
“Aku mulai terbiasa tinggal di sini, Honey.” Cindy mengecup bibir suaminya sekilas. Jari lentik dengan kuku-kuku panjang dicat merah menyala tampak menari di dagu Erka.
“Jangan mengada-ada, Baby. Sejak awal, kamu yang menolak tinggal di sini. Kenapa sekarang tidak mau pergi?”
“Sejak awal kamu yang mengubah rencana. Kenapa sekarang berubah pikiran? Aku tak keberatan tinggal di sini. Apalagi Daddy, Mommy, dan kekasih kecilmu akan menetap di Bandung.” Cindy tersenyum licik. Ia bahagia ketika wajah suaminya berubah redup saat nama Ayleen meluncur dengan lancar dari bibirnya.
“Terserah padamu. Jangan pernah menyentuh Ayleen. Aku akan membunuhmu sampai Ayleen menangis.” Erka mengancam.
“Uh, aku takut.” Cindy berpura-pura ketakutan.
“Kurang ajar! Kamu meledekku?” Erka menarik kasar pergelangan tangan istrinya dan membanting wanita itu ke atas tempat tidur.
Cindy tersentak. Wanita itu menciut saat menangkap kilat amarah di bola mata Erka.
“Kamu mau apa?” Cindy panik, saat Erka berjalan mendekat. Telunjuk pria itu terarah pada istrinya.
“Aku tidak takut dengan ancamanmu. Hanya saja, jangan sampai mengusik Ayleen. Aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!” Erka melepaskan kaus dari tubuh kekarnya, menyusul celana pun ikut turun sampai ke mata kaki.
__ADS_1
“Aku kabulkan permintaanmu, bukan karena aku takut padamu. Aku hanya tidak ingin Ayleen terluka. Jangan sentuh dia. Ayleen tidak tahu apa-apa.”
Rasa takut Cindy perlahan menguap. Ditelitinya pria tampan hampir polos yang berdiri menantang di depannya.
“Aku mencintai Ayleen. Sangat. Aku menyesal menolaknya dulu. Tapi, aku sudah tidak bisa mundur lagi. Aku hanya memperbaiki apa yang bisa aku perbaiki. Aku dan Ayleen tak melakukan apa pun. Aku tahu dia akan menetap di Bandung, artinya kami tidak akan bertemu setiap saat. Artinya, aku akan merindukannya. Itu saja.” Erka menegaskan.
***
Setelah malam di mana Erka dan Ayleen tidur bersama dan ketahuan Cindy, semua berubah, termasuk sang putra tertua, Aryya Perkasa Hutomo Putra. Tak ada lagi, pria yang menyapa semua anggota keluarga setiap pulang dari kantor, Erka menjadi dingin dan tak tersentuh.
Puncaknya tiga hari sebelum keberangkatan Hutomo, Veronica, dan Ayleen ke Bandung. Putra sulung Hutomo itu tak lagi pulang ke rumah, menghadirkan tanya di benak semua orang. Cindy yang tak tahu harus menjawab apa setiap ditanya anggota keluarga lain, hanya bisa menggeleng.
Pandangan Hutomo tertuju pada Ersa, pria tua itu mencari jawaban.
“Aku tidak tahu apa-apa, Dad.” Ersa berkata sembari menyuapkan sup ke dalam mulutnya.
“Apa ada masalah di kantor?” Hutomo masih berusaha mengorek jawaban.
__ADS_1
Ersa menggeleng.
Mengalihkan perhatian pada istrinya, kembali Hutomo mencari jawaban dari istrinya.
“Aku tidak tahu apa-apa. Belakangan Erka memang jarang di rumah.” Veronica mencoba menjelaskan apa yang diketahuinya. Wanita itu memandang ke arah Ayleen, mencari jawaban yang mungkin saja disimpan putrinya dari semua orang selama ini.
***
Ayleen sedang merapikan pakaian dan memasukkannya ke dalam koper saat ponsel di atas tempat tidur berdenting pelan. Sebuah notifikasi obrolan masuk dari aplikasi hijau yang tampak di layar menyala.
“Kak Erka?” Ayleen mengernyit.
Pria yang membuat gusar semua orang sepanjang makan malam, tiba-tiba mengirim pesan padanya. Tak biasanya, belakangan ini Erka terkesan menghindar. Bahkan, kakak sulungnya tak menjelaskan apa pun setelah malam di mana mereka tidur berdua dan tertangkap basah Cindy.
[Temui aku, di depan gerbang rumah malam ini. Aku akan menjemputmu.]
Ayleen menelan ludah. Jujur saja ia bingung. Gadis itu kembali tersentak saat dentingan pesan masuk di aplikasi yang sama.
__ADS_1
[Aku di dalam mobil. Aku menunggumu datang padaku. Ada yang ingin aku sampaikan padamu, Leen.]
Pesan kedua dari pengirim yang sama. Jari tangan Ayleen gemetar. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mengikuti permintaan Erka atau mengabaikannya begitu saja.