
Veronica diam. Bersama Ayleen, keduanya berjalan mendekat di peti jenazah yang tertutup kaca. Tampak Cindy yang sudah rapi, didandani cantik mengenakan gaun panjang putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajah pun terlihat damai.
“Cindy, Mommy datang, Nak. Kenapa pergi begitu cepat?” Veronica menangis tersedu-sedu.
Demikian juga Ayleen, gadis itu ikut menumpahkan tangisnya. Saling berpelukan, ia dan Veronica saling menguatkan.
“Ka, orang tua Cindy sudah dikabari?” Hutomo bersuara.
“Dalam perjalanan, Dad.”
“Kapan rencana dimakamkan?”
“Aku belum tahu. Harus menunggu kedua orang tuanya. Aku minta disuntik formalin. Aku pikir tak mungkin dimakamkan hari ini.” Erka bercerita.
Gurat lelah dan kesedihan tampak jelas di wajahnya. Ia tak sanggup bercerita banyak. Semua mendadak dan Erka masih belum bisa menerima kenyataan.
“Sudah diurus pemakamannya?” Ersa kembali bertanya.
“Belum.”
“Sa, tolong urus. Biarkan Erka bersama putrinya.”
“Baik, Dad.”
“Di mana? Karawang?” tanya Ersa, sembari mencari keberadaan Erick. Ia harus meminta bantuan asisten kakaknya untuk mengurus segala sesuatu.
“Ya, carikan tempat terbaik. Aku pikir keluarga Cindy tak akan keberatan di sana. Coba hubungi Erick untuk membantunya. Biarkan Erka menenangkan diri bersama putrinya," titah Hutomo sembari menepuk pundak putra sulungnya.
__ADS_1
...♡♡♡...
Suasana rumah duka masih dipenuhi sahabat dan kerabat. Hingga malam tiba, Erka dan keluarganya masih sibuk menjamu para pelayat yang datang. Ayleen tampak menimang bayi mungil di sudut ruangan saat Erka mendekatinya.
Sejak siang pria itu menjaga jarak, baru sekarang Erka mengajak Ayleen bicara.
“Leen, titip ....” Erka diam. Ia bahkan tak tahu nama bayi yang dilahirkan Cindy.
“Aku titip, ya. Pulanglah, bawa Daddy dan Mommy juga. Kasihan mereka kelelahan. Aku dan Ersa akan tidur di sini malam ini.”
“Ya, Kak.”
“Nanti minta bantuan pengasuh untuk menjaganya. Mudah-mudahan tidak rewel,” titah Erka lagi. “Sepanjang siang tidak mau dengan pengasuhnyq, semoga nanti malam tidak menyusahkanmu.”
“Ya, Kak.”
“Baiklah, aku harus menemui tamu.” Erka baru akan melangkah pergi saat Ayleen menahan langkahnya.
Erka berbalik. “Ada apa?”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ayleen penasaran. “Kak Cindy terlihat baik-baik saja."
“Ya, mendadak.” Erka berdiri menatap Ayleen dan bayi mungil yang terlelap di dalam dekapan gadis itu.
“Bagaimana bisa? Bukannya Kak Cindy sehat-sehat saja selama ini.”
Erka menggeleng. “Aku tidak tahu. Subuh tadi dihubungi asisten rumah kalau Cindy tidak sadarkan diri.”
__ADS_1
“Hah! Kak Erka di mana? Kenapa sampai tidak pulang ke rumah?” Ayleen semakin penasaran.
“Kami bertengkar semalam dan aku memutuskan untuk tidur di kantor.”
Ayleen terbelalak. “Lalu apa yang dikatakan dokter? Tidak mungkin meninggal tanpa penyebab, kan?”
“Serangan jantung.”
“Mana mungkin.” Gadis itu menolak percaya.
“Aku tidak tahu jelas. Saat tiba di rumah ... sepertinya Cindy sudah tidak ada. Sudah kaku di atas tempat tidur.”
Erka memejamkan mata. Ada banyak rasa kini menyesak di dadanya. Ia tidak bisa menceritakan pada siapa pun, termasuk alasan pertengkaran hebat mereka semalam. Satu hal yang pasti, saat ini pria itu menyesal. Sangat menyesal sampai menyalahkan diri sendiri.
“Jadi, Mbak di rumah yang mengetahui lebih dulu?” Ayleen masih penasaran.
“Ya, bayinya menangis terus menerus. Dan pengasuhnya memutuskan membawa pada Cindy untuk disusui.” Erka menghela napas panjang.
“Saat itu Kak Cindy sudah tidak ada?” Ayleen memastikan.
“Ya. Asisten rumah buru-buru menghubungiku dan meminta untuk membawa Cindy ke rumah sakit. Tapi, saat aku tiba di rumah. Tubuhnya sudah kaku dan dingin.” Erka menitikkan air mata dan buru-buru mengusapnya.
“Ya Tuhan, Kak Cindy.”
“Titip si kecil.” Erka berpesan lagi.
“Ya, namanya siapa, Kak?”
__ADS_1
Erka diam sejenak, terlihat berpikir. Tak mungkin mengakui kalau ia pun tak tahu menahu mengenai identitas si bayi.
“Dayana Arkasa Hutomo Putri.” Setelah berhari-hari tanpa identitas, akhirnya bayi mungil itu memiliki nama. Erka menyematkan nama keluarganya untuk bayi Cindy.