Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 46


__ADS_3

Veronica bingung. Begitu nama Erka disebut, kantuknya hilang. “A-apa? Ada apa dengan Erka?”


“Kak Erka hilang, Mom. Tadi siang pergi tanpa pamit dan sampai sekarang belum kembali. Ini sudah malam. Aku khawatir.”


Veronica menyimak. Ia belum sepenuhnya paham dengan apa yang disampaikan Ayleen.


“Ba-bagaimana maksudnya? Bicara pelan-pelan, Leen. Jangan menangis.” Veronica menenangkan.”


Suara isak terdengar melemah, Ayleen butuh waktu menenangkan diri sebelum menjawab. “Kak Erka sejak kemarin di sini, Mom.”


“Hah!” Tentu saja Veronica terkejut. “Bagaimana bisa? Istrinya bertarung nyawa di Jakarta dan dia pergi ke Bandung. Apa maunya anak itu?” Veronica kesal.


“Untuk apa dia ke Bandung?”


“Katanya ada pekerjaan, Mom.”


“Kelewatan!” umpat Veronica melampiaskan kesalnya. Ia dan Hutomo berjaga di rumah sakit dan putranya menyusul ke Bandung tanpa alasan.


Di tengah luapan emosi, Veronica teringat sesuatu. Kemarahan berganti khawatir. Meninggalkan putri bungsunya sendirian di Kota Kembang, bisa saja Erka merencanakan sesuatu.


“Leen, apa Erka melakukan sesuatu?” Veronica bingung bagaimana menyampaikan keresahan.


“Tidak ada, Mom.”


“Bukan, mak-maksud Mommy, apa dia mengganggumu?” 

__ADS_1


“Tidak Mom.”


“Lalu, apa yang terjadi?” 


“Tadi sore, Kak Erka pergi dan sampai malam tidak kembali. Tidak mengabariku. Ponselnya pun tidak diangkat, Mom.”


“Tapi, aktif?” 


“Aktif, Mom.” Ayleen menjawab cepat.


“Mungkin ....” Veronica menggigit bibir bawahnya. Tatapan sendunya tertuju pada Cindy. Menantunya sedang lelap di atas brankar. Apa pun yang terjadi pada Erka, wanita yang baru saja melahirkan cucu untuk mereka adalah yang paling disakiti. Tak bisa membayangkan andai berada di posisi yang sama.


“Aku takut terjadi hal buruk pada Kak Erka. Tidak biasanya seperti ini, Mom.”


Mata wanita berusia senja itu membulat sempurna saat mengenali siapa yang telah berjalan masuk ke dalam kamar.


“Erka?” 


“Mom, Kak Erka di sana?” Ayleen yang menangkap suara lemah mommy-nya bisa bernapas lega.


“Mom, apa Kak Erka pulang ke Jakarta?” ulang Ayleen.


“Ya, Leen. Erka di sini.” Veronica menatap putra tertuanya tak berkedip. “Mommy matikan dulu panggilannya. Jangan menangis lagi. Erka di sini. Sehat dan tidak kekurangan apa pun.” Mematikan sambungan telepon sepihak, Veronica berjalan mendekati putranya.


Tak menyapa apa lagi bertanya, Mommy dari Erka, Ersa, dan Ayleen tiba-tiba mengangkat tangan ke udara dan melabuhkannya di wajah sang putra.

__ADS_1


Plak.


Tamparan yang tidak diduga sebelumnya, Erka tak bisa mengelak. Pria itu hanya menikmati rasa perih di pipi yang sejalan dengan nyeri di hatinya. Takdir menyeretnya di dalam situasi ini, membiarkan ia merasakan sakit tanpa bisa menolak. 


“Mom.” Suara Erka menggantung.


“Apa yang kamu inginkan, Ka? Aku sudah menyodorkannya untukmu. Kamu ingat, kamu menolaknya. Kini, di saat ada wanita lain di dalam hidupmu ... kamu malah memilih mengejarnya lagi. Kalau ada yang dikorbankan di sini. Cindy orangnya. Wanita yang berjuang melahirkan bayimu dan tak mendapat perhatian.”


“Maaf, Mom.”


“Urusi istrimu!” titah Veronica. “Kamu yang membawanya masuk ke dalam hidupmu. Perlakukan dengan baik.” Veronica masih memarahi putranya. “Tak ada yang memaksamu menikahi Cindy.” Veronica kesal.


“Aku tahu, Mom. Tadinya ... aku pikir bisa menjalaninya seperti yang selama ini aku lakukan bersama wanita-wanita di luar sana. Tapi, ternyata tidak bisa. Aku jatuh cinta untuk pertama kali.”


Veronica menggeleng. “Tidak perlu diteruskan.


“Tidak, Mom. Mommy harus tahu. Aku tahu aku salah. Tapi, cintaku tak pernah salah. Bukan Cindy orangnya, Mom.”


“Tidak perlu diteruskan. Kalau sampai istrimu mendengar, hanya akan menoreh luka di hati ibu dari putrimu.”


Cindy yang sejak tadi terjaga karena suara ponsel, tiba-tiba menitikkan air mata.


...♡♡♡...


...Yang mau intip-intip spoiler di instagram : casanova_wety.s.hartanto...

__ADS_1


__ADS_2