Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 40


__ADS_3

"Ya, ada apa, Pak?"


Asisten kepercayaan yang diminta Erka bertahan di rumah sakit sejak kemarin menyapa dengan tenang.


“Apa di sana aman, Rick?”


“Ya, Bos. Jangan khawatir. Aku bisa mengurus semua untukmu.”


“Ersa ada di sana?” 


“Semalam pulang bersama Pak Bos dan Bu Bos besar.” Pria yang mengabdi pada perusahaan sejak menamatkan kuliahnya itu menjelaskan.


Erick Prayoga, pria berbakat yang kini mengambil tanggung jawab sebagai tangan kanan Erka bukanlah orang sembarangan. Berusia sepantar dengan putra tertua Hutomo, pria berprofesi sebagai asisten itu mengemban tugas yang tak mudah.


Sebelum menjabat asisten Aryya Perkasa Hutomo Putra, tadinya ia menjadi sekretaris pribadi Hutomo Putra sendiri saat masih menjabat posisi pucuk pimpinan sebelum diserahkan pada Erka dan Ersa yang kini menjabat sebagai wakil.


“Tidak ada masalah dengan Cindy, kan?”


“Tidak, Bos. Hanya saja Nyonya mengomel sejak semalam. Sejak semalam memintaku menyeretmu pulang ke Jakarta.” Tawa kecil tertahan terdengar dari seberang telepon.


“Baiklah, aku belum tahu kapan akan kembali. Bantu Cindy mengurus Daddy dan Mommy. Aku tahu mereka pasti mengomel saat tahu aku tak di sana menemani istriku melahirkan.”

__ADS_1


“Baik, Bos.”


“Ok, kabari aku semua hal yang terjadi di Jakarta. Minta Ersa handle sebagian pekerjaanku yang deadline.”


“Siap, Bos.”


Panggilan itu hampir selesai saat Erick mendadak bersuara. Kalau sejak tadi hanya diam menerima perintah, kini pria itu melempar tanya yang ditahan sejak tadi.


“Leen em ....” Erick menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Apa dia baik-baik saja?” 


Mengenal keluarga Hutomo sejak masih kecil, Erick sudah tahu kalau akan ditarik masuk ke dalam lingkaran bisnis keluarga Hutomo Putra. Beasiswa pendidikan sampai menamatkan S1 yang didapatnya dari keluarga majikan papanya membuat ia cukup yakin akan ditempatkan di perusahaan setelah menyelesaikan kuliahnya.


“Ayleen baik-baik saja. Sedikit lebih kurus, tetapi tetap cantik dan energik.” Erka tersenyum sendiri saat menceritakan kondisi terkini Ayleen Hutomo Putri. “Sudah dulu, aku mau tidur sebentar. Semalaman tidak bisa tidur.” Erka menurunkan sandaran kursi dan mencari posisi nyaman untuknya melepas lelah.


“Baik, Bos.”


“Hubungi aku sebelum jam satu siang ini. Takutnya aku kebablasan.” Erka mengingatkan lagi. Mata pria itu terpejam, menikmati kenyamanan seadanya di kursi mobil sembari menunggu Ayleen menyelesaikan kuliahnya hari ini.


“Oke.”


♧♧♧

__ADS_1


“Masih belum kembali? Erka tidak pulang sejak kemarin karena pekerjaan atau memang sengaja tak mau menemani anak dan istrinya?” Veronica mengamuk di kamar perawatan saat mengetahui kenyataannya.


“Maaf, Nyonya. Pak Erka sedang ada tugas keluar kota.”


Kepala wanita tua itu menggeleng kasar. Suaranya berdecap kesal. Entah apa yang dipikirkannya, saat ini ia sedang kesal pada Erka.


“Hubungi dia dan minta anak itu pulang. Kalau perlu, SERET!” titah Veronica. Ia sudah terlanjur kesal dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Apa pun alasannya, ini tidak benar.” Veronica berbalik dan menatap suaminya. Napasnya naik turun menahan amarah.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ada pekerjaan mendesak. Lagi pula, di sini ada Erick dan Ersa, Cindy tak akan kekurangan. Ditempatkan di kamar terbaik dengan dokter pilihan. Semua akan baik-baik saja.” Hutomo menenangkan. Duduk di sofa menatap Cindy yang tengah menggendong cucu pertamanya.


“Ini bukan lagi masalah profesional. Melahirkan itu bukan perkara mudah. Butuh dukungan. Coba, sebutkan satu hal ... satu saja urusan kantor yang lebih penting dari menemani istri melahirkan?” cerocos Veronica. “Kalau jawabanmu masuk akal, aku akan diam. Tapi, kalau tidak, aku akan berhenti mengoceh saat Erka di depan mata.”


“Sudahlah, berhenti marah-marah. Darahmu naik, aku juga yang pusing.” Hutomo mulai terpancing.


“Sudahlah, Mom. Aku baik-baik saja. Kondisiku pun sudah membaik pasca melahirkan. Mungkin Erka memang ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal.” Cindy ikut bicara. Ia tak bisa membiarkan situasi kian meruncing. Perasaannya sudah tidak enak, ditambah kemarahan mertuanya, hatinya pun semakin berantakan.


♧♧♧


Sambil menunggu Erka up, bisa mampir di karya temanku


__ADS_1


__ADS_2