
Banyak pelajaran dipetiknya, pernikahan dan kematian Cindy berpengaruh ke dalam kehidupan pribadi. Ia tidak yakin bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang biasa lagi setelah tragedi mendiang istrinya.
“Kak Erka baik-baik saja?”
Ayleen menangkap suara pria itu bergetar setiap menyebut nama Cindy. Entah apa yang sebenarnya terjadi malam itu sampai kakaknya tampak terpukul. Gadis itu bisa mengingat bagaimana emosinya Erka kala ia membuka surat peninggalan di laci meja kantor.
“Hmm.” Erka tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk dan menatap lurus ke depan.
Refleks, Ayleen tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Erka dan menguatkan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kak Erka dan Kak Cindy malam itu. Aku di sampingmu karena Yaya, Kak.”
Erka menyimak dalam diamnya. Pria itu mendengar tetapi tak terusik sedikit pun dengan ucapan Ayleen. Hanya melirik sekilas tangan adik perempuan yang menggenggam tangannya.
“Tidak perlu ikut campur masalahku, Leen. Urusi masalahmu sendiri dan Yaya. Fokus pada kuliahmu dan jangan melangkah terlalu jauh ke dalam hidupku. Kamu sudah melihat bagaimana kehidupan dan pergaulanku, aku harap kamu tak melibatkan diri.”
Ayleen bungkam. Beberapa menit kemudian ia menarik tangannya kembali.
“Kak Erka mau bertemu dengan wanita tadi?” Secuil cemburu membakar sudut hati Ayleen. Ia memang menolak untuk peduli, tetapi tiba-tiba perasaannya tidak enak.
__ADS_1
Tak ada jawaban, pria di balik kemudi hanya menyunggingkan senyuman bermakna ganda. Entah jawaban ya atau tidak, Ayleen tak bisa menebaknya.
...•••...
“Apa maumu?”
Memutuskan bertemu di sebuah restoran Jepang sepulang kantor, Erka sudah duduk di depan wanita cantik nan seksi dengan kerling mata menggoda. Sikap berbeda ditunjukkan sewaktu siang di toilet wanita.
“Aku hanya terlalu terkejut dengan keputusanmu. Kadang aku merasa kematian Cindy sia-sia. Dia pergi, meninggalkan putrinya pada pria sepertimu. Ckckck.” Wanita itu menggeleng. “Cindy pasti menangis dari atas. Tanah kuburannya saja belum kering dan suami tersayangnya sudah mempersiapkan pernikahan dengan gadis lugu yang selama ini jadi pemicu pertengkaran di rumah tangga kalian.”
“Vania Raharja. Betul begitu namamu, kan?” Erka menegakkan duduknya. “Model, artis ... mungkin. Karena aku tidak melihat karyamu sama sekali.” Erka tergelak.
“Tidak ada. Hanya memberitahumu kalau semua tentang Vania Raharja sudah ada di tanganku. Aku yang harusnya bertanya ... apa yang kamu inginkan? Apa tujuanmu mendekati calon istriku?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin bisa mengenalmu lebih dekat. Selama ini kisah tentangmu, rumah tanggamu ... aku tahu dari bibir Cindy. Bahagia sekali bisa duduk berdua denganmu di sini.” Vania tersenyum licik.
“To the point saja. Silakan katakan apa yang kamu inginkan dariku. Tapi, jangan pernah dekati istriku. Kamu mungkin dekat dengan Cindy, bahkan rahasia kami pun dibongkar semua.”
“Tentu saja. Aku harap bisa dekat dengan istri barumu juga.”
__ADS_1
“Jangan harap!” tekan Erka. “Aku tidak tahu apa saja yang kamu ketahui. Bagiku tidak penting. Yang terpenting jangan ganggu istri dan anakku.”
“Wow, suami idaman sekali. Kenapa beda dengan yang digambarkan Cindy padaku? Malam di mana mantan istrimu memutuskan mengakhiri hidupnya, dia masih sempat mengeluh tentangmu.”
“Apa yang dikatakan Cindy?” Erka penasaran.
“Benar-benar ingin tahu?” Vania menggigit bibir. Matanya berbinar bahagia. Dengan ujung telunjuknya, wanita itu memberanikan diri mengukir kata di atas pergelangan tangan Erka yang tergeletak di atas meja.
“Bagaimana?” tawar Vania mengedipkan mata setelah menulis beberapa huruf di kulit Erka.
Pria dewasa itu mendelik. “Mak-maksudnya?”
Vania tersenyum licik. Jemari tangannya bergerak dan mengurai kepalan tangan Erka. Ditulisnya sesuatu di telapak tangan pria itu.
“Temui aku nanti malam di hotel yang sama dengan tempat pernikahanmu dan Cindy. B-11.”
Vania mengukir huruf B dan angka sebelas di telapak tangan Erka. Kedipan mata menyempurnakan kalimat manja wanita itu sebelum akhirnya bangkit dan menyambar tas tangannya. Berjalan mendekat, sahabat baik Cindy itu mendadak mendekatkan wajahnya di telinga Erka dengan sedikit membungkuk.
“Aku tunggu, Sayang. Nanti malam, akan aku buka semua tentang Cindy padamu, termasuk diriku.” Terkekeh pelan, Vania tiba-tiba mengecup pipi Erka.
__ADS_1
Terlalu mendadak, pria itu tak sanggup menghindar. “Kurang ajar!” Erka mengusap kasar jejak ciuman Vania di pipinya.