Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 47


__ADS_3

Bab 27. Menikahi Kakak Angkatku


“Urusi istrimu. Jangan dekati Ayleen! Bukannya aku tidak tahu apa yang selama ini kamu lakukan diam-diam!” Veronica terlanjur kesal dan tak bisa mengontrol emosinya lagi.


“Aku tahu semuanya, Ka. Bagaimana kamu diam-diam menemui Ayleen, menyelinap masuk ke kamarnya. Jangan katakan kalau sekarang kamu sedang mengambil kesempatan juga!” tuding wanita tua itu.


Napas naik turun, ia sedang meluapkan amarah saat mengetahui kegilaan putra sulungnya. Di saat semua orang pergi ke Jakarta, Erka sebaliknya. Pria itu malah menuju ke Bandung.


“Mom.”


“Cukup, Ka! Urusi Cindy dan putrimu. Dia yang harus kamu jaga dan pikirkan, bukan Ayleen atau wanita lain.”


“Mom, apa aku bisa bicara?” Erka terlihat ragu.


“Ada apa?” Veronica berjalan di sofa dan menjatuhkan bokongnya di sana. Ia butuh ketenangan setelah detak jantungnya berpacu karena ulah sang putra.


“Mom, aku ... aku ... aku.”


“Bicaralah!” cerocos Veronica.


“Aku mau berpisah dari Cindy, Mom.”

__ADS_1


Gemuruh di dada yang sempat mereda, kini bergejolak lagi. Veronica tak ada waktu untuk bernapas karena ulah Erka.


“Ka, Mommy sudah tua. Sudah tak sanggup dikerjai. Mommy ingin menikmati masa tua bersama Daddy dan cucu-cucu.”


“Mom.” Erka berlutut sembari menggenggam kedua tangan wanita tua yang melahirkannya. “Aku serius, Mom.”


Tampang Erka terlihat memelas sembari melirik ke arah brankar untuk memastikan istrinya tertidur.


“Apa yang kamu pikirkan, Ka? Anakmu mau dibuang ke mana?”


“Mom, dengarkan aku. Itu bukan an ....”


“AAAAHHH!” Cindy memekik dari atas tempat tidur. Sejak tadi menguping pembicaraan ibu dan anak dengan pura-pura tertidur, ia tak bisa membiarkan Erka bicara terlalu banyak lagi.


“Perutku, Mom.”


“Sakit sekali, Mom.” Cindy meremas perutnya. “Ini sakit, Mom.”


“Aku panggilkan perawat saja.” Erka berlari keluar untuk mencari bantuan. Sebenci-bencinya ia dengan Cindy, tak mungkin membiarkan wanita itu kesakitan.


Berlari keluar secepat kilat, kepergian Erka diikuti tatapan ibu dan istrinya.

__ADS_1


“Bagian mana yang sakit?” Veronica panik.


“Perut bawah, Mom.” Cindy meringis. “Mom, sebaiknya Mommy pulang saja. Ada Erka yang menungguku di sini. Kasihan Mommy, sudah dua malam di sini.”


“Tidak apa-apa. Mommy masih kuat. Siapa yang membantumu menjaga si kecil. Ngomong-ngomong, ASI-nya belum keluar?” Veronica menatap sedih menantunya. Teringat ucapan Erka yang meminta berpisah. Rasanya tak tega jika Cindy sampai mendengar semuanya.


“Mom, aku mohon. Kalau sampai Mommy sakit, aku jadi tidak tenang. Pulanglah, Mom. Aku mohon.”


“Tidak. Mommy di sini menjagamu dan cucu Mommy. Lagi pula di sini juga nyaman. Sofanya tak kalah empuk dibanding ranjang di rumah.”


“Mom, aku mohon.” Cindy memelas. Tangannya menggenggam tangan mertuanya dengan lembut.


“Mom, aku ingin membenahi hubunganku dengan Erka. Sebelum melahirkan, kami sempat bertengkar.”


“Jadi, itu alasannya dia pergi ke Bandung?” Veronica memastikan.


“Ya, Mom. Kami bertengkar hebat malam sebelum aku melahirkan. Tolong Mommy pulanglah, aku ingin coba membenahi hubungan kami, Mom.” Cindy memohon berulang kali.


Terdengar helaan napas panjang, Veronica mulai paham duduk permasalahannya. Ini hanya masalah salah paham suami istri labil. Bertengkar sedikit saja sudah bahas perceraian.


“Baiklah, Mommy pulang. Cobalah mengerti, Erka memang sedikit keras. Kalau dia tak mau mengalah, artinya kamu yang harus mengalah.”

__ADS_1


“Ya, Mom.”


__ADS_2