
“Loh, Kak Erka masih di sini?” Ayleen melayangkan tanya sebelum mendapatkan semprotan.
Erka tak menjawab. Berjalan mendahului menuju ke lantai satu dan bersiap ke halaman rumah untuk menjalankan mobilnya.
“Kak, bukannya tadi ....”
“Jangan berisik. Aku mengantuk, Leen. Menunggumu terlalu lama.” Erka sudah menuruni tangga, disusul Ayleen mengekor di belakang.
“Kenapa menungguku, Kak. Aku tidak apa-apa berangkat dengan taksi.”
“Sudah. Diam, Leen. Jangan banyak bicara. Berangkat sekarang, nanti aku terlambat.
Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Ayleen tak berani bicara. Perpisahan selama hampir setahun menciptakan rasa canggung dengan sendirinya. Ia tak bisa bersikap seperti dulu lagi.
“Pulang jam berapa?” Erka bersuara setelah menempuh setengah perjalanan.
“Em ... jam satu, Kak.” Ayleen melirik ke sebelah. Tak berani menatap sang kakak terang-terangan.
“Aku usahakan menjemputmu.” Erka menoleh ke kursi belakang dari kaca spion dan bersuara kembali.
.
“Ada kotak bekal di kursi belakang. Aku tahu kalau kamu tak akan sempat sarapan, Leen. Ambil dan nikmati saja. Tadi, aku minta asisten rumah mengisinya untukmu.” Erka tetap fokus dengan jalan raya, sesekali melirik gadis cantik tak berkutik dengan sikap dinginnya.
Maafkan aku, Leen. Aku punya alasan kenapa seperti ini.
Erka memandang lurus ke depan. Mobilnya saat ini bergerak maju, tetapi hatinya tengah kilas balik dan berputar ulang ke masa lalu. Semua kenangan masa kecil, remaja hingga detik-detik sebelum pernikahan berputar ulang. Ada banyak penyesalan yang ingin diulangnya jika masih memiliki kesempatan.
Andai Erka bisa menulis ulang sejarah, ia ingin meluruskan apa yang selama ini salah. Salah satunya adalah pernikahannya dan Cindy. Kesalahan terbesar yang membebani hidupnya setahun belakangan.
__ADS_1
“Putrimu cantik, Kak.” Ayleen mencoba memancing pembicaraan. Ia berjuang mengempaskan canggung yang selama ini menciptakan jarak di antara mereka.
“Oh.”
Reaksi singkat di luar dugaan, Ayleen nyaris tak percaya dengan sikap kakaknya.
“Kalau libur, aku akan mengunjunginya, Kak.”
“Tak perlu repot-repot, Leen.” Erka masih fokus dengan kemudi dan jalanan.
Suasana mulai terurai, tak setegang sebelumnya. Obrolan-obrolan selanjutnya terasa mengalir, Ayleen pun lebih berani melontarkan tanyanya.
“Leen, bagaimana hubunganmu dan Ersa?” Erka memberanikan diri mengulik lebih jauh. Berpura-pura menjadi kakak yang baik dan sok peduli.
“Baik.” Ayleen menoleh sekilas. Wajah tampan Erka masih sama menawannya seperti sebelum menikah.
Di tengah obrolan, ponsel di saku celana Erka mendadak berdering. Pria itu cemberut sembari memperlambat laju mobilnya saat nama Cindy muncul di tengah layar berkedip-kedip.
“Ya.” Erka menoleh ke penumpang cantik di sebelahnya.
“Honey, kapan kembali?” Suara Cindy terdengar berbisik. Nada bicara itu pun seperti memikul beban berat.
“Aku belum tahu. Kenapa?” Erka menautkan alisnya, tampak berpikir keras.
“Cepat kembali. Aku bingung harus menjawab apa pada Mommy dan Daddy. Mereka menanyakan keberadaanmu sejak kemarin, Honey.” Suara Cindy terdengar memelas. Tak ada kekesalan atau kecewa dari nada bicara ibu muda itu.
“Abaikan saja. Kalau lelah mereka akan diam sendiri.” Erka menjawab santai.
“Aku mohon, Honey. Aku tahu ... kamu kecewa padaku. Tapi, bukan seperti ini ....”
__ADS_1
“Tunggu!” Erka menghentikan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan yang sepi. Tak lama, terlihat ia keluar dari dalam mobil dan meninggalkan Ayleen dalam kebingungan.
Masih menggenggam ponselnya, ia bergerak menjauh beberapa meter, tak ingin suaranya terdengar Ayleen.
“Aku tidak mau basa-basi lagi. Kita sudahi secepatnya. Saat anakmu lahir, itu artinya kamu harus angkat kaki dari hidupku.”
“Aku mohon, Honey. Jangan marah, Sayang.” Cindy masih dengan suara memohon.
Tawa Erka pecah. Butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri.
“Ehem.” Pria itu mulai serius lagi. “Kalau selama ini kamu mengancamku karena Ayleen, ganti aku sekarang.” Erka menghela napas berulang. “Tanda tangani surat cerai kita, kalau tidak ... skandalmu akan tersebar. Bukan cuma perusahaanmu, keluargamu juga akan hancur dalam sekejap.” Erka mengancam.
“Kalau aku tidak mau?” Cindy menantang.
“Terima akibatnya. Jangan menyesal kalau semua harus terjadi dan tak seperti mimpimu.”
“Aku tidak mau berpisah, Honey.”
“Sejak awal aku memang tak berniat serius.” Erka menegaskan.
“Jadi ... aku harus bagaimana?” Cindy berkata lirih.
“Kita berpisah dan kehidupanmu aman, termasuk putrimu. Aku janji tidak akan mengusikmu lagi setelah ini.”
...♧♧♧...
Hai, sambil nunggu up, bisa mampir di karya temanku ya.
__ADS_1