Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 12


__ADS_3

Hanya satu malam bertahan di hotel, Erka memboyong Cindy pulang ke kediaman orang tuanya dan mengejutkan semua orang. Wanita itu dibuat tercengang kala Erka menghentikan mobil sport hitam di halaman rumah megah Hutomo Putra.


“Honey, apa ini tidak salah?” Cindy yang tadinya mengira akan diajak sarapan pagi di luar dibuat tercengang.


Pagi-pagi sekali, Erka sudah membangunkannya. Bahkan, pria itu tak memberinya kesempatan berdandan, menyeretnya ke mobil.


“Hmm, selesai sudah malam pertama. Untuk apa bertahan di hotel. Nanti aku akan meminta asistenku mengambil koper kita, Baby.” Erka tak peduli, melenggang masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Cindy sendirian di teras rumah.


“Ya Tuhan, dia tak kompromi padaku. Baru kemarin menikah, pasangan pengantin baru lainnya tengah menikmati hangatnya bulan madu ke Maldives, Paris, atau ke mana. Aku dibawa pulang ke rumah orang tuanya.” Cindy menggeleng. Kedua pundak terangkat, tangan pun terbentang menunjukkan kebingungan.


“Aku bisa mati berdiri karena Erka. Semalam dia sudah membuatku gila karena menyudahi semua saat sedang di puncak. Pagi harinya membuat masalah denganku. Apa maunya? Dia yang memintaku menikah. Sekarang ... dia yang mengabaikanku.” Cindy menggenggam tas mahalnya dan berlari menyusul.


***


Suasana hangat di meja makan tiba-tiba jadi kaku saat Erka muncul dengan santainya di balik pintu.

__ADS_1


“Erka?” Veronica tercengang. Sendok berisi nasi goreng yang tadi hendak disuapkannya ke dalam mulut kembali ke tempat semula, berlabuh di pinggiran piring keramik.


“Dad.” Erka menyapa sang kepala keluarga. “Aku lapar, Mom,” lanjutnya, menjawab pertanyaan mommy-nya.


Erka mengedar pandangannya. Tempatnya sudah terisi. Ersa mengambi alih setelah ia menikah dan tercoret dari kartu keluarga Hutomo Putra. Di seberang Ersa, tampak Veronica duduk bersisian dengan Ayleen. Seperti biasa, gadis itu tampak cantik dengan setelan santai.


“Mana Cindy?” Bola mata Veronica berputar, mencari tahu keberadaan menantunya.


“Di belakang. Sebentar lagi ke sini.”


Erka menarik kursi dan duduk tepat di seberang Ayleen. Ditatapnya adik kesayangan yang sibuk menghabiskan sarapan, bahkan tak memandangnya sama sekali.


“Dad, Mom.” Cindy menyapa saat muncul di pintu.


“Duduk. Kita sarapan bersama, Sayang.” Veronica mempersilakan menantunya.

__ADS_1


“Kenapa pagi-pagi sekali kalian berdua sudah menumpang sarapan di sini? Hotel tidak menyediakan breakfast untuk kalian?” Hutomo yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


“Kami sudah check out.” Erka meraih piring kosong dan menyodorkannya pada Ayleen.


“Leen, tolong Kak Erka,” pinta pria yang baru saja melepas status lajangnya itu pada Ayleen untuk mencari perhatian.


“Biar aku saja, Honey.” Cindy mengambil alih piring dari tangan Erka. “ Mau banyak, Sayang?” tanya Cindy lagi. Ia bisa melihat suaminya sedang cemberut.


“Kurang ajar! Aku mencari kesempatan mendekati Ayleen, dia mengacaukan semuanya.” Erka membatin, menatap tajam istrinya.


“Kamu tidak berangkat bulan madu?” Ersa membuka pembicaraan sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut.


“Tidak. Besok, aku sudah ke kantor.” Lagi-lagi Erka mencuri pandang, mencari kesempatan bicara dengan adik perempuan satu-satunya.


Jawaban santai Erka membuat semua orang tersentak. Putra tertua yang biasanya malas berkantor jadi berubah sejak menikah. Hutomo mengulum senyuman, demikian juga dengan Veronica. Pasangan berusia senja itu merasakan perubahan Erka ke arah yang positif.

__ADS_1


“Jadi, aku harus meminta orang lapangan menyelesaikan apartemenmu secepatnya, Kak?” Ersa melempar tanya.


“Tidak perlu. Aku berubah pikiran. Daddy dan Mommy sudah berumur. Aku dan Cindy memutuskan tinggal di sini saja. Menemani hari tua Daddy dan Mommy. Ya kan, Honey?” Erka meminta jawaban pada Cindy, tetapi tatapannya tertuju pada Ayleen.


__ADS_2