Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 59


__ADS_3

Setelah beberapa hari tak kembali ke rumah, Erka akhirnya melangkah kaki ke dalam kamar tidur yang selama ini ditempatinya bersama Cindy. Aroma wanita yang telah tiada itu masih tertinggal. Bahkan, ruangan itu masih sama berantakannya, persis seperti saat mereka bertengkar di mana maut menjemput.


“Kenapa kejam padaku, Baby?” Erka mendekap penyesalan seorang diri, mengempaskan bokongnya di bibir tempat tidur. Pandangan pria itu menerawang jauh.


Setelah berbulan-bulan terlibat perang dingin dengan Cindy, akhirnya tiba di hari ini. Kebebasan yang dituntutnya selama ini sudah ada di dalam genggaman, tetapi dengan cara yang tidak terbayang selama ini.


Demikian juga dengan Cindy, berusaha meminta maaf dan memohon pengertian, akhirnya ia mendapatkannya. Bahkan, Erka pun mengabulkan impian sang istri mengenai bayi merah yang baru lahir.


“Aku harap kamu tenang di sana. Aku sudah mengabulkan semuanya. Dayana membawa namaku, keluargaku, aku janji akan memperlakukan dan menyayanginya seperti putriku sendiri. Aku janji.” Erka merebahkan tubuh lelahnya di atas pembaringan. Beberapa hari ini tak beristirahat dengan baik, kini saatnya membayar semua lelah dengan tidur sepuasnya.


♡♡♡

__ADS_1


Malam kian larut, udara dingin menusuk tulang. Sesosok pria dewasa tampak meringkuk di atas peraduan lengkap dengan kemeja dan celana denim hitam. Ia belum berganti pakaian sejak kembali dari pemakaman, tak juga mengisi perutnya yang berontak minta perhatian.


Dalam tidur, Erka tampak risau. Mimiknya berubah- ubah, tak ada satu pun yang menunjukkan kedamaian. Terkadang dahi berkerut, tak lama garis rahang mengeras. Tampak sekali mimpi buruk tengah menguasai. Bibir pun ikut bersuara tak jelas. Keadaan ini masih berlangsung hingga suara tangis terdengar kencang dari luar kamar.


Awalnya, Erka tak terusik sama sekali. Masih nyaman bertualang di alam mimpi. Namun, saat suara Dayana terdengar semakin kencang, lelap pria itu pun terusik. Refleks, ia terseret ke alam nyata dan membuka mata.


“Suara apa itu?” Erka bermonolog. “Seperti suara tangis bayi,” lanjutnya, masih mencari tahu.


Sret. Disibaknya selimut dengan kasar, Erka melompat turun dan menghambur keluar untuk memastikan kalau tangisan itu milik bayi mungilnya.


Bergegas keluar kamar untuk mencari tahu, Erka tersentak kala mendapati Ayleen dan pengasuh tengah berjuang menenangkan Dayana.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Setelah mengamati dalam diam, Erka bersuara. Tatapan menyelidik berpindah dari Ayleen dan gadis mudah berprofesi babysitter .


“Tidak ada masalah, Pak. Semua aman terkendali saat ini.” Pengasuh berusaha merendam jantungnya yang berdetak tak karuan. 


“Kalau aman kenapa tidak beristirahat,” cerocos Erka. Berjalan mendekati bayi merah yang didekap bergantian oleh Ayleen dan Mbak pengasuh.


Beberapa hari tanpa kehadiran Erka di rumah, ia bisa bernapas lega. Pengasuh Dayana masih mengingat jelas pertengkaran dan kekacauan yang dilakukan kedua majikannya di malam sebelum kepergian Cindy. Bisa dikatakan, hanya ia yang sempat ia adalah saksi mata semua kejadian ini.


“Mungkin lapar, Leen.” Erka mengingatkan.


Ayleen menggeleng. “Baru saja Dayana menghabiskan susu satu botol. Aku takutnya muntah, seperti yang sudah-sudah.” Ayleen menimang bayi merah itu sambil berdiri. Mulai terlatih berbagi tugas bersama pengasuh, tak mungkin membiarkan Daddy dan Mommy terganggu, apalagi sampai terbangun.

__ADS_1


“Lalu dia mau apa?” Erka bertanya dengan polosnya.


__ADS_2