak peduli dengan hal-hal seperti ini. Menurutku, Mbak pilih saja yang ternyaman dikenakan,” saran karyawan butik.
“Ya sudah. Aku ambil yang ini saja,” putus Ayleen. “Oh ya, Mbak ... toiletnya di mana?”
“Di lantai satu.”
“Oh. Aku ke toilet dulu. Kalau pria dingin itu mencariku, tolong katakan padanya.” Ayleen pergi tanpa berpamitan menuju ke lantai satu.
Butik tiga lantai yang didesain elegan itu tak hanya melayani calon pengantin, di lantai satu juga menjual pakaian wanita dan aksesoris. Memutuskan langsung menuju toilet, Ayleen tak menyadari seorang memperhatikannya. Bahkan, wanita itu sudah mencari tahu sejak Ayleen masuk ke dalam butik bersama Erka.
...•••...
Merapikan gaun yang dikenakannya di depan wastafel, gadis itu terkejut saat pintu toilet terbuka. Wanita asing menyunggingkan senyuman. Awalnya, Ayleen tak peduli. Namun, tatapan yang tadinya ringan kini kian mengiris tajam.
“Selamat, ya.” Wanita yang tak dikenal itu tiba-tiba mendekati Ayleen dan menyodorkan tangannya.
“Maaf, apa kita saling mengenal?” Ayleen bingung. Dahinya berkerut, ia sedang berpikir keras. Tak ada ingatan tentang wanita dewasa yang kini menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
“Mungkin tidak. Tapi, semalam ... aku juga datang di acaranya Rendra. Kamu tidak sempat berkenalan. Aku ingat, kamu menunggu RK di pojok.”
“Benarkah? Maaf, kalau begitu.” Ayleen mencoba beramah-tamah.
“Oh, tidak masalah. Aku dengar, kalian mau menikah, ya?” Wanita yang tak mengenalkan diri itu bertanya dengan lancang.
Ayleen tersentak. Selama ini rencana pernikahannya dan Erka dirahasiakan. Bagaimana bisa bocor ke luar.
“Aku teman baiknya Cindy. Tidak menyangka, ya? Wanita baik seperti Cindy harus pergi secepat itu. Bunuh diri lagi. Ternyata ini alasannya. Aku baru tahu kenyataannya.” Wanita itu tersenyum licik.
Penasaran? Tentu saja Ayleen terusik. Jiwa ingin tahunya terpancing seketika saat nama Cindy dan berita kematian mendiang kakak iparnya itu diangkat kembali.
“Ma-maaf, Mbak kenal baik Kak Cindy?”
“Tentu saja. Aku bahkan sudah menduga pernikahanmu akan terjadi. Sebelum menikahi Cindy, calon suamimu itu telah berselingkuh. Aku katakan padamu ... hati-hati pada Erka, dia penjahat wanita. Kematian Cindy karena ulahnya. Kalau ada yang harus disalahkan atas kematian Cindy, Aryya Perkasa Hutomo Putra adalah orangnya. Aku sarankan ... kamu berhati-hati kalau tak mau jadi korban selanjutnya.”
“Mak- maksudnya bagaimana?” Ayleen terbata-bata.
“Tanyakan pada calon suamimu, apa yang terjadi di malam sebelum kematian Cindy. Dia harusnya tahu jawabannya.” Wanita itu tersenyum licik. Baru saja akan berbalik dan keluar dari dalam toilet, mendadak pintu terbuka kasar dari luar.
__ADS_1
Ayleen terkejut, demikian juga dengan sang wanita. Keduanya menatap ke titik yang sama.
“Apa maumu? Kenapa menemui Ayleen di belakangku. Ada kepentingan apa? Sampaikan saja padaku!”