
Ayleen terkesiap, tak sanggup melawan. Hanya bola matanya yang sanggup bereaksi kala Erka menelusuri bibirnya dengan menggunakan bibir pria itu sendiri. Ini pengalaman pertama untuk gadis remaja yang hanya bisa membeku tanpa bisa protes, apalagi melawan.
Belum hilang terkejutnya, Ayleen kembali dibuat tak berkutik saat tangan kekar sang kakak mendekap erat hingga ia kesulitan bernapas. Darah berdesir, jantung pun ikut bergejolak hebat.
Dekapan posesif itu perlahan terurai, ia bisa merasakan sentuhan lembut di pipinya. Usapan yang perlahan berganti, Erka melukis garis wajahnya dengan ujung telunjuk dan menciptakan harmoni rasa di dada.
“Ka-Kak.” Berjuang di sisa tenaga, hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Ayleen. Gadis itu terbata-bata. Pikiran warasnya hampir musnah saat bibir Erka kembali bertualang, masuk ke dalam mulutnya dan mengabsen deretan gigi putih yang berbaris rapi.
“Kak Er ... ka.” Kata kedua yang keluar bersama dorongan pelan di dada bidang. Ayleen berusaha melawan saat berada di ujung kesadaran.
Erka tersesat, ia harus bisa menyelamatkan diri dan menyadarkan pria yang sedang di ambang batas.
“Sssttt, aku hanya ingin menikmati bibir yang beberapa bulan belakangan ini memilih diam dan tak mau lagi bicara padaku.” Kalimat panjang Erka setelah berhasil menguasai diri. Ia terpaksa menyudahi kala menangkap binar ketakutan di netra bening adiknya.
“Jangan pernah lakukan ini dengan siapa pun, di mana pun, sampai seseorang menyeretmu ke dalam ikatan pernikahan.” Erka mengecup pucuk kepala Ayleen, membenamkan wajah di antara helaian rambut hitam pekat yang menebar aroma buah-buahan segar.
__ADS_1
“Kak, kamu kenapa?”
Ayleen dilanda kebingungan. Baru beberapa detik yang lalu ia dibuat tak berkutik oleh sentuhan Erka di bibirnya, kini pria itu kembali bersikap aneh dengan pernyataan.
“Aneh? Dia memintaku tak melakukannya dengan pria mana pun, tapi dia telah mencurinya. Ini pengalaman pertamaku.”
Ayleen cemberut, mengusap bibirnya yang basah. Masih tersisa jejak saliva Erka di sana. Tak ada manis-manisnya seperti cerita teman-temannya. Ia hanya mendapat serangan jantung mendadak. Tiba-tiba tubuhnya melayang dan dilumpuhkan.
“Kak, menyingkirlah. Kamu berat sekali.”
“Terima kasih untuk kado pernikahanku. Ini hadiah termanis yang aku terima. Aku akan mengingatnya seumur hidup. Kamu gadis pertama yang membuat jantungku berdetak tak karuan hanya dengan sebuah kecupan.”
Erka menggulingkan tubuhnya ke samping, membiarkan adik kecilnya terbebas. Ia masih mengatur napasnya yang memburu, berbaring telentang menatap langit-langit kamar.
“Temani aku tidur malam ini.” Permintaan bernada perintah, Erka berbaring menyamping. Memandang Ayleen yang malam ini tampak cantik dari biasa. Ia tak sedang berbicara dengan adik kecil, tetapi berbincang wanita cantik yang beberapa bulan ini tiba-tiba mengisi benaknya dengan banyak rasa.
__ADS_1
“Kak Erka kenapa?” Ragu-ragu, Ayleen melirik ke dalam manik mata sang kakak sekilas. Tak berani berlama-lama, ia takut terjerat.
“Kenapa tak mau membukakan pintu lagi untukku? Aku diomeli Mommy belakangan ini.” Protes bernada manja meluncur keluar dari bibir Erka.
“Sengaja menghindariku, kan?” todong Erka.
“Ti-tidak.” Ayleen menggeleng. Gadis itu bergeser menjauh, tak mau tangan kekar sang kakak menjangkaunya dan menguasainya lagi.
“Kenapa tak mau bicara padaku lagi?”
“Tidak ada. Aku mengantuk, aku kembali ke kamar dulu, Kak. Wăn'ān.” ( selamat malam )
Ayleen melompat turun dari atas tempat tidur, buru-buru berlari keluar dari kamar kakaknya. Mengusap dada yang masih bergemuruh, ia menggerutu.
“Aku kehilangan momen indah. Kak Erka mencuri bibirku.”
__ADS_1
***