Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 2


__ADS_3

“Leen, tolong buka pintunya. Ini Kak Erka.”


Ketukan pelan di kaca jendela kamar Ayleen mengusik lelap gadis remaja 17 tahun itu. Ia baru saja tertidur setelah bertempur dengan buku-buku pelajaran. Ayleen gadis kelas XII itu sedang menghadapi ujian akhir, bersiap menamatkan bangku SMA dan sebentar lagi melanjutkan ke perguruan tinggi.


“Leen.”


“Leen, ini Kak Erka.”


“Leen.”


“Leen.”


Panggilan bersamaan dengan ketukan di jendela kaca itu baru berhenti saat terdengar suara Ayleen menjawab dari dalam.


“Ya, Kak.” Gadis itu menguap sambil menyibak tirai jendela. Matanya setengah terpejam, mengintip sosok tampan di balik jendela kamar.


“Buka pintunya.” Erka memerintah di tengah kegelapan.


Malam semakin pekat. Hari sudah berganti, pria muda dengan tampilan berantakan itu sepertinya gagal menepati janji pada si pemilik rumah. Erka berpamitan hanya keluar sebentar dan seperti biasa, pria itu akan pulang setelah lewat tengah malam dan mengendap-endap layaknya pencuri.


Berjalan pelan menuju pintu utama, Ayleen sudah paham sekali dengan kebiasaan sang kakak. Pasti pria itu tidak mau kepulangannya diketahui seisi rumah. Ayleen menatap heran di gelapnya malam. Saat pintu terbuka, ia tak menemukan Erka di selasar rumah.


“Kak.”


“Kak.” Ayleen merapatkan piama tidurnya. Dinginnya hawa malam menembus kulit putih dan menusuk tulang.


“Kak.” Gadis itu bergegas menuju ke luar, berjalan ke arah jendela kamar.


Terkejut, Ayleen buru-buru berlari menuju ke arah Erka yang berjalan sempoyongan. Bau minuman keras menyengat, menusuk indra penciumannya. Belum lagi aroma parfum wanita yang masih menempel di jaket kulit yang dikenakan sang kakak.


“Kak, kamu baik-baik saja?” tanya Ayleen khawatir memandang pria yang terlihat kepayahan, berjalan dengan langkah kaki tak teratur.


“Kak, apa yang terjadi?” Ayleen buru-buru menyodorkan dirinya menjadi penopang. Meskipun tubuh mungilnya tak sepadan dengan tubuh kekar Erka, tetapi keberadaan Ayleen lumayan membantu. Setidaknya Ayleen bisa menolong menunjukkan arah menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


“Leen, kepalaku pusing.” Erka mengeluh. Langkahnya tak beraturan, tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan. Memeluk erat adik kecilnya, ia berharap Ayleen sanggup menuntunnya sampai ke tempat tidur.


“Aduh, Kak. Kenapa berat sekali?” Ayleen mengeluh. Dengan penuh perjuangan, akhirnya ia berhasil membawa putra tertua Hutomo Putra itu menuju ke peraduan.


Bruk.


Tubuh Erka terhempas ke tempat tidur bersamaan dengan tubuh mungil Ayleen yang ikut jatuh di atasnya.


“Leen, kenapa kamu meniduriku?” protes Erka setengah sadar.


“Maaf, Kak Erka yang menarikku.” Ayleen menjelaskan. Walau ia tahu penjelasannya tidak berguna. Erka tidak sadar sepenuhnya. Pria berusia 30 tahun itu di ambang batas kesadarannya.


“Kak, bajunya mau diganti?” tawar Ayleen. Kantuknya hilang akibat ulah Erka yang mengesalkan.


“Hmm.” Erka bergumam pelan.


“Kak ....” Ayleen menatap Erka yang sudah memejamkan mata dan hampir terbuai ke alam mimpi.


