Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 5


__ADS_3

“Kenapa diam?” Hutomo bertanya pada istrinya selepas Erka berpamitan untuk mengantar Cindy pulang.


Veronika menggeleng. “Aku menyayangi Ayleen.” Singkat, jelas, dan penuh makna terkandung di dalamnya.


“Kalau masalahmu di Ayleen, dia tetap akan menjadi putri kita. Menikah atau tidak dengan Erka, dia tetap seorang Hutomo.”


“Berbeda, Sayang.”


“Masalahmu apa? Ingin Ayleen menjadi menantu? Masih ada Ersa, nikahkan saja keduanya. Ersa juga cocok dengan Ayleen. Aku lihat anak itu akrab dan sering berduaan.” Hutomo mengambil jalan tengah.


“Entah.” Veronika menggeleng. “Rasa sayangku pada Ayleen sudah bukan karena balas jasa lagi. Aku benar-benar mencintainya. Menginginkan sebagian aset yang kita miliki jatuh ke tangannya. Aku yang merawat Ayleen dari bayi merah, aku yang mendidik dan membesarkannya. Aku mengenal Ayleen dengan baik, berbeda dengan Cindy.”


“Tapi, semua itu pilihan Erka. Kita tak bisa memaksa. Anak itu yang menjalankan rumah tangga. Asalkan gadis yang dipilihnya sesuai kriteria, bukan gadis sembarangan.” Kedua tangan Hutomo terulur ke depan.


“Ya, aku mengerti. Makanya aku tak mau berdebat tadi. Ada saatnya aku mengemukakan pendapatku yang berbeda, tapi bukan di depan Erka dan Cindy. Kita bisa bertukar pendapat setelah mereka pergi.” Veronika tersenyum.


“Aku mengerti kualitasmu.” Hutomo tersenyum. “Bersiaplah, kita akan menemui kedua orang tua Cindy dan membicarakan pernikahan ini.”


Veronika mengangguk.


“Lagi pula, Ayleen terlalu kecil. Baru 17 tahun. Kalau menikah pun, tidak bisa secepat ini. Harus menunggu dua tiga tahun ke depan.”


Tak ada perdebatan lagi. Keduanya sepakat untuk menyudahi perbedaan pendapat dan mendukung keputusan putra tertua mereka. Sebagai orang tua, Hutomo dan istrinya hanya mendoakan yang terbaik untuk putra dan putri mereka.


***


Setelah pertemuan keluarga diadakan, hubungan Erka dan Cindy akhirnya naik kelas. Sesuai kesepakatan para orang tua, keduanya akan menikah di pertengahan tahun. Segala persiapan pun mulai dilakukan, dari hal penting sampai ke hal-hal kecil.


Pernikahan ini tak hanya menyatukan dua anak manusia, tetapi juga membuka peluang bisnis dua perusahaan raksasa yang bergerak di bidang berbeda. Sebuah mega proyek sudah dibicarakan Hutomo dan calon besan sebagai bukti nyata kalau hubungan yang terjalin bukan main-main.


Erka masih sama seperti dulu, kerap pulang malam tanpa ada kejelasan. Tak ada yang berubah, semuanya sama. Hanya Ayleen yang mulai membatasi diri dan tak mau terlalu ikut campur lagi urusan kakaknya.

__ADS_1


Enam purnama berlalu, hari yang ditunggu semua orang akhirnya tiba. Malam itu sama seperti biasanya, Erka pulang malam lagi, mengendap-endap, dan mengetuk jendela kamar Ayleen.


"Leen, kamu sudah tidur? Ini Kak Erka, tolong buka pintunya Kak Erka tidak bawa kunci." Suara maskulin itu terdengar garang.


Ketukan di jendela mengusik lamunan Ayleen yang memang tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Gadis cantik yang sudah menamatkan SMA-nya dan kini tengah beradaptasi dengan status barunya sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas bergengsi di ibu kota.


"Leen, kamu belum tidur, kan? Lampu kamarmu masih menyala." Pria itu bersikeras.


"Leen."


Tok ... tok ... tok.


Erka tak mau menyerah, terus mengetuk dan memanggil dari luar. Hampir sepuluh menit bertahan di bawah jendela, akhirnya Ayleen bersuara.


"Ya, Kak."


Gadis itu melemah, tak tega membiarkan tubuh kekar sang kakak digerogoti angin malam. Setelah sekian lama Erka tak mengusiknya, kini pria tampan itu kembali berulah.


Samar-samar, suara Erka terdengar lagi.


"Ya, Kak." Merapikan gaun tidurnya, Ayleen bergegas keluar kamar sembari mengikat tinggi rambut panjangnya yang berantakan.


Tak butuh waktu lama, Ayleen sudah berdiri di ambang pintu dan mempersilakan pria dewasa itu masuk.


"Leen."


Erka merebah di pundak adiknya tanpa permisi. Tubuh kekar itu seperti tak bertenaga, menumpang di tubuh mungilnya.


"Aneh? Suaranya terdengar garang, tapi kenapa dia jadi selemah ini. Tak ada aroma alkhohol." Ayleen mengendus tubuh kakaknya yang terbungkus jaket kulit.


"Leen, antar aku ke kamar," titah Erka, menghentikan keheranan sang adik. "Nanti Mommy ke sini. Habis kita berdua."

__ADS_1


Semakin aneh, tidak ada tanda-tanda seperti biasanya. Ayleen mengernyit. Namun, ia tetap mendekap pinggang kekar Erka dan memapah pria itu menuju ke kamar.


Berjalan tertatih-tatih, Ayleen harus berjuang keras untuk menuntun Erka sampai di atas tempat tidur. Menjatuhkan tubuh berat kakaknya di atas tempat tidur, ia tersenyum dan bernapas lega.


"Selamat malam, Kak," cicit Ayleen, menghela napas pelan. Ia baru akan berbalik setelah menuntaskan pekerjaannya, tetapi tangan kirinya dicekal kasar dan ditarik jatuh ke atas tempat tidur.


"Aaaaah!" Teriakan Ayleen tertahan, mulutnya dibekap dengan kencang.


"Jangan berteriak, Leen." Erka tampak sepenuhnya sadar.


"Kak Erka ...." Suara Ayleen menggantung. Gadis itu berbaring pasrah, dengan Erka mengunci di atasnya.


"Aku ingin melihat adik kecilku sebelum menikah." Ucapan Erka tak menunjukkan kalau pria itu sedang dikuasai minuman keras seperti biasa.


"Kak Erka ... kenapa?"


Tidak ada jawaban, Erka meneliti paras cantik yang berhias rambut panjang tergerai berantakan.


"Kak ...." Suara Ayleen terdengar bergetar kalau Erka memberi jarak dan memperhatikan Ayleen dengan saksama. Ditelitinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kak." Ayleen berusaha menurunkan gaun tidurnya yang tersingkap.


"Aku akan menikah sebentar lagi. Tak bisa lagi memanjakanmu seperti dulu." Erka terkekeh.


"Kak Erka kenapa?" Ayleen bingung. Jantungnya berdetak kencang kala mendapati tatapan Erka semakin aneh. Sorot mata elang pria itu tak seteduh biasanya.


Tak ada jawaban, Erka hanya menatap lekat wajah Ayleen dan tersenyum. Menurunkan wajahnya dan menghadiahkan kecupan di kening dan kedua pipi.


"Selamat malam, Xiăo Mèimei."


"Selamat malam Kak Er ...." Mata Ayleen membola sempurna. Ia tak sanggup menyelesaikan ucapannya, Erka sudah lebih dulu membungkamnya dengan cara tak biasa.

__ADS_1


__ADS_2