
Bab 45. Menikahi Kakak Angkatku.
Memutuskan kembali ke Jakarta tanpa memberi tahu Ayleen, Erka patah hati saat diusir tanpa diberi kesempatan menjelaskan. Dua kali ditolak, dua kali pula merasakan kekecewaan yang sama.
Pria itu masih mengingat jelas penolakan Ayleen di malam sebelum kepindahan ke Bandung. Gadis itu juga menolaknya tanpa perasaan. Kini, ia mengalami lagi dan masih sesakit sebelumnya.
Rembulan mulai naik ketika Ayleen keluar kamar setelah merenung berjam-jam. Perutnya keroncongan, sepanjang siang karena menolak keluar kamar demi tidak bertemu dengan kakaknya. Namun, saat gelap datang, kesunyian menyapa dan menimbulkan tanya.
“Mbak, Kak Erka di mana?” Ayleen heran saat melihat sajian yang dihidangkan di atas meja masih utuh tak tersentuh.
Wanita muda yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga menggeleng pelan. Tak tahu menahu dan tak memiliki keberanian bertanya pada putra sang majikan.
“Tadi sore keluar tergesa-gesa. Sampai sekarang belum kembali.” Asisten rumah menjelaskan.
“Hah?” Ayleen terkejut. Perasaan gadis itu tidak enak. Perdebatan mereka beberapa jam sebelumnya menyisakan beban di hati. Ada secuil sesal telah mengasari Erka. Kakak yang harusnya dihormati, tetapi diusirnya tanpa perasaan.
“Apa Kak Erka pergi karena tersinggung?” Ayleen bermonolog.
Asisten rumah yang ikut mendengar tampak bingung. Ia juga tidak tahu banyak hingga tak bisa berbagi informasi.
“Sudah lama perginya, Mbak?”
__ADS_1
“Lumayan. Tak lama setelah Non Ayleen pulang kuliah. Pak Erka keluar dengan tergesa-gesa. Sampai sekarang belum kembali.”
“Apa terjadi sesuatu padanya?” Ayleen panik. Sekelebat kejadian beberapa jam lalu muncul lagi. “Apa dia akan bersikap dingin lagi?” Teringat, dua kali bermasalah dengan sang kakak dan berakhir dengan sikap dingin Erka.
Rasa lapar menyerang lambung sejak tadi mendadak hilang, selera makan hilang. Aroma makanan di atas meja tak cukup menggelitik. Ayleen berbalik ke kamar untuk mengambil ponsel. Ia harus menghubungi Erka dan memastikan pria itu baik-baik saja.
Nada sambung sedikit menenangkan, tetapi tak berlangsung lama. Ayleen panik kala nada sambung berakhir dan Erka tak menjawab panggilan.
“Kak Erka ke mana?” Kekhawatiran Ayleen kian bertambah saat menyadari jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.30 malam.
“Mbak, coba tanyakan security depan dan asisten rumah yang lain. Siapa tahu ada yang mengetahui keberadaan Kak Erka,” titah Ayleen.
“Bagaimana, Mbak?” Ayleen tak sabar.
“Tidak ada yang tahu. Bapak-bapak di depan tidak diberitahu.”
“Waduh! Ponselnya tidak diangkat.” Ayleen berkata lirih.
“Tapi, masuk, kan?” Asisten rumah memastikan.
“Masuk, Mbak. Cuma tidak diangkat.”
__ADS_1
“Mungkin Pak Erka sedang ada urusan. Nanti juga pulang, Non. Jangan khawatir. Makanannya mau dipanaskan?”
Ayleen menggeleng. Tubuhnya lemas, rasa lapar pun hilang. Melangkah gontai kembali ke kamar, ia berbalik dan berpesan.
“Mbak, disimpan saja makanannya. Aku sudah tidak lapar.” Helaan napas panjang menandakan perasaan gadis itu sedang tidak baik.
Hingga malam merangkak naik, keberadaan Erka masih belum diketahui. Di titik ini Ayleen dilanda ketakutan. Berbagai hal buruk hadir tanpa diminta. Sampai ia tak sanggup dan memilih menghubungi Veronica di tengah malam buta.
...♡♡♡...
“Mom.” Ayleen terisak.
Veronica masih belum sepenuhnya sadar. Wanita tua itu sudah terlelap saat ponselnya berdering di dekat sofa. Ia terpaksa tidur di rumah sakit menemani Cindy selama Erka menghilang.
“Leen, ada apa? Kamu belum tidur?” Veronica panik.
Tak ada jawaban, hanya suara tangisan mengusik kantuk.
“Leen, kamu menangis? Ada apa?” Veronica mencecar pertanyaan.
“Mom, Kak Erka.”
__ADS_1