
“Ada apa?”
Genggaman tangan Erka pada pergelangan Ayleen kian erat. Ia tak mau melepas meski sedang berhadapan dengan Ersa. Cemburu? Tentu saja. Ersa mengamuk dan berteriak mengancamnya di depan ruangan yang diyakini bisa didengar banyak orang.
“Leen, kamu baik-baik saja?” Ersa meneliti Ayleen begitu pintu terbentang sempurna.
“Ya, tentu saja.” Erka mengambil alih pertanyaan yang ditujukan untuk sang calon istri.
Mata membulat dan merah itu menandakan amarah tertahan. Sesabarnya Ersa, pria itu bisa sampai di titik ini. Pandangan turun pada cekalan tangan Erka pada gadis yang dicintainya.
“Leen, kalau urusanmu sudah selesai ... sebaiknya pulang.
__ADS_1
Erka yang paham arti pandangan adiknya segera menautkan jemarinya pada sela jari-jari lentik Ayleen. Ia bersorak-sorai dalam hati kala pergerakannya disambut baik. Gadis yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu turut menggenggam tangannya dengan erat.
“Aku pulang dengan Kak Erka, Kak.”
“Hmm. Aku dan Ayleen masih banyak urusan yang harus diselesaikan.” Erka menambahi. Pandangan pemimpin perusahaan itu berpindah pada Erick. Asisten yang diyakini penyebab terusiknya Ersa.
“Rick, tolong minta sekretarisku atur jadwal dengan pihak butik dan toko cincin. Aku akan mencari gaun pengantin dan cincin pernikahan.” Erka tak peduli dengan binar cemburu di mata Ersa. Untuknya saat ini ia bahagia karena berada di atas angin.
Bukan rahasia lagi, sifat temperamen Erka belakangan mencuat setelah pernikahan. Dulu sewaktu belum terikat pernikahan dengan Cindy, semua berjalan normal. Namun, dalam sekejap Erka menjadi sosok berbeda.
Rumah tangga pasangan pengantin baru yang biasanya hangat dan penuh cinta berbeda di tangan mereka. Baku hantam tak terelakkan dan yang lebih mengenaskan bisa terjadi hampir setiap malam. Selain itu, Erka jadi tak banyak bicara dan Cindy jarang pulang ke rumah.
__ADS_1
Semua mulai berubah kalau kehamilan Cindy mulai terkuak, pasangan ini kembali bersama walau tak terlihat mesra. Kini, Ersa takut kalau hal yang sama menimpa Ayleen. Andai wanita lain, pria muda itu bisa tutup mata, tetapi tidak untuk adik tercintanya.
“Aku permisi dulu.” Ersa tak sanggup melihat kemesraan yang dipamerkan Erka. Entah nyata atau fatamorgana, tetap saja rasanya menyesakkan. Ia tak pernah siap walau sudah membekali diri saat Ayleen menyetujui perjodohan.
Tak ada kata yang keluar dari bibir Erka, pria itu memilih membanting pintu hingga tertutup rapat. Genggaman tangan terlepas, kemesraan ikut lenyap.
“Kak, maafkan aku.” Ayleen mengulang kata-kata yang sama. Tak ingin hubungan memburuk, gadis itu memilih untuk mengalah. Toh, sekarang bukan lagi perkara yang menang atau kalah, tetapi siapa yang memiliki keberanian untuk memperbaiki dan meminta maaf terlebih dulu.
Ia akan menikah dengan Erka. Hubungan mereka akan berantakan andai tak ada yang mau mengalah. Sikap keras tak bisa dilawan dengan hal yang sama. Dua batu dibenturkan hanya akan menimbulkan suara keras dan berakhir hancur atau tak jadi apa-apa.
Ada cara lain yang bisa digunakan untuk membuat semuanya aman dan nyaman. Ayleen berharap ia bisa menjelma menjadi air atau udara, mengikis kekerasan hati Erka dengan cara lembut dan tak terlihat.
__ADS_1
“Sudah. Jangan ulangi lagi.” Suara Erka melemah, dipungutnya surat Cindy. Tanpa dibaca, dimasukkan kembali ke dalam amplop dan dimasukkan ke dalam laci kembali.