Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 85


__ADS_3

“Leen, nanti aku jemput.” Erka bangkit setelah menyelesaikan sarapannya. Meraih jas kerja yang tersampir di sandaran kursi, ia berpamitan pada semua orang.


“Hah?” Ayleen baru akan menyuapkan nasi uduk ke dalam mulutnya.


“Jam makan siang saja. Sekalian kita makan di luar.” Erka menambahi. Pria itu sempat melirik ke arah Ersa. Adiknya itu diam seribu bahasa.


Belakangan, sejak Ayleen menerima perjodohan, Ersa memang menghindar. Tak lagi sering bersama dan mengobrol. Terlihat sekali seperti sedang menjaga jarak.


“Ya, Kak.” Ayleen mengangguk.


“Ya sudah. Aku pergi dulu, Mom, Dad.” Erka mengenakan jas kerjanya dan berjalan menuju keluar rumah.


Veronica yang duduk tepat di sisi Ayleen tiba-tiba mengusap rambut panjang putrinya. Memang mereka tak akan berpisah, tetapi ia terharu saat akan mengantar gadis cantik yang diasuhnya sejak lahir itu menuju gerbang pernikahan. 


Tugasnya hampir selesai menjadikan Ayleen menantu utama keluarga Hutomo yang akan mewarisi aset-aset penting keluarga. Dengan menikah dengan Erka, gadis itu memiliki kekuasaan setingkat di atas Ersa. Bahkan, saat anak-anak mereka lahir akan menjadi pewaris perusahaan.


“Leen.” Veronica bersuara.

__ADS_1


“Ya, Mom.”


“Mommy titip Erka dan Yaya, Nak. Tak terasa, sebentar lagi putri Mommy akan menikah.” Wanita berusia senja itu memandang putrinya tak berkedip. Selaput bening melapisi mata Veronica.


“Ya, Mom. Jangan khawatir.” Ayleen menggenggam tangan mommy-nya dan merebah di pundak wanita yang selalu memanjakannya selama ini.


“Terima kasih, Leen. Mungkin nanti pernikahanmu hanya digelar biasa. Kita harus menghargai keluarga Cindy. Mereka baru saja kehilangan putri mereka. Rasanya tak elok kalau Erka sudah menikah lagi. Tapi, Yaya membutuhkan sosok Mama. Tak bisa menunggu masa berkabung lewat. Andai tinggal bersama keluarga Cindy, Daddy dan Mommy tidak akan mengizinkan. Bagaimana pun, Yaya putrinya Erka. Nasibnya tak memiliki Mama, jangan sampai harus kehilangan sosok Papa juga.”


 


“Ya, Mom. Aku mengerti.” 


“Aku harus ke kantor sekarang.” Ersa bangkit dari kursi. Ia meninggalkan piring berisi nasi uduk yang tak berkurang sedikit pun. Pria muda itu hanya mengacak-acaknya. Berada di tengah keluarga saat ini terasa menyiksa. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.


Bibir bisa berkata ikhlas, tetapi hati tak semudah itu. Setiap Ayleen dan Erka duduk semeja, perasaannya terbakar lagi.


“Loh, Sa. Kenapa sarapannya tidak dihabiskan?” Veronica bersuara.

__ADS_1


“Aku kenyang, Mom.” 


“Kenyang dari mana?” 


“Kenyang saja, Mom. Nanti aku sarapan di kantor saja.


Melenggang keluar dari kediamannya, Ersa menyembunyikan perasaan terlukanya. Andai ia lahir lebih dulu dari Erka, pasti saat ini Ayleen jadi istrinya. Keistimewaan putra pertama di keluarga mereka yang selalu mendapatkan keistimewaan hak. Bukan masalah harta, tetapi semua hal pasti didahulukan.


Cemburu mencengkeram luka yang kini menganga lagi. Andai ia punya kuasa, tentu akan membawa pergi Ayleen tanpa peduli semua orang. Namun, ia tak bisa melakukannya. Terlahir sebagai putra kedua, ia punya tanggung jawab tak kalah pentingnya, mendukung Erka menjaga perusahaan dan aset keluarga mereka.


...•••...


 


Erka tengah duduk di sofa sembari memainkan ponsel saat Ayleen sibuk mencari gaun pengantin yang cocok dengan ukuran tubuh dan modelnya. Pria itu menyerahkan sepenuhnya pada sang calon istri dan tak mau dipusingkan dengan hal yang bersifat tak penting menurutnya.


Keluar dari kamar ganti, Ayleen sudah berdiri di depan Erka memamerkan gaun pengantin putih model sabrina yang memamerkan pundak.

__ADS_1


“Kak.” Ayleen menyapa saat Erka tak terusik dengan kehadirannya.


__ADS_2