
“Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Bukan hanya rumah tangga kalian saja. Yang sudah puluhan tahun pun masih sering cekcok. Fokus pada tujuan awal pernikahan, jangan yang sedang kalian perdebatkan.
Cindy mengangguk.
“Dua kepala sama kerasnya, kalau diadu pasti sakit sekali. Mungkin bisa pecah berantakan. Kalau Erka memaksa, kamu mengalah. Begitu juga sebaliknya.”
“Ya, Mom.”
“Itu seninya berumah tangga. Kalau kamu muak padanya, ingat ... bagaimana kalian saling tergila-gila saat baru kenal. Siang malam terbayang ingin segera bertemu. Lalu, di saat kalian bisa menghabiskan hari bersama-sama setiap hari ... bukannya harus bersyukur.”
“Ya, Mom.”
“Kalau kesal pada Erka, pikirkan putrimu. Dia buah cinta kalian berdua. Kalau tak lagi ada alasan bersama, pertimbangkan bayi mungil itu. Dia membutuhkan kalian berdua untuk tetap bersama.”
“Ya, Mom. Terima kasih. Pesanmu pasti aku ingat.” Cindy memeluk mertuanya. Haru menyapa di saat ia bisa berbagi sebagian sesak di dadanya. Setidaknya bisa mengurangi beban hati yang dipikulnya saat ini.
...☆☆☆...
Malam kian pekat, rembulan pun merangkak naik ke pucuk kepala saat Erka kembali ke ruang perawatan setelah mengantar Veronica pulang ke rumah. Tampilannya jauh lebih segar, pakaiannya pun telah berganti lebih santai dan bersih.
__ADS_1
Sejak tiba di rumah sakit, ia belum melihat putri yang dilahirkan Cindy sama sekali. Niat itu tak terbersit sama sekali. Hubungan suami istri mereka telah ternoda, pernikahan itu sudah berantakan.
“Kamu datang? Aku pikir pergi lagi.” Cindy membuka suara saat Erka sudah di hadapannya.
Tak ada jawaban, Erka tidak meladeni. Hanya seringai tipis di sudut bibir, pria itu merebahkan tubuh lelahnya di sofa. Tak mau meladeni ajakan Cindy untuk berperang.
“KA!” Cindy kesal saat Erka tak meresponsnya. Pria itu malah memejamkan mata, telentang dengan kedua tangan terlipat di dada.
“KA!” Panggilan kedua jauh lebih keras. Kali ini disertai lemparan bantal tertuju pada tubuh Erka. Cindy kesal, ia sengaja menunggu kedatangan suaminya, tetapi pria itu tak mau meladeninya.
“Kurang ajar!” Cindy meraih sebotol air mineral dan dilemparnya tepat mengenai wajah Erka.
Tutup botol terlepas, isinya tertumpah di tubuh kekar terbungkus kaus mahal.
Erka tersentak, menggeram sejenak sebelum bangkit dan membenahi pakaiannya yang basah. Di raihnya botol kosong itu dan dilemparnya dengan kasar di atas brankar.
“Apa maumu, Murahan? Aku sudah cukup bersabar dengan menghindarimu. Lalu apa maumu?” Erka mengepalkan kedua tangannya. Wajah tampannya masih berjejak basah, urat-urat menonjol di pelipis dengan garis rahang mengeras sempurna.
“Beraninya membahas perceraian dengan Mommy. Apa tidak takut kalau Ayleen-mu berada di dalam masalah?” ancam Cindy.
__ADS_1
“Tidak lagi. Kini semua tidak penting setelah kamu melahirkan. Aku bisa menceraikanmu kapan saja. Aku sudah meminta dokter melakukan tes DNA untuk bayimu. Hasil tes itu yang akan membungkam mulutmu. Aku yakin sekali bukan bayiku.”
“Bagaimana bukan bayimu? Kamu suamiku.”
“Tunggu saja hasil tes DNA. Sebelum itu keluar, nikmati saja statusmu sebagai istri Aryya Perkasa Hutomo Putra. Karena ....” Erka menyeringai licik.
“Karena saat semuanya terang benderang, bersiaplah untuk kehancuranmu. Aku ingin melihat kamu jatuh dan tak sanggup berdiri lagi. Bagaimana keluargamu malu saat mengetahui putrinya yang terhormat ini hanya wanita murahan.” Erka meludah ke lantai dan tersenyum mencibir.
“Kelewatan kamu, Ka!”
“Kamu yang kelewatan.”
“Aku tidak pernah berselingkuh. Kamu yang berselingkuh dengan adikmu.”
“Tidak selingkuh? Di ruang bayi itu adalah hasil perselingkuhanmu. Setidaknya, kalau mau mencurangiku lebih pintar sedikit. Aku bahkan tidak selera denganmu!”
“Malam itu ....” Suara Cindy melemah.
“Kamu menjebakku dan membuatnya keadaan seolah-olah. Aku yakin tidak terjadi apa-apa.” Erka menegaskan.
__ADS_1