Ayleen menghela napas kesal. Ini bukan yang pertama, Erka sudah sering melakukannya. Pulang malam, pesta, minuman, dan tentu saja tidur dengan banyak wanita. Siapa yang tidak mengenal Aryya Perkassa Hutomo Putra.


“Kak!” Ayleen menarik tangan Erka supaya segera bangun dan tersadar.


“Hmmm.”


“Kak ....”


“Yes, Babe. Kenapa cerewet sekali?” Erka protes, dengan mata terpejam. Dengan tenaga yang tersisa, ia menarik Ayleen agar ikut tidur bersamanya.


“Aaah, Kak!” pekik Ayleen, terjerembab jatuh ke dalam pelukan Erka. Belum sempat memberi perlawanan, kakaknya sudah membalikkan tubuh mungilnya dan menindih tanpa perasaan.


“Babe, one more. I need you.” Erka bergumam tak jelas.


“Ya Tuhan, Kak Erka benar-benar mabuk. Habis aku malam ini,” cicit Ayleen, buru-buru menutup mulut dengan tangan. Ia tidak mau bibirnya ternodai oleh pria mabuk dan penakluk wanita.

__ADS_1


“Kak, ini Ayleen. Bukan salah satu koleksi gadis bodohmu,” ucap Ayleen sembari mendorong tubuh kekar Erka yang sedang menguncinya.


Sedikit mengeluarkan tenaga, Ayleen berhasil meloloskan diri. Ia berlari ke kamar mandi dan mengambil seember air untuk menyiram Erka supaya cepat sadar. Ia tidak mau sampai kakaknya terkena masalah dengan Daddy atau Mommy.


Byur


Siraman pertama belum berhasil membuat Erka sadar sepenuhnya.


Byur.


Ember kedua bersamaan dengan teriakan Ayleen sanggup membuat pria mabuk itu tersadar walau belum seratus persen.


“KAK, BANGUN!”


“Aw! Apa-apaan ini, Leen?” Erka mengeluh sembari meremas rambutnya. Ia merasakan kepalanya berdenyut, dunia terasa berputar saat ini.


“Ganti pakaianmu, Kak. Aku buatkan air lemon. Setelah itu, berendam di air hangat. Aromamu itu seperti tikus tercebur di dalam got. Dan ....”


“Dan apa?” potong Erka.


“Sudahlah. Nanti saja baru membahasnya. Aku ke dapur dulu.”


Ayleen memilih untuk tidak banyak bicara. Gadis itu sedang berpacu dengan waktu. Tidak bisa membiarkan ulah Erka ketahuan orang lain. Daddy dan Mommy akan marah besar kalau sampai tahu Erka mabuk dan pulang terlambat lagi.


Putra tertua Hutomo Putra itu memang selalu berulah. Sejak menyelesaikan kuliahnya di Amerika, Erka ditarik pulang untuk bekerja di perusahaan keluarga mereka. Meskipun begitu, sampai hari ini Erka tidak berubah, tetap bersenang-senang dan menghabiskan uang serta waktunya dengan teman-teman di klab hampir setiap malam.


Setengah jam bertempur di dapur, Ayleen masuk kembali ke dalam kamar dengan segelas air lemon hangat dan sepiring mi goreng instan. Menjadi putri satu-satunya di keluarga Hutomo, membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal.


Selain merebus air dan memasak nasi, Ayleen hanya ahli mengolah mi instan. Tidak ada yang memintanya masuk ke dapur, semua sudah dikerjakan asisten rumah tangga keluarga Hutomo.


“Kak, aku tinggal dulu, ya. Aku harus kembali tidur,” teriak Ayleen di luar pintu kamar mandi. Ia tersenyum saat masuk ke dalam kamar dan mendapati Erka sudah membersihkan tubuh di kamar mandi.


Keluar kamar kakaknya dengan mengendap-endap, Ayleen kembali ke kamar tanpa menyadari kalau seseorang sedang mengawasi pergerakannya dari kejauhan. Sepasang mata yang sudah mengintai sejak gadis remaja itu memapah Erka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2