
“Keluar!” usir Erka pada asistennya.
“Ka, jangan begini. Kasihan dia.” Erick melirik ke arah Ayleen dengan ekor matanya. Kekhawatiran lebih ditujukan pada gadis polos itu ketimbang Erka yang sedang meledak-ledak.
“Keluar! Ini urusanku!” usir Erka. Pria itu berbalik dan melepaskan diri dari cekalan asistennya. Keadaan berbalik, dengan mudahnya ia mendorong tubuh kekar Erick keluar dari ruangannya dan menutup pintu dengan kencang serta menguncinya hingga tak ada yang bisa masuk.
Ia butuh ruang privacy untuk bicara empat mata dengan Ayleen. Tak mau diganggu siapa pun yang tak berkepentingan.
Suara pintu terbanting membuat Ayleen bergidik. Buru-buru ia berdiri, surat Cindy terlepas dari genggaman. Ia tak pernah melihat Erka yang seperti ini.
“Kak.” Suara pelan Ayleen bergetar. Gadis manis itu cepat-cepat menurunkan pandangannya. Tak berani beradu tatap dengan Erka.
“Beraninya kamu, Leen!” tegak Erka. Sorot mata pria itu seakan siap menerkam mangsanya.
Ayleen bergidik, tubuhnya gemetar hebat. Sejenak, tatapannya tertuju pada sehelai kertas berisi tulisan tangan Cindy yang kini menghuni lantai.
“Ma-maafkan aku, Kak.” Gadis itu seakan paham asal mula kemarahan Erka. Menyadari kesalahannya, ia memilih meminta maaf walau belum ada kejelasan.
“Tahu kesalahanmu apa?”
__ADS_1
Bungkam adalah pilihan Ayleen saat ini. Tak berani bersuara, ia takut jawabannya kian memancing amarah.
Gedoran pintu dan suara Erick mendadak hilang. Entah ke mana perginya asisten itu setelah sejak tadi berjuang menyadarkan Erka dari luar ruangan.
“Jawab!” teriak Erka.
“Maafkan aku, Kak. Tidak sengaja membaca surat dari Kak Cindy.” Ayleen menjawab dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar menyesal telah lancang membaca surat peninggalan dari mendiang kakak iparnya. Pikirnya bukan masalah besar, ternyata Erka bisa mengamuk seperti ini.
“Apa saja yang kamu ketahui?” Erka kembali menggertak.
“Tidak ada, Kak.”
“Tidak ada, Kak. Aku tidak tahu apa-apa.” Dibentak Erka, mendadak air mata Ayleen berderai. Ingin terlihat kuat, tetapi ia tak bisa.
“Aku tidak percaya padamu!” tegas Erka. Pria itu baru saja memulai pembahasan proyek baru dengan Erick saat tanpa sengaja jemarinya membuka CCTV di ruang kerja yang terkoneksi dengan ponsel pintarnya.
Darahnya mendidih, dada pun bergejolak ketika mendapati kelancangan Ayleen. Membuka surat peninggalan Cindy yang disimpannya rapat-rapat di laci meja kerja.
“Jawab!” Erka berjalan mendekat dan mencekal pergelangan tangan Ayleen.
__ADS_1
Tak ada pemberontakan, Erka menyeret gadis itu dan menghempaskannya di sofa. Ayleen terduduk dan tersentak ketika dipaksa duduk dengan kasar.
“Ma-maaf, Kak.” Ayleen menunduk.
“Cukup jawab saja apa yang kamu ketahui. Aku usahakan memberimu maaf.” Erka menegaskan. Menjatuhkan bokongnya di sofa, ia duduk dan melipatkan tangan di dada sembari menunggu jawaban.
“Aku-aku tidak membaca sampai selesai.”
“Bohong! Aku tidak suka dimata-matai, aku tidak suka dicurigai, aku tidak suka dibohongi. Aku tidak suka dicurangi. Aku tidak suka diselingkuhi! Kita akan menikah, aku harap kamu tahu semua hal yang tidak aku sukai jadi tidak mengulanginya lagi.
“Ya, Kak.”
“Sekarang, jawab saja. Apa yang kamu ketahui. Aku ingin tahu, seberapa banyak kamu masuk ke dalam kehidupanku dan Cindy.” Suara Erka melunak, ia mulai tidak tega saat air mata Ayleen mengalir terus menerus.
Ayleen menggeleng. “Aku tidak tahu apa-apa, Kak.”
“Leen, aku tidak suka dibohongi.” Tatapan Erka mengiris lawannya.
“Kak Cindy meninggal bunuh diri,” ungkap Ayleen ragu-ragu. Benar begitu, Kak?” Ayleen mengusap kasar wajahnya yang basah.
__ADS_1