
“Ka-Kak Erka?” tanyanya bingung.
“Mmm. Ada apa? Aku sedang rapat. Kalau tidak ada yang penting aku matikan.”
Belum sempat Ayleen menjawab, panggilan benar-benar usai. Pria dewasa itu memutuskan tanpa perikemanusiaan.
“Kak? Hallo?” sapa Ayleen mengulang kembali.
“Ya Tuhan, dia benar-benar mematikannya.” Ayleen menggerutu.
Mencoba memanggil ulang, gadis itu tersenyum saat panggilannya terhubung untuk kedua kalinya. Erka menyambutnya.
“Ya, Leen. Ada apa?” Suara ramah dari seberang cukup membuktikan kalau bukan empunya yang memberi jawaban.
“Ka-kak Ersa?” Ayleen sudah terbiasa. Suara maskulin ini selalu ramah, mengisi malam-malamnya selama enam bulan menetap di Paris Van Java.
__ADS_1
“Ya, Leen. Kenapa?”
“Aku di rumah sakit, Kak. Daddy tak sadarkan diri. Bisakah Kak Ersa ke Bandung hari ini. Aku takut tidak bisa membuat keputusan. Mommy juga tidak bisa dimintai tolong. Sejak tadi lemas dan menangis.”
Ersa tersentak di balik panggilan. Pria muda itu tertegun beberapa detik. “Aku ada rapat penting sebentar lagi. Aku coba bicarakan pada Erka dulu. Kalau aku tidak bisa datang cepat, biarkan dia yang dulu berangkat,” putus Ersa.
Panggilan terputus, tinggal suara ratapan Veronica mendominasi. Wanita tua itu ketakutan dan sedih. Air mata tak hentinya mengalir deras. Ayleen berjalan mendekat, didekapnya tubuh lemas mommy-nya yang tak lagi bisa berkata-kata.
“Mom, Kakak akan ke sini sebentar lagi. Jangan menangis, Daddy pasti baik-baik saja.” Ayleen memeluk wanita tua itu dan menenangkannya.
Perlakuan dua orang tua yang dipanggil Daddy dan Mommy itu juga tidaklah berbeda. Erka, Ersa dan dirinya diperlakukan sama. Dianggap seperti putri, disayang seperti anak, tak ada beda dengan kedua kakak-kakaknya.
“Daddy ... apa Daddy baik-baik saja, Leen?” Akhirnya Veronica bisa menumpahkan perasaan. Sejak tadi diam, kini ia membagi sesaknya dengan sang putri.
“Daddy baik-baik saja, Mom. Sehebat Daddy yang sepak terjangnya mengurus perusahaan sampai sehebat sekarang, tidak mungkin menyerah begitu saja. Percaya padaku, Mom.
__ADS_1
“Mommy takut, Leen.” Mendekap Ayleen, Veronica menumpahkan tangisannya di dalam pelukan sang putri.
☆☆☆
Setelah dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Hutomo, di sinilah Veronica dan Ayleen sekarang. Sebuah kamar perawatan yang nyaman dengan fasilitas hotel berbintang. Ruangan serba putih dengan brankar di bagian tengah itu sudah diisi Hutomo yang berbaring.
Alat-alat medis menempel di tubuh renta, suara denyutannya terdengar mencekam. Tergolek tak berdaya dengan seorang wanita tua duduk di sisi tempat tidur dan terus menggenggam jari-jari kaku tak lagu bereaksi.
“Mom, ini sudah sore, aku ke bawah belikan makanan untukmu.” Ayleen berpamitan.
Tak ada reaksi, Veronica tetap diam menatap suaminya yang belum sadarkan diri sejak siang.
Tak mau memaksa, Ayleen keluar setelah mengambil dompet dan ponselnya. Tepat saat akan menggenggam knop pintu, ia merasakan dorongan kuat dari luar. Mundur beberapa langkah agar tubuhnya tak terbentur, gadis itu tertegun saat tatapannya beradu dengan mata elang pria gagah yang hilang dari kehidupannya.
“Kak Erka ....” Suara Ayleen menggantung. Belum lenyap kekagetannya, dari belakang sang kakak muncul perempuan cantik dengan perut sedikit mencuat dari gaunnya.
__ADS_1
☆☆☆