Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 31


__ADS_3

Merebah di pundak Erka, Ayleen bisa menangkap parfum berbeda dari yang biasa digunakan Ersa. Gadis itu tak berani berkutik, memejamkan matanya rapat-rapat.


Ada ketenangan menyelimuti hati setelah sejak tadi dibuat kocar-kacir akan sikap dingin Erka. Ia tak mau melewatkan momen ini dan memilih diam. Kesadarannya muncul tepat saat kepalanya bertumpu di bahu kekar sang kakak beberapa menit yang lalu. 


Keheningan menyapa ruang perawatan, Ayleen hanya mendengarkan suara napas teratur. Setelah sekian lama, ia bisa merasakan kehangatan kakak tertuanya lagi meski hanya perhatian kecil. Enam purnama tanpa bayangan pria gagah putra tertua Hutomo, rindu pun menyeruak dalam bungkamnya. 


Tak ada yang membahas ketidakhadiran Erka selama ini, walau Daddy dan Mommy diam-diam sering bertukar kabar melalui ponsel dengan putra sulung mereka. Semua seakan mengerti, keadaan yang terjadi di Jakarta dan membuat Erka tak bertandang ke Bandung dalam waktu lama.


Suara pintu terbuka, Erka buru-buru berdiri. Dalam hitungan detik, Ayleen tumbang dan jatuh di sofa.


Brak.


“Aaaah!” Gadis itu mendesah saat kepalanya membentur sandaran sofa tanpa sengaja.


“Leen, kamu baik-baik saja?” Ersa sudah berdiri di ambang pintu, menggenggam map hitam. 

__ADS_1


“Ya, Kak.” Ayleen menjawab sembari mengusap pelipisnya yang pening.


Erka? Jangan ditanya di mana kini. Pria tidak bertanggung jawab itu sudah duduk kembali ke kursinya semula. Mencari kesibukan sendiri seolah tak ada hal istimewa yang terjadi.


“Leen, aku antar pulang, ya. Ini sudah malam. Kamu besok masih harus ke kampus, kan?” Ersa mengabaikan pemandangan kilat yang sempat mencubit hatinya. Bukannya ia tak tahu kalau Erka baru saja menggoda si adik bungsu. Entah apa yang dilakukan, tetapi reaksi seperti maling tertangkap basah itu memercik cemburu.


“Ya, Kak.” 


“Ka, aku antar Ayleen dulu. Titip Daddy.” Ersa mengulurkan tangannya, membiarkan gadis 19 tahun itu menggenggamnya seperti biasa. Sudah menjadi hal biasa di keluarga Hutomo melihat kemesraan Ersa dan Ayleen. Bahkan, sejak masih kecil keduanya akrab dan sering bersama.


“Ya.” Erka melirik pertautan jemari dua anak manusia di hadapannya. Hatinya tercubit. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Tidak ada. Nanti aku akan menghubunginya sendiri.”


Ersa menyunggingkan senyuman. “Bandung dingin. Kasihan Kakak ipar.” Tawa anak muda itu pecah setelah berhasil membuat mata Erka membulat. 

__ADS_1


Ayleen yang sejak tadi diam, mendadak bersuara. Canggung membuatnya gugup. Entah kenapa hubungan kakak adik yang tadinya hangat, mendadak jadi sedingin es hanya karena enam bulan tak bersua. Bahkan, setiap kata yang akan keluar selalu tertahan di bibir.


“Aku pamit, Kak.”


Erka melirik sekilas dan membuang muka. Sikap dingin yang membuat Ayleen terluka kembali.


“Ayo, Leen. Biarkan Kak Erka yang menjaga Daddy. Ini sudah malam, kamu juga butuh istirahat.” Ersa membawa pergi Ayleen, genggaman tangannya terasa semakin erat. 


Saat berada di koridor, pria itu memberanikan diri merangkul mesra. “Tidak merindukanku?” 


“Hah?” Pikiran Ayleen masih tertinggal di kamar perawatan, ia tak siap saat Ersa melempar pertanyaan untuknya.


“Apa, Kak?” 


“Kenapa?” Ersa menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan dahi saat mendapati sikap Ayleen tak seperti biasa.

__ADS_1


“Kak Erka banyak berubah,” cicit Ayleen pelan.


Pria yang terpaut usia beberapa tahun lebih tua dari Ayleen itu menjawab. “Sejak menikah, Erka berubah banyak. Yang dulunya gila berpesta, kini tidak lagi. Hari-harinya habis di perusahaan. Ditambah lagi kehamilan Kak Cindy.” 


__ADS_2