
Sepanjang resepsi pernikahan, Erka uring-uringan. Konsentrasinya terbelah, tak lagi fokus menyalami para tamu undangan. Perhatian pria dewasa itu terbagi saat pandangannya menangkap sesuatu yang tak beres di meja utama, tempat di mana keluarga intinya duduk.
Rarendra yang menyusup di antara keluarga inti tentu saja menimbulkan pertanyaan. Sahabatnya itu bukan siapa-siapa, bisa duduk dan bergabung di sana pasti ada sesuatu di baliknya. Apalagi ia melihat sendiri kalau pria tampan itu ditempatkan di sisi Ayleen—adik yang kini memiliki arti khusus di hatinya.
“Honey, are you okay?” Cindy merengkuh kencang lengan Erka saat salah satu sahabatnya menyodorkan tangan dan pria dewasa itu mengabaikan begitu saja.
“Eh, maaf.” Erka menyambut uluran tangan seorang gadis cantik, mengalihkan perhatian kembali. Ia mencoba fokus pada acaranya.
“Selamat.”
“Terima kasih.” Erka berkata datar, tak ada senyuman menghiasi wajah tampannya.
“Kamu baik-baik saja?” Cindy mengulang pertanyaan yang sama.
“Ya, aku baik-baik saja.”
__ADS_1
Memandang nanar ke arah adiknya, hatinya berdenyut kala melihat Hutomo—daddy-nya menjamu Rarendra dengan cara tak biasa. Ia yakin, ada udang di balik batu. Tak mungkin, pria tua itu mau bermanis-manis bahkan mengizinkan Ayleen didekati tanpa ada maksud dan tujuan.
Gemuruh di dadanya semakin menjadi, tatkala ia menangkap sorot cemburu Ersa—adiknya, yang juga memiliki perasaan yang sama. Ya, terlihat jelas kilat mata itu penuh iri. Tak lepas dari Ayleen sejak tadi.
“Aku tidak sendirian. Ersa menyukai Ayleen,” gumamnya pelan.
Perasaan Ersa mungkin bisa terbaca semua orang. Selama ini, putra kedua Hutomo Putra adalah orang terdekat Ayleen. Selalu menjaga dan siap setiap dibutuhkan. Tak jarang, Ersa menjemput dan mengantar gadis itu ke kampus dengan berbagai alasan.
“Aku tidak bisa membiarkan Rarendra mendekati Ayleen. Aku mengenal jelas siapa sahabatku. Dia memang teman baikku, tetapi bukan pria yang baik untuk Ayleen.”
***
Setelah melewati berbagai prosesi dari siang sampai malam, pasangan pengantin baru pun akhirnya bisa beristirahat di hotel. Kamar pengantin yang sudah disiapkan membuat Erka menggeleng.
“Apa dikira kita pengantin baru?” Pria matang masih dengan tuksedo lengkap itu menghempaskan tubuhnya di sofa, melepas penat.
__ADS_1
“Honey, tolong.” Cindy sudah berdiri di depan suaminya, menyodorkan punggung mulus yang tak terbungkus apa pun.
“Kenapa?” Erka tengah melepaskan dasi kupu-kupunya dan melemparnya asal.
“Bantu aku melepaskannya, Honey,” pinta Cindy dengan manjanya.
Seringai licik muncul di sudut bibir Erka. “Kamu memancingku lagi, Baby?”
Cindy berbalik dan menggigit bibir. Kerlingan mata dan bahasa tubuh menggoda, ia menunduk dan menyapu bibir suaminya dengan tidak tahu malu.
Bukan pertama untuk keduanya, Cindy tak malu-malu memulai bahkan meminta lebih dulu. Mereka sudah sering menghabiskan malam bersama, bertukar napas dan keringat.
Kecupan basah yang semakin lama, makin menuntut, memacu adrenalin keduanya. Aliran darah berdesir, kesadaran sudah di ambang batas. Helaian demi helaian benang terhempas, Erka takluk pada sisi lemahnya, tak sanggup mengontrol diri dan mengatakan tidak pada pesona makhluk feminin yang siap meliuk-liuk di atas tempat tidurnya.
Di sela kecupan, pria dewasa yang sudah polos itu masih sempat mendengar ancaman halus yang membuatnya tersentak.
__ADS_1
“Mulai sekarang, hempaskan semua wanita yang pernah tidur denganmu. Aku tidak mau terlibat pertengkaran dengan mereka. Aku tidak main-main, Honey.” Cindy mengancam dengan halus di sela pertautan bibir mereka.