Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 57


__ADS_3

Suasana pemakaman diiringi gerimis kecil. Ayleen yang ikut hadir membawa Dayana atas permintaan Erka hanya bisa mendekap bayi mungil itu dengan berurai air mata. Rintik hujan kian deras, berkolaborasi dengan air mata para pelayat dan keluarga yang ikut mengantar Cindy ke rumah abadinya.


“Kenapa pulas sekali?” Mami Cindy tampak menyapa dengan wajah sembab. Kepergian putrinya yang begitu cepat di usia terbilang muda membuat semua orang bersedih. Apalagi setiap melihat Dayana yang tertidur pulang di dekapan Ayleen.


“Semalaman rewel, Oma. Tidak tidur sama sekali.” Ayleen menjelaskan. “Menangis dan menjerit. Aku dan Mbak di buat bingung.” 


“Oh. Terima kasih sudah mau mengurus Dayana.” Wanita cantik di usia tak muda lagi itu mengusap punggung Ayleen untuk menyemangati.


Sebenarnya Dayana tidak perlu hadir di pemakaman. Mengingat bayi merah itu baru saja lahir ke dunia. Namun, Erka bersikeras agar bayi mungil itu tetap hadir demi Cindy. Ini kenangan terakhir, sebisa mungkin ia akan memberi kebahagiaan yang tidak didapatkan selama terikat pernikahan dengannya.


Acara pemakaman berlangsung lancar tanpa banyak drama. Berangsur-angsur para pelayat berpakaian hitam dan putih yang tadi memenuhi kursi-kursi di bawah tenda itu berpamitan dan menyisakan keluarga inti.

__ADS_1


“Ka, yang sabar, Nak. Ini yang terjadi, ikhlaskan.” Veronica bisa melihat selama beberapa hari ini Erka terpukul. Walau putra tertuanya itu tak banyak bicara, tetapi terbaca oleh mata dan hati semua orang kalau pria gagah itu sedang lemah.


“Ya, Mom. Dayana mana?” Erka berbalik dan mencari keberadaan bayi yang menjadi pusat perhatian semua orang.


“Tuh, rewel sekali. Semalaman menangis, satu rumah dibuat repot.”


“Mungkin dia mulai terbiasa dengan Cindy. Jadi saat tidak mencium aroma mamanya, bayi itu mencari. Selama ini, kalau malam Cindy mengurus Dayana sendiri.”


“Selama ini Cindy memberi bayi itu ASI. Mungkin butuh waktu.” Dipandanginya Ayleen yang duduk sembari mendekap Dayana di bawah tenda. Kemudian pria itu berbalik memandang nisan batu terukir nama Cindy Hariwijaya.


Berjalan mendekat dan bersimpuh di sisi gundukan tanah, Erka mengirim banyak doa dan mencoba bicara. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan isi hatinya saat ini adalah penyesalan.

__ADS_1


Ia menyesal telah menyeret Cindy masuk ke dalam hidupnya walau sejak awal sudah ada kesepakatan bersama kalau hubungan mereka tidak berlandaskan cinta. Hanya saling menguntungkan dan kebutuhan. Namun, pada praktiknya wanita yang kini telah menyatu dengan tanah itu terpeleset, mulai menggoda dalam berbagai cara dan gaya.


Maafkan aku, Cindy. Aku janji akan merawat putrimu seperti putriku. Aku sudah mengabulkan keinginanmu. Dayana Arkasa Hutomo Putri, aku sudah memberi namaku untuk putrimu. 


Erka memejamkan mata, mengingat semua hal yang dilewatinya bersama Cindy. Dari perkenalan, berteman hingga diseret menjadi istri. Pertengkaran, ancaman, kemarahan, dan tangisan mewarnai pernikahan mereka yang seumur jagung.


Tak banyak kata yang bisa aku kirim untukmu selain doa. Tenanglah di sana, semoga mendapat tempat terindah. Terima kasih untuk pernikahan kita. Terima kasih sudah diizinkan mengenalmu. Aku tahu kamu terpaksa mengambil langkah ini untuk menyelamatkan keluarga dan dirimu sendiri. Maafkan aku, Cindy. Maaf.


Air mata Erka menetes dengan sendiri. Tampak pria itu mengusap dengan ujung telunjuk dan mencoba terlihat biasa-biasa saja.


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2