Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 90


__ADS_3

“Ya sudah. Aku tidak pergi.” Pria itu baru akan berbalik saat Ayleen menahannya.


“Aku tidak percaya pada Kak Erka lagi. Tidur di sini malam ini. Bisa saja Kak Erka membohongiku. Aku tidak mau sampai Kak Erka dijebak. Bukan untukku, tapi ini demi Yaya.”


Tawa putra tertua Hutomo itu pecah ketika berhasil mencerna kata-kata adik angkatnya.


“Kamu sedang mengundangku, Leen. Apa bedanya dengan Vania? Dia mengajakku bertemu di kamar hotel dan kamu menahanku di kamarmu.”


“Beda. Kak Erka calon suamiku. Aku menahan juga karena punya alasan dan bisa menjamin tidak akan bertindak macam-macam.”


“Sudahlah.” Erka mengibaskan tangannya dan berjalan ke sisi tempat tidur yang lain.


“Jadi namanya Vania?” Ayleen mengalihkan pembicaraan. “Dia siapanya Kak Cindy? Kak Erka mengenalnya?” Ayleen masih mencecar banyak pertanyaan.


“Temannya Cindy. Kenapa?’ Erka berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Kedua tangan pria itu melipat di dada. 


“Ada masalah apa sampai meminta bertemu. Harusnya dia tak ada kepentingan apa pun dalam kehidupanmu dan Kak Cindy. Patut dicurigai.”

__ADS_1


Ayleen membaringkan Dayana di tengah ranjang. Tak biasanya bayi mungil itu kalem dan terlelap di jam begadang. Biasanya, bayi itu akan berteriak sampai azan subuh.


“Kak, aku titip Yaya. Mau ke kamar mandi dulu.” Ayleen berjalan mengendap-endap. Baru beberapa langkah, Dayana merengek. Gadis itu berbalik dan melihat Erka berbaring menyamping. Satu tangan menahan kepala dan tangan lainnya menepuk pelan bayi mungil di tengah peraduan.


Haru menyelimuti perasaan Ayleen kala kembali dari kamar mandi, mendapati ayah dan anak yang sedang berbaring bersama. Erka menjadi sosok berbeda saat berhadapan dengan Dayana. Pria dingin, sesekali ketus itu mendadak jadi papa yang baik dan penuh kasih sayang.


Kak Cindy pasti bahagia melihat ini. Setidaknya, kepergiaannya tak sia-sia. Kak Erka tak menyia-nyiakan Dayana. Tenang di sana, Kak. Aku janji akan menjaga keduanya untukmu.


...•••...


Mata terpejam, lelap Erka terusik kalau Dayana merengek.


“Sssttt, sssttt.” Erka menepuk pelan kaki Dayana yang terbungkus bedong dan memasukkan lagi dot ke dalam mulut mungil bayi itu.


Pertama kali tidur bersama Dayana, banyak pengalaman dan cerita baru dilalui. Ia jadi tahu jam minum susu bayi berusia beberapa hari yang merengek setiap hampir dua jam sekali.


“Ssssttt, jangan menangis, Nak. Kasihan Mama. Dia kelelahan menjagamu sepanjang malam.” Erka menarik tubuhnya dan duduk bersandar di tempat tidur. Setelah memastikan rengekan Dayana tak mau berhenti, pria itu memilih membawa ke dalam dekapan, persis seperti yang dilakukan Ayleen sepanjang malam.

__ADS_1


Tangis Dayana bukannya reda. Semakin ditimang, bayi itu makin berteriak kencang.


“Ssstt, ssstt, jangan menangis.” Tak punya jalan lain, Erka memutuskan membawa putrinya keluar dari kamar agar tak mengganggu lelap Ayleen. 


Namun, baru saja pintu terbuka, Veronica sudah berdiri dengan tangan terkepal, posisi siap mengetuk.


“Loh, kamu tidur di sini?” Veronica menatap putranya yang sedang menggendong Dayana dengan wajah mengantuk. Kaus putih dan celana denim tampak berantakan melekat di tubuhnya yang atletis.


“Ya, Mom.”


“Mommy baru akan membawa Dayana keluar. Menurut pengasuh semalaman Ayleen yang mengasuhnya tanpa bergantian.” 


“Ya, Mom. Ini tolong diurus. Aku mengantuk.” Menyerahkan Dayana pada mommy-nya, Erka sudah berbalik dan siap masuk ke kamar lagi.


“Eitts, kamarmu di sana. Ini kamar Ayleen.” Wanita tua itu mengingatkan.


“Hah!” Tersentak dari kantuk yang menyerang, Erka mengulum senyuman dan bergegas menuju ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2