Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 72


__ADS_3

“Terima kasih, Leen. Daddy tahu kalau kamu bisa diandalkan.”


Ayleen mengangguk sembari menggigit bibir. Tidak mudah untuknya menerima, sesulit menolak permintaan Hutomo. Sepanjang malam berpikir keras dan berdoa hingga akhirnya menemukan jawaban untuk semuanya.


“Daddy titip Yaya. Dia masih terlalu kecil untuk paham masalah orang dewasa.”


“Ya, Dad.”


“Yaya masih polos. Perlakukan dia seperti putrimu sendiri, Daddy jamin ... tak akan ada yang tahu kalau Yaya bukan lahir dari rahimmu. Dia hanya akan menganggapmu mamanya sampai waktu itu tiba. Kamu punya pilihan untuk menyembunyikan atau memberitahunya kelak dia dewasa.”


“Ya, Dad.”


“Leen, apa yang kamu rasakan pada kami, itu juga akan dirasakan Yaya padamu nanti.” Veronica bersuara. “Bukan masalah siapa yang melahirkan, tapi cinta dan rasa sayang yang tulus itu akan melekat di dalam ingatannya. Percayalah, andai nanti Yaya tahu kenyataannya, dia tak akan berpaling darimu. Kamu mamanya, kamu tumpuan hidupnya, kamu adalah dunianya.” 


Wanita berusia senja itu tampak berkaca-kaca saat mengungkapkan kalimat terakhirnya. Sama seperti saat membawa Ayleen masuk ke keluarga mereka, kini gadisnya pun mengalami hal yang sama.


“Ya, Mom.”

__ADS_1


“Terima kasih, Leen. Mommy titip Erka dan Yaya.”


“Ya, Mom. Aku pamit dulu. Nanti Yaya bangun dan mencariku.”


Kalau tadi Erka yang dikejutkan oleh kehadiran Ersa, Ayleen pun mengalami hal yang sama. Gadis itu terperanjat, kakinya membeku di ambang pintu saat Ersa menyodorkan tangannya dan mengucapkan selamat. 


Baru saja ia menutup pintu ruangan, kakak keduanya sudah menyapa lirih. Senyum palsu di bibir pria muda itu tak bisa menutupi kegundahan perasaan yang kini dirasakan Ersa.


“Selamat datang di keluarga Hutomo Putra, Kakak ipar.” 


Suara Ersa terdengar bergetar. Tidak mudah untuknya menerima semua ini. Berbulan-bulan berjuang pada akhirnya ia harus menyerah. Tidak mudah untuknya, tetapi ia juga tak bisa apa-apa. Tuhan sudah menulis takdir, ia hanya bisa menjalani.


“Aku mengerti.” Ersa menatap tangannya yang menggantung sejak tadi. Ayleen tak mau menyambutnya.


“Semoga bahagia, Leen.”


“Terima kasih. Aku tahu aku salah. Tapi, aku tak punya pilihan. Aku harap Kak Ersa mengerti posisiku. Ini juga tidak mudah untukku, Kak.” Ayleen menggigit bibirnya.

__ADS_1


Ersa mengangguk. “Ya, Leen. Aku mengerti.” Senyum Ersa terlihat sekali terpaksa. Pria itu berjuang untuk tetap terlihat tegar dan baik-baik saja.”


...●●●...


Erka baru saja menyelesaikan rapat dan kembali ke ruangannya saat Ersa menyusul. Seharian ini putra kedua Hutomo itu kacau. Hatinya hancur berantakan sejak pagi. 


“Ka, selamat ya. Akhirnya Ayleen menerimamu.” Ersa berdiri di depan sang kakak.


“Okay.” Erka menjawab santai, melempar berkas di atas meja dan duduk di kursi kebesarannya.


“Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keputusan sudah dibuat.” Ersa memejamkan mata, berdiri dengan tangan terkepal. Ia berusaha untuk tegar. “Aku titip Ayleen, jangan berani menyakitinya. Ingat, aku selalu mengintai. Ayleen menangis, aku pastikan hidupmu pun akan berantakan,” ancam Ersa.


Erka menaikkan alisnya, bibirnya terbuka kemudian disusul tawanya menggema. 


“Kamu mengancamku?” tanya Erka di sela gelak tawanya. Ia tak habis pikir, bagaimana Ersa berani mengancamnya.


“Jangan menyakitinya. Aku pastikan akan merebut Ayleen dari tanganmu andai dia sampai menangis karena ulahmu! Ingat itu, aku tidak pernah main-main.” Kedua tangan Ersa terkepal.

__ADS_1


...●●●...


__ADS_2