Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 68


__ADS_3

“Ayleen putriku. Aku sudah mengenalnya luar dalam. Andai dia berani macam-macam pada Dayana, aku akan mengomelinya. Lalu, bagaimana kalau Erka menikah dengan wanita lain? Andai rasa sayangnya hanya sebatas bibir dan menyakiti cucuku.” Veronica menggeleng.


“Tak ada yang lebih tepat selain Ayleen untuk saat ini. Dia yang terbaik untuk Erka dan Dayana.” Kalimat penuh penegasan itu ditujukan pada Ersa.


Setelah tak lagi terdengar protes, Hutomo kembali bicara. Pria tua yang masih terlihat berwibawa itu menyunggingkan senyuman.


“Tidak perlu menjawabnya sekarang, kamu bisa memikirkan untung ruginya, benar atau tidak yang aku paparkan tadi.” 


Berikan aku keputusanmu paling lambat besok pagi. Aku harus secepatnya kembali ke Bandung, Ka." Hutomo bangkit dari kursi setelah mengosongkan mangkuk serealnya.


...•••...


Erka baru saja masuk ke dalam kamarnya, ia harus bersiap-siap ke kantor saat Ersa menerjang masuk tanpa permisi. Pria muda dengan garis wajah mengeras itu tampak tidak terima dengan apa yang disampaikan Hutomo di meja makan.


“Ka, apa keputusanmu?” Berdiri dengan kedua tangan melipat di dada, Ersa menunggu jawaban.


Tersenyum kecut. “Aku tidak tahu.” Erka meraih jas kerja yang tergeletak di atas tempat tidur. 

__ADS_1


“Aku harap kamu menolaknya.” Nada bicara Ersa sedikit melunak.


“Andai aku bisa ....” Pria berstatus duda itu menjawab santai.


“Hanya kamu yang bisa menolak. Karena kamu masih bisa memilih. Sedangkan Ayleen tidak. Sejak awal pembicaraan itu ditujukan untukmu, sedangkan Ayleen tak bisa berpendapat.” Ersa menegaskan.


“Coba sampaikan pada Mommy, siapa tahu mereka berubah pikiran. Aku pribadi ... tak ada masalah sama sekali. Aku nyaman dengan hidupku sekarang.” 


“Ka, aku mohon. Lepaskan Ayleen.”


“Aku tidak pernah mengikatnya.” Erka menghela napas berulang. “Coba bicarakan saja dengan Mommy dan Ayleen, jangan padaku.” Erka menegaskan. Berjalan ke luar kamar, ia mengabaikan Ersa sendirian.


Sebenarnya bukan lagi masalah menerima atau menolak, Erka yakin Daddy akan melakukan segala cara untuk bisa mencapai keinginannya. Saat ini hanya ada dua pilihan, menerima sekarang atau nanti.


...•••...


Pagi berganti siang, siang pun menyelesaikan tugasnya dan menyerahkannya pada malam. Acara makan malam di kediaman Hutomo Putra belum juga usai saat Erka bangkit dan mohon diri setelah mengacak-acak separuh isi piring.

__ADS_1


“Leen, aku tunggu di teras depan. Habiskan makan malammu dan susul aku.” Kalimat perintah itu tak menyisakan ruang untuk menolak. 


“Ya, Kak.” Ayleen menatap Hutomo dan Veronica yang juga tengah memandang ke arahnya. Gadis itu buru-buru menunduk kala mendapati senyum simpul di sudut bibir keduanya.


Pasti keduanya sudah berpikir yang bukan-bukan.


Ayleen memutuskan menghabiskan makan malamnya tanpa bicara. Ia harus segera menyusul Erka yang sedang menunggunya. Tepat setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, gadis itu berpamitan.


“Aku sudah selesai.” Ayleen bangkit. 


Ersa menatap sedih, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Entah apa yang akan dibicarakan Erka, putra kedua Hutomo itu berharap ucapannya tadi pagi bisa jadi pertimbangan. Ia mencintai Ayleen, rasanya tidak adil andai semua berjalan sesuai rencana daddy-nya.


Kepalanya mengikuti pergerakan Ayleen yang berjalan meninggalkan ruang makan, Ersa hanya bisa berdoa dalam hati.


“Sa, Daddy harap kamu mengerti. Ini bukan masalah cinta lagi. Tapi, ini yang terbaik untuk keluarga kita. Erka tak punya pilihan, tetapi kamu masih bisa memilih. Kamu bisa menemukan wanita mana pun, tetapi Erka tidak. Kondisi dan status Erka tak memungkinkan untuk itu. Dia duda dengan seorang putri, rasanya sulit untuk bisa menemukan wanita yang bisa menerima keadaannya dengan tulus. Bukan tidak ada, tetapi mungkin tidak semudah dirimu.” Hutomo menjelaskan.


Ersa diam.

__ADS_1


“Mengalahlah!”


__ADS_2