
“Kak Cindy meninggal bunuh diri,” ungkap Ayleen ragu-ragu. Benar begitu, Kak?” Ayleen mengusap kasar wajahnya yang basah.
“Aku tidak tahu. Aku tiba di rumah, dia sudah pergi.” Erka menjawab santai. Tampak pria itu membuang pandangannya ke sembarang arah. Tak mau Ayleen membaca kegugupannya. Apa pun alasan dibalik kepergian Cindy, ia adalah orang yang patut disalahkan.
“Kak Cindy tak mau diceraikan dan memilih menyudahi semuanya dengan cara ini. Pergi dalam diam dan jadi pecundang.” Ayleen mulai berani bersuara setelah melihat Erka diam seribu bahasa.
“Aku tidak tahu menahu. Tapi, aku akui ... kami akan bercerai.”
“Bukan kami, Kak. Tapi, Kak Erka. Kenyataannya, Kak Cindy menolak perceraian itu.” Ayleen melanjutkan.
“Apa lagi yang kamu ketahui?”
“Itu saja, tapi ini tidak adil. Untuk apa menikahinya kalau diceraikan?”
“Kami punya alasan untuk bercerai. Cukup kamu tahu saja, aku dan Cindy sudah tidak ada kecocokan. Jadi untuk apa bertahan.”
“Kak Erka tidak menyesal sama sekali?” Ayleen menggigit bibir, dipandanginya sang kakak yang terlihat angkuh.
__ADS_1
“Tidak. Itu pilihan Cindy. Sampai detik ini aku menghargai pilihannya untuk pergi.” Erka menatap langit-langit ruang kerjanya.
Hanya Tuhan yang tahu seberapa menyesalnya ia saat ini. Andai waktu bisa diputar ulang, pria itu tak akan menawari pernikahan yang berujung petaka. Seberapa besar sakit hatinya karena pengkhianatan yang dilakukan mendiang istrinya dan berujung hadirnya Dayana tak sebanding dengan nyawa Cindy.
Kini, dengan alasan menghargai mendiang istrinya, ia harus ikhlas menebus bagiannya dengan menerima Dayana di dalam kehidupannya, menutup rapat asal bayi tak bersalah itu termasuk, menutup mata atas perselingkuhan Cindy.
Ruangan mendadak senyap ketika sebagian kisah terbongkar. Ayleen diam dan Erka masih terus menatap lawan bicaranya.
“Aku ... aku tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Pernikahan ini pun ... bukan sesuatu yang aku inginkan saat ini. Kepergian Cindy mengubah hidupku. Aku harap kamu bisa mengerti. Ada hal-hal yang tak bisa aku ceritakan padamu.” Jeda sebentar, Erka menghela napas panjang.
“Kalau kemarin ... kamu menerima pernikahan ini karena Yaya. Aku pun menawarkan hal yang sama. Jadilah mama terbaik untuk Yaya, aku janji akan memperlakukanmu dengan baik.”
“Mengenai kuliah. Jangan khawatir. Kamu bebas kuliah sampai menyelesaikan S1, S2 atau S3 sekalipun. Aku tidak keberatan selagi Yaya tidak terlantar.”
Ayleen mengangguk.
“Ada beberapa hal yang tidak aku sukai. Nanti, kamu akan tahu dengan sendirinya.”
__ADS_1
Ayleen hanya menatap sang kakak. Ada banyak perubahan yang ditangkapnya. Berbeda dengan Ersa, Erka penuh teka-teki. Beberapa tahun berpisah karena pria itu harus menyelesaikan pendidikan di luar negeri, sekembalinya jadi sosok berbeda.
Ditambah pernikahan yang berakhir duka membuat putra sulung Hutomo Putra itu menjadi tak terjamah. Sikapnya berubah-ubah, terkadang manis dan kadang pahit.
Suara ketukan di pintu mengagetkan keduanya. Terdengar suara panik Ersa, menjerit dari depan ruangan.
“Ka, buka pintunya.” Gagang pintu itu berayun kencang, gedoran pun kian tak beraturan.
“Buka pintunya, Ka. Kurang ajar! Berani menyakiti Ayleen, kamu akan berhadapan denganku, Ka. BUKA!” Ersa yang panik mulai mengamuk. Dari sekadar gedoran, kini pintu kayu itu ditendangnya.
“Aku hitung sampai tiga. Kalau masih tidak mau buka, aku dobrak, Ka.” Ersa masih mengancam.
“Satu!”
“Dua! Ka, buka pintunya. Terjadi sesuatu pada Ayleen, tamat riwayatku di tanganku.”
Ayleen baru akan berjalan ke arah pintu saat Erka mencegah. Ditautkan jemari tangannya dan Ayleen dengan mesra sebelum membawa gadis itu bersamanya ke depan pintu.
__ADS_1
“Aku tidak suka ada orang ketiga terlibat di masalah kita, Leen. Ingat itu. Mengenai Cindy, rahasiakan dari siapa pun, termasuk Ersa.” Erka menegashkan.